Bulan Penuh Ustadz

0
78 views

Pernah ada masa ketika bulan Ramadhan diberi nama lain di Indonesia, yaitu bulan Bimbo karena pada bulan Ramadhan lah lagu-lagu dari group Bimbo semakin nyaring diperdengarkan. Namun masa itu telah lewat. Kini Bimbo sudah jarang terdengar. Karena itu, tidak ada lagi Bimbo sebagai nama yang dikaitkan erat dengan Ramadhan.

Barangkali ada nama lain yang bisa disematkan kepada bulan Ramadhan di Indonesia, yaitu bulan penuh ustadz. Betapa tidak, kita akan bertemu wajah-wajah ustadz dan atau mendengarkan suara mereka berceramah hampir setiap saat dan di televisi, radio, masjid, mushalla, koran, majalah, internet, dan di mana-mana.

Di antara mereka ada yang merupakan wajah-wajah lama dan memang sudah akrab bagi publik sebagai seorang ustadz. Ada juga wajah-wajah baru yang terlahir dan mengampanyekan diri layak untuk disebut ustadz.

Tentu media yang paling efektif untuk melahirkan para ustadz adalah televisi, terutama lewat program-program sinteronnya. Tidak terhitung jumlah sinetron religi yang lahir di sana atau sinetron yang tiba-tiba berubah menjadi sinetron religi pada bulan Ramadhan. Sangat banyak ustadz yang dilahirkan oleh sinetron-sinteron tersebut dengan wajah yang diteduh-teduhkan, busana yang dialim-alimkan, dan bicara yang diupayakan sedemikian rupa hingga tampak bijaksana.

Fenomena membludaknya jumlah ustadz tidak selalu dipandang positif oleh beberapa kalangan, bahkan oleh kalangan ustadz sendiri. Mungkin persoalannya adalah persaingan memperbutkan pasar jamaah yang semakin ketat. Namun bisa juga dengan alasan lain.

Di antara alasan itu dilontarkan oleh salah seorang pakar Hadits dan Ilmu Hadits di Indonesia yang menengarai telah lahirnya ustadz-ustadz karbitan dan prematur yang tampil dengan hanya modal utama kemahiran berbicara dan keberanian untuk tampil di depan publik. Bahkan tidak jarang, kata dia, ustadz-ustadz karbitan ini menyampaikan materi dakwah yang sebenarnya salah dan tidak mempunyai landasan dalil yang baik. Separah itu kah?

Kalau lah ustadz-ustadz karbitan seperti gambaran tadi itu ada, maka umat Muslim memang perlu prihatin. Namun di sisi lain harus disadari bahwa mereka lahir dari rahim sebuah masyarakat yang memang menghendaki mereka ada. Sebuah masyarakat yang  tidak lagi bisa disebut haus tontonan dan hiburan—karena tontonan dan hiburan disajikan setiap saat—tetapi masyarakat yang sudah kecanduan tontonan dan hiburan hingga batas-batas yang sudah tidak peduli lagi apa isi tontonan itu, yang penting menonton dan bisa tertawa.[]

Oleh Abdul Muid Nawawi