Bohong

0
29 views

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Berbohong adalah kebutuhan, setara makan dan minum. Bahkan untuk ukuran seorang baik-baik. Jika tidak percaya, coba tanya diri sendiri. Itu pun jika diri sendiri yang dimaksud itu tidak berbohong. Dan kalaupun diri sendiri itu berbohong, maka semakin terbuktilah bahwa berbohong adalah kebutuhan.

Kebohongan itulah yang menjadi salah satu bagian tema dalam buku Nidhal Guessoum, Islam dan Peradaban Modern (Bandung: Mizan, 2014). Kebohongan yang dimaksud Guessoum adalah penenggelaman fakta-fakta yang dilakuan oleh peradaban Barat bahwa dia sebenarnya adalah keturunan yang sah dari peradaban Islam. Peradaban Barat lebih enak mengakui bahwa dia adalah keturunan peradabannya sendiri, Yunani.

Di dalam buku itu pula diceritakan strategi penenggelaman fakta-fakta, sebagaimana yang difikirkan oleh seorang Ziauddin Sardar, dengan menyebut sebuah teori: “ban berjalan”. Teori ini memiliki penjelasan: peran umat Islam dalam peradaban Barat tidak lebih dari sekadar penerjemahan karya-karya Yunani tanpa menambahkan sedikit pun. “Ban berjalan” adalah sindiran super sinis seakan-akan peradaban Yunani berjalan sebagaimana adanya tanpa keraguan menuju kemajuan peradaban Barat, ada atau tanpa adanya peran umat Islam. Buku Marvin Perry, Peradaban Barat: Dari Zaman Kuno Sampai Zaman Pencerahan (Bantul: Kreasi Wacana, 2014), dengan tegas mengakatakan Islam tidak membuat terobosan di bidang ilmu, teknologi, filsafat, ekonomi, dan pemikiran politik yang melahirkan modernitas.

Di pihak berbeda, teori yang mirip “ban berjalan” juga bisa diterapkan pada pemikiran Seyyed Hossein Nasr mengenai peradaban Islam. Dalam bukunya, Sains dan Peradaban dalam Islam (Bandung: Pustaka, 1997), Nasr menegaskan kegemilangan peradaban Islam yang secara historis akibat pertemuannya dengan peradaban Greko-Roman, tetapi secara hakaki tidak lebih dari sebuah aksiden karena menurut Nasr, tidak mesti dengan Yunani dan Romawi, peradaban Islam pasti akan tetap menuju kegemilangannya.

Nasr tidak setuju pada Sardar karena menganggap Sardar tidak begitu tegas menyebutkan bahwa peradaban berasal dari sesatu yang Ilahi dan itu adalah Islam. Pemikiran Nasr ini berhadapan secara diametral dengan orang-orang yang disebutkan oleh Nidhal Guessoum, yaitu orang yang dengan sengaja menghilangkan Islam sebagai salah satu faktor penting peradaban dunia kontemporer.

Tidak ada gunanya berbohong di hadapan fakta di saat ini ketika begitu banyak fakta yang menyatakan bahwa Islam dan Barat pernah dan masih saling memberi dan menerima materi-materi peradaban. Islam mampu memberi sumbangan spiritual atas kekeringan spiritual di Barat. Dan Islam pun harus mengakui, dalam beberapa hal, Islam perlu belajar kepada Barat.[]

Bacaan:

Nidhal Guessoum, Islam dan Peradaban Modern (Bandung: Mizan, 2014)

Marvin Perry, Peradaban Barat: Dari Zaman Kuno Sampai Zaman Pencerahan (Bantul: Kreasi Wacana, 2014)

Seyyed Hossein Nasr, Sains dan Peradaban dalam Islam (Bandung: Pustaka, 1997)