Bulan Terlupakan

0
7 views

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Kebesaran bulan Rajab ditandai oleh peristiwa Isra’ Mi’raj. Lalu Ramadhan datang dengan keagungan yang lebih dahsyat. Di antara ke dua bulan itu ada bulan Sya’ban yang terjepit di antara dua bulan besar. Lalu ada apa dengan Sya’ban? Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena berada antara bulan Rajab dengan Ramadan. Ia adalah bulan diangkatnya amal ibadah oleh Tuhan. Aku menginginkan amalku diangkat dan aku dalam keadaan sedang berpuasa”. (HR. An-Nasa’i). Karena itu, Sya’ban juga kadang dikaitkan dengan akar katanya yang searti dengan zhahara, ‘muncul’, karena bulan itu muncul di antara bulan Rajab dan Ramadhan.

Kenyataannya, berhadapan dengan Rajab dan Ramadhan, Sya’ban menjadi bulan yang biasa-biasa saja. Menurut sebuah catatan sejarah,orang Arab menamakan bulan itu Sya’ban karena pada bulan itu mereka ‘bercerai-berai’ untuk mencari air. Mungkin juga bulan Sya’ban itu biasa-biasa saja karena akar katanya yang sama dengan sya’b yang berarti ‘rakyat biasa’. Namun perlu diketahui bahwa selain itu, ia juga seakar kata dengan sya’aba yang bermakna ‘bercabang-cabang’ yang sangat mungkin memiliki hikmah yaitu di sana kebaikan bercabang-cabang. Hal ini dibuktikan oleh sebuah riwayat dari Imam Bukhari dan Muslim yang memuat pernyataan Aisyah bahwa hampir-hampir Rasulullah menghabiskan bulan Sya’ban dengan puasa; lebih banyak dari bulan-bulan yang lain (selain Ramadhan).

Di dalam riwayat lain oleh Abu Dawud disebutkan bahwa bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah untuk berpuasa di dalamnya adalah bulan Sya’ban lalu menyambungnya dengan Ramadhan.

Namun puncak sebenarnya kebaikan yang ada pada bulan itu adalah pada pertengahannya yang sering disebut dengan Nishfu Sya’ban yaitu tanggal 13, 14, dan 15 Sya’ban yang juga terkenal dengan Ayyamul Biidh (Hari-Hari Putih).

Dengan menyebutkan bahwa pada bulan Sya’ban amalan diangkat ke langit, paling tidak, Rasulullah menginginkan amalan-amalan setahun itu ditutup dengan kebaikan sebelum diperhadapkan kepada Allah Swt. Setelah itu, kita akan menghadapi lembaran amalan yang baru pada bulan Ramadhan. Dan karena bulan Ramadhan adalah bulan mulia, maka tidak ada salahnya kita semua mempersiapkan diri menghadapinya. Salah satunya adalah dengan menghormati bulan Sya’ban melalui puasa.

Karena berdampingan dengan bulan Ramadhan, Sya’ban lalu mempunyai arti sangat penting. Setiap kita pasti sangat merindukan bulan Ramadhan karena keagungan, kemuliaan, dan keberkahannya. Dalam urutan bulan Qamariyyah, Sya’ban adalah fase terakhir sebelum Ramadhan. Pada saat itu, kerinduan akan bulan Ramadhan semakin membuncah dan hanya akan terbebaskan ketika Ramadhan telah masuk. Karenanya, sangat jelas jika Sya’ban sedemikian penting. Karenanya, sunnah Rasulullah Saw mengajarkan kita agar berdoa keberkahan bulan Rajab dan Sya’ ban lalu kemudian berharap sangat agar kita bisa sampai ke bulan Ramadhan. Semoga.[]

BAGI
Artikel SebelumnyaIstidrâj
Artikel BerikutnyaPenjajah