Buah Keikhlasan

0
53 views

Ma`asyiral Muslimin…Rahimakumullah…

Allah subhanahu wa ta`ala, meminta kepada manusia yang ingin benar-benar menjadi hamba-Nya , agar membuktikan penghambaannya hanya kepada diri-Nya semata, tidak mendua dan tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Maka seorang hamba yang baik hanya akan beribadah semata-mata demi meraih ridha-Nya. Inilah yang disebut dengan Ikhlas.

وَمَا أُمِرُوا إِلاّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (QS. Albayyinah : 5)

Keikhlasan memang menjadi syarat diterimanya ibadah, namun disaat yang sama ia membuahkan sekian banyak kebaikan, demikian beberapa buah dari keikhlasan itu…

 

Pertama : Diterimanya Amalan

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلاّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang ikhlas dan hanya mengharap keredhaan-Nya semata.” ( HR. An-Nasa`i)

Kedua : Meraih Kemenangan dan Existensi

Sesungguhnya salah satu sebab bagi ahlul iman dalam meraih kemenangan melawan para musuh adalah keikhlasan mereka dalam beribadah dan berjuang di jalan Allah Azza wa jalla. Dalam hal ini Rasulullah bersabda ;

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلاصِهِمْ

“Sesungguhnya Allah hanya memenangkan umat ini disebabkan do’a orang-orang lemah dari mereka, shalat mereka dan keikhlasan mereka”. (HR. Imam An-Nasa’i)

Keikhlasan adalah sebab utama dari sekian sebab-sebab kemenangan, salafunas shalih, mereka mendapat kemenangan karena kekuatan iman mereka, kebersihan jiwa mereka dan keikhlasan hati mereka dalam beribadah dan perjuangan mereka fi sabilillah.

 

Ketiga : Bersihnya Hati dari sifat Dengki, Ghil dan Sifat Khianat

Jika keikhlasan bersemayam di hati seseorang, maka keikhlasan itu akan membersihkan hati itu dari kekotorannya, ia akan menjaga dan membentenginya dari berbagai sifat buruk .

Rasulullah saw bersabda

ثَلاثٌ لا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلاَصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ ..”

“Tiga hal yang bisa menghalangi kedengkian dalam hati seorang muslim; keikhlasan beramal karena Allah, menasehati pemimpin kaum muslimin, dan berpegang kepada jama’ah kaum muslim.”

(HR. Turmudzi)

Imam ibnul Qayyim mengatakan, “Maksudnya adalah bahwa tidak akan ada dalam hatinya kedengkian, sifat ini tidak akan ada bersama ketiga perkara tersebut, bahkan ketiganya akan menghilangkan membersihkan, mengeluarkan rasa dengki itu dari dalam hati, adapun yang paling parah adalah hati yang dirasuki kesyirikan dan keculasan, keluar dari jama`ah dengan melakukan amalan bid’ah dan kesesatan, obat yang akan mengelurkan kotoran itu adalah dengan memurnikan keikhlasan dan nasehat serta mengikuti sunnah.”

Keempat : Merubah yang Biasa Menjadi Bernilai Ibadah

Ikhlas dapat menaikkan derajat amalan dunia murni,  menjadikannya sebagai ibadah yang berpahala. Sebagaimana tersebut dalam hadits Rasulullah saw

وفي بضع أحدكم صدقةٌ، قالوا: يا رسول الله أيأتي أحدنا شهوته، ويكون له فيها أجرٌ ؟ قال: أرأيتم لو وضعها في حرامٍ أكان عليه وزرٌ ؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجرٌ. رواه مسلم.

“…Dan bahkan dalam bersetubuhnya seseorang dari kalian itupun sedekah.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah apakah seseorang dari kita yang mendatangi syahwatnya itu juga memperoleh pahala?”

Beliau s.a.w. bersabda: “Apa pendapat kalian, jikalau syahwat itu dilampiaskan dalam sesuatu yang haram, apakah orang itu memperoleh dosa ? Maka demikian itu pulalah, jikalau ia menempatkan syahwatnya dalam hal yang dihalalkan, maka iapun memperoleh pahala.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi memberikan penjelasan, hadits ini menunjukkan bahwa perkara yang mubah bisa berubah menjadi ketaatan dengan niat shadaqah, dan hubungan suami istri juga bernilai ibadah jika diniatkan untuk memenuhi kebutuhan pasangan dan mempergaulinya dengan cara yang ma’ruf sebagaimana perintah Allah swt atau mengharap lahirnya anak yang shalih atau demi menjaga diri dari hal yang diharamkan …”

Demikianlah selama seseorang dengan imannya melakukan sesuatu hanya mengharap ridha-Nya dan ikhlas karena-Nya, maka gerakannya, diamnya, tidur dan terjaganya akan dinilai sebagai ibadah kepada Allah swt. Demikianlah hadirin sekalian, keikhlasan itu dapat mengubah yang biasa menjadi luar biasa.

