Bulan yang Terbelah

0
145 views

Keniscayaan dalam berdakwah adalah hadirnya ujian dan rintangan bagi sang penyeru. Jalannya memang sudah demikian, atau dengan kata lain, sudah sunnatullah. Begitu pun halnya dengan Rasulullah. Tantangan demi tantangan datang dari para pembesar, pemegang kekuasaan, bahkan dari kalangan keluarga sendiri.

Mulai dari teror dan fitnah, pengkhianatan, pemboikotan, sampai konspirasi pembunuhan pun dialami oleh Nabi Muhammad demi menghentikan dakwahnya.

Salah satu bentuk konspirasi kaum kafir Quraisy yang menjadi ujian beliau adalah menyudutkan Rasulullah dengan tuntutan menghadirkan sesuatu yang secara logika di luar kemampuan manusia. Saat melihat beliau tidak bisa melakukannya, mereka pun akan mengolok-oloknya seraya membully habis-habisan. Dengan itu, mereka berharap citra Muhammad akan jatuh di mata kaumnya hingga akhirnya meninggalkan seruan Muhammad.

Satu ketika mereka berkata: “Seandainya kamu benar-benar seorang Nabi, maka belahlah bulan menjadi dua”. Secara nalar, tentu saja tuntutan ini adalah mustahil dilakukan oleh seorang manusia saat itu.
Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada mereka: “apakah kalian akan beriman dan masuk Islam jika saya sanggup melakukannya?”.
Mereka, kaum Quraisy, menjawab “Ya”. Lalu Rasulullah saw berdoa kepada Allah Swt. agar bulan terbelah menjadi dua. Selanjutnya sambil menyebut nama setiap orang kafir yang hadir, Rasullah Saw. berkata, “Hai fulan, bersaksilah kamu. Hai si fulan bersaksilah kamu”.

Bulan pun terbelah menjadi dua dan jatuh di antara Gunung Hira. Begitu jauh dari tempat mereka berkumpul sehingga gunung Hira nampak di antara keduanya. Akan tetapi, orang-orang kafir yang hadir berkata “Ini sihir!” padahal semua yang hadir menyaksikan bulan yang terbelah tersebut dengan seksama. Akan tetapi, para ahli sihir mengatakan bahwa, “Memang benar, bisa saja itu “menyihir” orang-orang yang ada di sampingnya, namun tidak bisa menyihir orang yang tidak berada di tempat itu”.

Kemudian mereka pulang dan menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan.
Setelah itu, orang-orang Quraisy pun bergegas menuju batas kota Mekkah, menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Ketika datang rombongan yang pertama dari perjalanan menuju Mekkah, orang-orang Quraisy pun bertanya kepada mereka, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?” Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh, kemudian bersatu kembali”
Maka sebagian dari mereka (orang-rang yang berkumpul untuk meyaksikan bulan terbelah) beriman, dan sebagian yang lain masih tetap ingkar.

Atas peristiwa itu, Allah Swt. menurunkan Q.S al-Qomar 54: 1-2
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ
Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “Ini adalah sihir yang terus menerus”.

Bulan yang terbelah pun mereka ingkari sebagai mukjizat kekuasaan Allah dan bukti kebenaran risalah. Meskipun mukjizat itu hadir dari seorang yang digelari oleh mereka sendiri dengan sebutan al-amin, mereka tetap enggan menerima.

Sekian banyak fakta bahwa Allah Swt. telah memberi mukjizat kepada Nabi Muhammad, tidak serta merta membuat kaum kafir saat itu beriman semuanya. Apalagi dengan kondisi masa kini di saat Nabi Muhammad tidak ada di hadapan manusia dengan kejadian adi-alami yang dialaminya. Apatah saat ini bisa dengan mudahnya para da’i melanjutkan risalah Nabi..

Semua itu kembali berpulang kepada sang pemberi hidayah. Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Tugas penyeru dakwah hanyalah mengajak kepada ajaran agama Islam yang benar dengan kesabaran akan tantangan dan ujian yang dihadapinya. Adapun hidayah maka hanya di tangan Allah Azza wa Jalla.