Cahaya

0
110 views

Oleh Abd. Muid N.

Ada suatu masa ketika umat Muslim tergoda untuk melakukan cara interpretasi berbeda terhadap agama mereka, khususnya tentang Ketuhanan. Maksud berbeda di sini adalah berbeda dengan pemahaman yang sebelumnya telah sampai pada mereka lewat guru-guru mereka. Lalu godaan ini semakin menguat saat mereka menemukan di suatu tempat, di Bizantium, sebuah kerajaan yang terpengaruh cara berfikir Yunani, pemikiran yang mampu membuat mereka menoleh kembali kepada ajaran agama Islam dengan cara yang sama sekali berbeda.

Godaan interpretasi itu mungkin berasal dari berjubelnya pertanyaan tentang Ketuhanan dan tidak menemukan jawab yang memuaskan dari perbendaharaan lama. Pertanyaan ini bisa saja berasal dari dalam daya kritis umat Islam sendiri karena dinamika zaman mengalami perubahan, mungkin pula berasal dari orang lain dari keyakinan berbeda yang mempunyai nalar religius berbeda. Ketidakpuasan ini tentu saja tidak muncul begitu saja karena toh lama sebelumnya, umat Muslim juga pernah merasa puas terhadap jawaban yang ada. Perjalanan waktu, pertukaran budaya, dan barangkali permenungan, menyebabkan umat Muslim melihat masalah yang sama dari sudut yang sama sekali lain. Lalu lahirlah ketidakpuasan.

Gayung bersambut, Bizantium yang kala itu jatuh ke cengkeraman umat Muslim, ternyata menyimpan benih-benih jawab untuk rasa penasaran umat Muslim tersebut. Salah satunya muncul dari seorang bernama Plotinus. Tentu saja umat Muslim tidak pernah bertemu Plotinus langsung, mereka hanya berjumpa karya-karyanya. Plotinus pernah berkata bahwa segala sesuatu di alam semesta ini saling terhubung seperti bagian dari suatu organisme tunggal, dan semuanya menyatu ke dalam Satu yang mistis, yang darinya segala sesuatu berasal dan yang kepadanya segala sesuatu akan kembali. Ada orang yang mengumpamakannya dengan jaring laba-laba.

Seperti tersengat energi dahsyat, umat Muslim menemukan gairah yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya sejak pertama kali berjumpa Nabi Muhammad saw. Sebuah keberislaman yang baru yang memungkinkan mereka mendayung di belantara ilmu kealaman dengan tetap membawa wawasan Ketuhanan.

Betapa tidak, umat Muslim menjadi mempunyai pemahaman bahwa Tuhan dan alam adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Relasi keduanya bisa diibaratkan sebuah cahaya. Di dalam sebuah cahaya, ada yang bisa dipahami sebagai pusat cahaya dan ada pancaran cahaya. Pancaran cahaya ini pun masih bisa dipahami lebih jauh; ada yang berada sangat dekat dengan pusat cahaya dan ada yang semakin jauh dari pusat cahaya.

Pusat cahaya adalah perumpamaan Tuhan. Pusat cahaya adalah entitas tunggal dan tidak lagi bisa dibagi. Dari padanya lah cahaya memancar dan kepadanya pula cahaya kembali. Sedangkan pancaran cahaya adalah perumpamaan alam. Sejak alam raya tercipta, sejak itu pula terjadi proses menjauh oleh alam dari pusat cahaya. Karena itu, semakin jauh dari pusat cahaya, pancaran semakin meredup dan mulai masuk kepada kegelapan.

Pemahaman baru relasi Tuhan dengan alam seperti ini memompa semangat umat Islam untuk memahami alam raya karena memahami alam sama dengan memahami Tuhan itu sendiri. Karena Tuhan menampakkan diri-Nya di alam raya sebagai tanda kehadiran-Nya, maka memahami cara kerja alam raya ibarat memahami cara “berfikir” Tuhan.

Dampak lebih jauh dari pemahaman di atas adalah bahwa jika ilmu tentang Ketuhanan dan ilmu-ilmu yang disebut ilmu agama adalah ilmu yang sakral, maka ilmu-ilmu tentang alam raya tidak juga kurang sakralnya karena semua bermuara pada satu pokok yang jelas, Tuhan.

Seperti kembali mendapatkan hidayah baru, lewat kesadaran cahaya itu, umat Islam mengalami lompatan peradaban yang sangat dahsyat. Benar-benar bermandikan cahaya.[]

Bahan Bacaan

Tamim Ansary, Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam, (Jakarta: Zaman, 2015)