Bisikan Infotaintment

0
14 views

Menurut data yang sempat dicatat oleh sejarah, kemampuan manusia untuk berkomunikasi secara lisan berawal sekitar 90.000 sampai 40.000 tahun yang lalu. Itu muncul akibat desakan kebutuhan-kebutuhan praktis untuk berkomunikasi interpersonal di dalam kelompok keluarga dan suku.

Sejak itu, manusia mengalami perkembangan super pesat. Hal ini terjadi karena dengan kemampuan komunikasi lisan, manusia bisa mengatur diri mereka sendiri dalam kelompok-kelompok yang lebih besar dan secara sistematis mengatasi masalah yang rumit. Kemampuan bahasa lisan memberikan suatu cara yang lebih efisien untuk mengumpulkan, memeroses, dan menyebarkan informasi praktis.

Namun yang lebih penting dari semua itu adalah bahasa lisan memberikan suatu sarana yang lebih efisien dalam komunikasi internal, yaitu untuk pikiran. Telah dibuktikan bahwa “aturan-aturan berfikir itu sejajar dengan aturan-aturan berbicara”. Semakin manusian menguasai aturan-aturan bahasa, akan semakin memperbesar kemampuan manusia untuk menalar, merencanakan, dan mengonsepkan.

Lalu, lewat bahasa lisan manusia juga mampu mentransfer infomasi yang berasal dari pengalaman mereka kepada manusia lainnya agar menjadi pelajaran yang akan memperkaya kemampuan mereka. Lalu tejadilah pertukaran budaya yang melahirkan peradaban.

Sampai di sini kita melihat betapa bahasa lisan telah begitu banyak manfaatnya dalam kehidupan dan dalam lahirnya sebuah peradaban. Dengan sekian banyak faedahnya, apakah kemampuan bahasa lisan bisa juga menghancurkan peradaban? Tentu bisa.

Di awal usianya, komunikasi lisan mungkin masih sangat terbatas pada komunikasi antarindividu. Namun dengan berkembangnya teknologi informasi, komunikasi bisa saja terjadi antara seorang individu dengan banyak individu. Informasi pun semakin efektif berkembang.

Infotainment berada pada tahap terakhir ini, ketika satu sumber bisa berinteraksi dengan ribuan bahkan jutaan objek informasi dan ketika infotainment diproduksi secara massal maka bisa menggiring opini dan membangun pola pikir tertentu.

Di sini kemudian infotainment memanggul tanggung jawab moral. Tentu tidak ada  orang yang rela disebut makan atau memberi makan keluarganya dari sumber yang haram. Tapi ada saja yang mau makan dari dan memberi makan keluarganya lewat cara-cara yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara moral, bahkan merusak moral. Jika kita tersinggung ketika ada (manusia) yang mengeritik kita karena telah meng-ghibah-nya, mengapa kita sama  sekali tidak tersentuh ketika ada (Tuhan) yang berceritera bahwa ada saja manusia yang hidup dan menghidupi keluarganya dari sisa bangkai daging saudaranya sendiri sebagaimana dalam QS. Al-Hujurat/49: 12. Apakah itu tidak cukup menjijikkan?

Oleh Abdul Muid Nawawi

Bahan Bacaan

Roger Fidler, Mediamorfosis, (Yogyakarta: Bentang, 2003).