Dalil

0
308 views
labs.sogeti.com

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Seperti apa jarak antara sebuah dalil dengan keputusan yang dihasilkan oleh dalil tersebut? Mungkin jaraknya jauh, memeras peluh, meneteskan darah, dan menguras air mata. Mungkin juga dekat dan bersahaja.

Mari kita bayangkan—seandainya ada—seorang penganjur kekerasan—agama apapun—dengan dalil yang dihafalkannya di luar kepala. Dalil itu lalu menjadi legitimasi bagi tindakan kekerasannya. Seperti apa jarak antara dalil tersebut dengan keputusan yang diambilnya? Mungkin jauh dan berliku.

Dihafalkannya sebuah dalil di sebuah masa remaja yang tenang.

Waktu terus berjalan dan pengalamannya sebagai manusia semakin berlapis. Ada suka, ada nestapa, mungkin juga cinta. Di antara duka yang sempat hadir, ada informasi akurat tentang kawannya seagama dianiaya dalam sebuah perjuangan menegakkan kebenaran. Lalu ada kabar terang tentang hancurnya sebuah bangsa atas nama agama dan karena agama yang dianut. Ada yang tidak beres, pikirnya.

Lalu terngiang kembali hafalan dalil di masa remaja yang tenang, namun kini dalil itu tidak lagi setenang kolam. Lapisan-lapisan pengalaman hidup memberi warna berbeda terhadap pemahaman atas dalil itu. Getir pengalaman buruk memberi warna pahit bagi pemahamannya.

Namun, tidak semua pemahaman atas dalil berlangsung berliku dan dramatis sebagaimana di atas. Ada juga yang berlangsung cukup biasa.

Mari kita bayangkan seorang yang berbeda yang juga menghafalkan sebuah dalil di sebuah masa remaja yang tenang.

Waktu terus berjalan dan lapisan demi lapisan pengalaman mengisi jalan hidupnya. Tidak begitu banyak nestapa, meski juga tidak bisa dikatakan hidupnya tanpa kekurangan apa-apa. Yang ada adalah kebiasaan-kebiasaan biasa yang datang dan pergi silih berganti. Tidak ada yang dramatis.

Dua alur kisah di atas hanyalah perumpamaan betapa ada jarak yang membentang antara sebuah dalil dengan keputusan yang dilahirkan oleh dalil itu. Jarak itu bernama: pengalaman hidup yang lalu membentuk pandangan hidup. Karena tidak ada pengalaman hidup yang persis sama, maka tidak pula pandangan hidup yang sama secara presisi. Karena itu, meski dalil yang dihadapi sama, pemaknaan atas dalil sangat mungkin berbeda.

Apa boleh buat, kehidupan manusia adalah kisah pergulatan pencarian makna. Tidak mungkin menceraikan manusia dengan makna dan upaya pencarian makna karena dengan itulah manusia ada dan karena itu pula manusia disebut manusia. Dan karena setiap makna ditentukan oleh pengalaman hidup manusia yang selalu unik tidak pernah sama satu dengan yang lain, maka makna pun demikian; selalu beragam dan berwarna. Di situlah kerendahhatian penting untuk diajukan. Kerendahhatian memungkinkan lahirnya empati dan simpati yang berujung kepada harmoni kehidupan.

Kerendahhatian adalah pemakluman bahwa ada jarak yang tidak sama antara sebuah dalil dengan keputusan yang dihasilkan oleh dalil tersebut bagi satu orang dengan orang lain dan bagi satu kelompok orang dengan kelompok yang lain.

Kerendahhatian adalah pemakluman bahwa siapapun mungkin benar sekaligus mungkin salah. Yang selalu salah hanyalah mereka yang hanya merasa selalu benar dan tidak mungkin salah.[]