Curiga

0
17 views

by Abd. Muid N.

Agama sudah lama dicurigai oleh para penentangnya sebagai biang kerok kerusakan di muka bumi. Agama juga disudutkan oleh tuduhan hanya sebagai pelarian oleh mereka yang hasrat duniawinya tidak menemukan pelampiasan nyata.

Menghadapi serangan-serangan itu, agama tidak bisa berbuat apa-apa. Agama hanya terdiri dari teks-teks membisu. Para penganutnya lah yang berbicara dan berteriak. Penganutnya lah yang harusnya membela. Ironisnya, teriakan, kata-kata, dan perbuatan penganutnya bukan memupus kecuriagaan dan tuduhan-tuduhan itu, tapi malah membantu untuk membuktikannya.

Bumi ini pernah—dan mungkin masih—disibukkan oleh para pembantai dan perusak kemanusiaan yang mengatasnamakan agama dan kalimat-kalimat agung dari kitab suci untuk tindakan brutal mereka. Banyak yang mengutuk mereka namun tidak sedikit yang memuja.

Dulu Karl Marx mencurigai agama sebagai wilayah pelarian bagi orang-orang yang hasrat duniawinya tertumbuk tembok tebal. Marx mungkin tidak menyalahkan agama. Baginya, agama hanya lah konsekuensi pilihan pragmatis saat realitas tidak lagi mudah ditaklukkan. Dalam hal ini, agama hanyalah korban atau objek pelampiasan kegagalan manusia. Marx hanya mengutuk mereka yang telah memanfaatkan agama untuk kepentingan sosial, politik, dan ekonomi mereka lalu mencekoki para penganut agama dengan dalil-dalil agar penganut itu terlena dalam kebodohan dan mudah digerakkan—atau dibikin tidak bergerak—untuk kepentingan sesaat.

Sekali lagi, agama tidak bisa berbuat apa-apa. Agama hanya menyediakan teks-teks membisu.

Manusia memang makhluk yang penuh salah karena manusia bukan malaikat yang tidak pernah salah. Namun yang menjadi masalah besar adalah ketika kerusakan itu ditimbulkan atas nama kesucian agama dan keagungan ayat-ayat, sedangkan ayat-ayat itu hanya membisu. Lalu, salahkah jika agama dicurigai sebagai biang kerok kekacauan dunia?

Persoalan yang kasat mata maupun yang tidak selalu membutuhkan solusi konkret. Namun kadang persoalan yang datang bergelombang tidak cukup kuat ditanggulangi oleh solusi yang hanya berupa riak-riak kecil. Jadilah realitas menjadi tidak tertanggulangi. Agama pun jadi pelarian. Ayat-ayat didengungkan sebagai tempat bersembunyi dari kenyataan lalu ditafsirkan sesuai kepentingan.

Sekali lagi, agama tidak bisa berbuat apa-apa. Agama hanya menyediakan teks-teks membisu. Lalu salahkah jika ada yang mengatakan bahwa agama hanya pelarian? Tidak selalu salah.

Masyarakat urban punya ciri khasnya sendiri. Mereka terbuka pada perubahan dan agak alergi kepada dogma-dogma kaku. Jadinya, umumnya masyarakat Muslim urban beragama dengan cara yang cair. Meski umumnya beragama dengan cair, masyarakat Muslim urban memiliki sayap kiri yang beragama dengan liberal dan sayap kanan yang beragama secara konservatif-didaktik. Kedua sayap inilah yang sering menjadi buah bibir, meski bukan yang dominan karena yang dominan sesungguhnya yang berada di antara keduanya.

Entah mana di antara sayap kanan atau sayap kiri yang paling sering menjadikan agama sebagai pelarian, namun layak dipertimbangkan fenomena perpolitikan tanah air yang belakangan semakin kencang menghembuskan pentingnya formalitas.

Patut dicurigai hembusan angin kencang formalisasi dalam beragama adalah bentuk hasrat yang putus harapan akibat membentur tembok keras subtansi yang tidak juga mampu mereka taklukkan. Penganut kadang agama gagal menerjemahkan secara wajar ajaran agama yang mereka anut dan mereka kalah. Lalu mereka sibuk menyalahkan orang lain (biasanya lewat teori konspirasi) dan lupa memeriksa jangan-jangan salah ada pada diri mereka. Cara yang paling gampang dari semua kegagalan dan sikap malas berfikir itu adalah membombardir segala persoalan dengan ayat-ayat suci dengan tafsiran kaku dan simplistis.

Lalu berteriak di jalanan.[]