Kelima : Terkabulkanya Do’a

Dalam hadits yang menjelaskan tentang kisah tiga orang yang tersekap di dalam gua karena pintu masuknya tertutup oleh runtuhya batu besar, maka mereka bertiga mengatakan,”Sesungguhnya yang bisa menolong kita dari batu besar ini tak lain adalah dengan cara berdo’a kepada Allah dengan perantaraan amal shalih . Maka masing-masing dari ketiga orang tersebut berdo’a dengan menyebutkan amal shalih yang pernah mereka lakukan ,”Yaa Allah jika waktu itu aku melakukan hal tersebut karena semata-mata berharab ridha-Mu(ikhlas karena-Mu), maka keluarkanlah kami dari tempat ini”. Maka batu basar itupun bergeser dan mereka bertiga bisa keluar dari dalam gua tersebut”. Hadits ini termaktup dalam kitab shahih Bukhori dan shahih Muslim.

Keenam : Menjadi Kuat dihadapan Syetan

Syetan tidak akan banyak melancarkan godaan dan rayuannya, karena Allah swt akan menjaga pribadi yang mukhis. Sebagaimana firman Allah yang menggambarkan ucapan Syetan,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وََلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ  إِلاّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

 

”Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau Telah memutuskan bahwa Aku sesat, pasti Aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti Aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.( QS. Al-Hijr :39-40)

Sulaiman Ad-Daraniy dalam Tahdzibul Madarij mengatakan bahwa jika seorang hamba mengikhlaskan dirinya karena Allah swt maka akan terputus sekian banyak rayuan syetan yang menggodanya demikian pula sifat riya’.

 

Ketujuh : Memperoleh Pahala Walau Tidak Sanggup Melakukan Amal

Yang memiliki niatan ikhlas terkadang tidak mampu melakukan perbuatan baik yang sangat ingin ia lakukan, bisa jadi karena sedikitnya harta atau  kesehatannya yang kurang mendukung. Namun Allah swt Maha Tahu akan semangat besarnya untuk bisa melakukan kebaikan tersebut, maka Allah swt akan mendudukkan mereka yang berniat shalih pada kedudukan orang-orang shalih, yang sangat ingin berjihad pada kedudukan para mujahidin karena impian besarnya dan ketulusan niatnya mampu mengalahkan keterbatasan sarana yang dimilikinya.

Sebagian shahabat dulu ada yang bersikeras untuk ikut dalam bejihad, namum karena sarana tidak mencukupi Rasulullah belum memberikan kesempatan itu kepada mereka, tentang mereka ini Allah swt menurunkan firman-Nya

وَلاَ عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لاَ أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلاّ يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

“Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata Karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. (QS At-Taubah : 92)

Semangat yang begitu besar untuk berkorban, keimanan yang begitu kokoh dan keikhlasan yang begitu tulus, membuat Rasulullah saw berkata kepada segenap pasukan

إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالاً مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلاّ كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمْ الْمَرَضُ . و في رواية المسلم  إِلاّ شَرِكُوكُمْ فِي الأَجْرِ

 

“Sesungguhnya di Madinah itu ada beberapa orang lelaki yang engkau semua tidak menempuh suatu perjalanan dan tidak pula menyeberangi suatu lembah, melainkan orang-orang tadi ada besertamu – yakni sama-sama memperoleh pahala – mereka itu terhalang oleh sakit – maksudnya andai kata tidak sakit pasti ikut berperang.” dalam riwayat lain dijelaskan: “Melainkan mereka – yang tertinggal itu – berserikat denganmu dalam hal pahalanya.” (Riwayat Muslim)

Hadirin yang dirahmati Allah…

Demikianlah tujuh dari sekian banyak buah keikhlasan, tentunya masih banyak buah dari keikhlasan seorang hamba dalam beribadah kepada Allah swt, termasuk mendapat cinta-Nya dan dianugerahi syurga-Nya. Semoga kita dimudahkan dalam upaya memurnikan niat dalam beraktifitas baik, sehingga kita hamba-hamba-Nya yang Mukhlis.