Cerita Cerai

0
66 views

Oleh Abd. Muid N.

Seorang kawan bercerita kepada kami tentang dia cerai dengan istrinya dengan cara yang lucu. Dia tertawa. Dan kami pun ikut tertawa. Bukankah aneh menyimak perceraian dengan tidak bersedih bahkan tertawa? Bukankah itu seharusnya menjadi peristiwa mengharu biru karena luka yang ditorehkan?

Memang sepertinya waktu bisa menyembuhkan luka, apapun bentuknya, sedalam apa pun, cepat atau lambat. Luka hanya terasa amat perih saat dialami. Saat sudah menjadi cerita, sebuah luka bukan lagi luka, tetapi “cerita tentang luka” yang rasanya bisa saja membuat ketawa atau melahirkan sekumpulan fatwa.

Nabi Muhammad saw pernah menegaskan bahwa perceraian (thalâq) adalah satu-satunya hal yang halal tetapi paling dibenci oleh Allah swt. Penegasan bahwa cerai itu barang halal menyiratkan pengakuan Tuhan bahwa banyak saat ketika cerai adalah jalan satu-satunya yang harus ditempuh oleh kalangan suami-isteri ketika jalan lain sudah buntu. Namun dengan menyebutnya sebagai sesuatu yang dibenci, Tuhan juga ingin mengirim pesan, mengapa harus cerai? Mengapa tidak menempuh jalan lain? Mana peran orang tua? Mana masukan dari kawan seiman? Mana peran hakim? Bagaimana masa depan anak-anak? Bahkan Tuhan pun membuka jalur komunikasi.

Di tempat lain dalam al-Quran, Tuhan menegaskan bahwa seseorang tidak mungkin diberi beban yang tidak mampu ditanggungnya. Sedalam-dalamnya luka akibat perceraian, ia adalah luka yang mampu ditanggung oleh pelakunya. Bahkan banyak kasus perceraian lebih merupakan penyembuh luka daripada pendalam luka. Kawan saya mungkin berada pada kelompok pertama. Karena itu, dia tertawa dan kami pun tertawa.

Ini adalah gambara betapa aturan-aturan hidup yang terambil dari al-Quran atau Hadits tidak serta-merta jatuh ke bumi menggebrak segala yang sudah ada lalu bersikap sebagi pengganti satu-satunya. Selalu ada hubungan timbal balik dan dialog antara aturan Ilahi dengan kondisi faktual kehidupan manusia yang memungkinkan aturan berlaku fleksibel tanpa melupakan tujuan penetapan aturan itu sendiri.

Sulit membayangkan bagaimana kehidupan manusia jika karena dibenci, maka perceraian menjadi haram secara mutlak lalu mereka yang kehidupan rumah tangganya bermasalah hidup dalam keterpaksaan. Atau karena boleh, maka aturan perceraian dibuka selebar-lebarnya dan membuat orang-orang begitu gampang bercerai.

Setelah menempuh berbagai cara untuk meneguhkan mahligai rumah tangganya yang semakin hari semakin rapuh, kawan saya itu bercerai. Dan dia tertawa. Bukan karena perceraian itu tidak menorehkan luka, tetapi karena aturan-aturan agama pun tahu bahwa perjalanan waktu bisa menyembuhkan luka. Dan kami sedang menertawai cerita tentang perceraian, bukan perceraiannya. Karena, kepadamu cerai, kami takut.[]