Damai dalam Badai

0
127 views

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Judul Damai dalam Badai ini terambil dari judul novel Motinggo Busye yang terbit pada tahun 1988 dan mungkin cocok bagi tulisan ini. Kita ketahui bersama bahwa tanggal 10 Juni 2009 malam, Komisi Pemilihan Umum (KPU) membuat sebuah panggung pertunjukan dengan tajuk Deklarasi Pemilu Damai 2009 dan dengan tema “Pemilu dalam Persaudaraan”.

Panggung itu kemudian diisi oleh pelakon-pelakon dari para calon presiden dan calon wakil presiden Indonesia 2009-2014. Pesan yang ingin disampaikan oleh KPU adalah bahwa siapapun yang kalah  atau menang, yang lain harus menerima kenyataan. Pesan itu lalu mendapatkan pengaminan dari semua pasangan capres dan cawapres yang akan bertarung.

Timbul pertanyaan yang meragukan ketulusan masing-masing pasangan. Pertanyaan seperti itu menjadi wajar mengingat banyaknya kisruh yang terjadi pascapemilihan umum, baik di tingkat daerah maupun tingkat nasional. Meski harus diakui bahwa protes dari mereka yang kalah juga sering benar. Namun, benarkah ada manusia yang tulus menerima kekalahan? Kita tidak perlu meragukan penerimaan mereka akan kemenangan, kan? Di situlah pengadaian akan leburnya individu ke dalam kemunitas terjadi.

Pertanyaan selanjutnya, bisakah individu lebur sedemikian rupa? Mungkin adegan para pelakon di panggung KPU itu boleh manjadi gambaran. Di sana terlihat adanya upaya masing-masing pasangan capres dan cawapres untuk menyatakan penerimaan apapun hasil Pilpres 2009. Kalah atau menang mereka tegaskan bukan masalah. Namun di antara pernyataan penerimaan itu terselip ungkapan-ungkapan-baik halus maupun vulgar-yang menonjolkan diri dan pasangannya. Bahkan di beberapa kesempatan, ungkapan-ungkapan itu lebih menonjol dari pesan damainya sendiri.

Itulah gambaran betapa sulitnya individu melebur ke dalam komunitas. Sir Muhammad Iqbal-konon pemikir Muslim paling jenius-pernah mengatakan bahwa kesendirian itu adalah kondisi primordial manusia. Dengan kata lain, keaslian manusia adalah kesediriannya (individualitasnya). Bahkan, kata Iqbal, berhadapan dengan Tuhan pun manusia tidak kehilangan eksistensinya sebagai individu; padahal Tuhan adalah pencipta. Apalagi hanya berhadapan dengan sesamanya manusia. Bisa-bisa, eksistensi individu itu tidak melebur, tapi semakin membatu.

Menarik ditunggu bagaimana individu-individu para calon itu melebur ke dalam komunitas yang menghendaki kedamaian pra dan pascapemilu. Bukan hanya para calon tapi juga simpatisannya karena bisa saja para calon bisa menerima hasil Pilpres 2009, tapi para pendukung mereka tidak bisa menerima.

Karena ternyata Iqbal, meskipun mengakui eksistensi individu, tetapi juga mengandaikan adanya tindakan komunal. Bagi Iqbal, kesadaran komunitas bisa saja dibangun. Untuk kasus umat Islam, kata Iqbal, dasar kesadaran komunitas adalah rasa cinta kepada Nabi Muhammad saw.

Jika kita mengalihkan pandangan Iqbal itu kepada kehidupan berbangsa Indonesia, maka seharusnya yang menjadi kesadaran komunitas adalah rasa cinta kepada kedamaian dan kemajuan bangsa. Apapun hasil Pilpres 2009 jangan sampai melukai rasa cinta itu.[]