Cadangan

0
175 views

Liga Inggris, salah satu liga sepak bola terakbar di dunia, telah berakhir. Ada drama, ada tawa, ada tangis. Semua menjadi warna-warni yang membuat permainan satu ini semakin mengasyikkan. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sana. Ada dua puluh tim yang berjibaku tandang-kandang hampir tiap pekan.

Hasilnya adalah sebuah tabel klasemen yang menggambarkan hasil daya upaya semua tim dari 38 pertandingan yang mereka lakoni. Betapa jomplang jarak nilai antara sang juara dengan juru kunci. Namun apakah jarak bahagia masing-masing tim terpampang juga jelas di tabel klasemen? Mungkin tidak. Paling tidak, tidak sama persis dengan urutan tabel klasemen.

Manchester United memang berpesta karena mereka juara, apalagi yang di tahun 2009 ini adalah untuk ketiga kalinya mereka juara. Tapi pesta tidak hanya ada di Old Trafford, markas besar MU. Suka cita yang hampir setara luar biasanya juga dirasakan oleh tim-tim yang hampir terdegradasi tetapi tidak jadi seperti yang terjadi pada Hull City dan Sunderland yang berada pada urutan 16 dan 17 klasemen akhir. Mereka pun berteriak, berpesta, dan menitikkan air mata bahagia karena masih bertahan di kasta tertinggi liga terbaik dunia. Jauhnya klasemen menggambarkan beda kasta antara MU dengan Sunderland dan Hull City berbanding terbalik dengan rasa bahagia mereka yang hampir sama. Lalu bagaimana jarak bahagia bisa diukur?

Dua klub yang sebenarnya cukup disegani di Liga Inggris selama ini, Newcastle United dan Middlesbrough, harus berkubang di lembah degradasi. Tak terkatakan betapa kecewanya mereka. Namun tak kalah kecewanya adalah Liverpool yang sempat sangat lama memimpin puncak klasemen 2008-2009 tetapi harus gigit jari karena untuk kesekian kalinya mereka kembali gagal merebut tropi Liga Inggris. Tim mana di antara mereka yang lebih besar rasa kecewanya? Lalu bagaimana jarak kecewa bisa diukur? Bisa diukur lewat urutan tabel klasemen? Tidak. Klasemen menggambarkan betapa jauh kasta antara Newcastle United dan Middlesbrough dengan Liverpool. Namun jarak kecewa mereka tidak jauh.

Menurut Bung Kusnaeni, salah satu kekurangan mencolok Liverpool musim ini adalah tidak adanya tim cadangan yang kualitasnya setara dengan pemain inti. Menurut saya, ini adalah analisis yang menarik. Bung Kusnaeni melanjutkan, “Sebenarnya Liverpool mempunyai tim pelapis yang juga berkualitas, namun di sana tidak ada pemain yang rela menjadi cadangan hingga ketika cadangan ini dimainkan, mereka tidak mempunyai kesungguhan hati untuk menjalankan tugasnya.”

Kelebihan ini yang dimiliki Manchester United. Sejak dulu United terkenal dengan supersub-nya. Kita tahu nama Ole Gunnar Solksjaer yang selama di United adalah pemain cadangan yang ikhlas menjalani perannya. Kini dia adalah pelatih tim reserve United. Di setiap lini United ada pelapis yang setiap saat mau diturunkan dan bermain sepenuh hati.

Okelah, itu adalah tim sepak bola. Umat Islam sampai kini masih memiliki mental tidak ingin menjalani peran yang sebenarnya cocok utuknya. Umumnya menginginkan sebuah peran yang sangat besar dan tingkat yang tinggi padahal mungkin saja kemampuannya tidak cukup untuk itu.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membatasi atau merasa tahu persis tentang batas kemampuan siapapun. Semua orang berhak untuk mengeksplorasi kemampuannya hingga batas yang tak berhingga, namun pada titik tertentu dalam kehidupan bermasyarakat kita kadang sampai pada kesimpulan dan kesadaran bahwa posisi kita ada di suatu tempat dan bukan tempat yang lain. Toh, kita tahu bahwa tidak semua posisi mampu kita kuasai dengan baik. Kita mempunyai spesialisasi. Mungkin itu yang dimaksud oleh Al-Qur’an: Sungguh usahamu memang beraneka macam (QS Al-Lail [92: 4). Tidak semua orang harus jadi presiden, kan? []