Bid’ah

0
147 views

alwibanjar.wordpress.comUstadz Ahmad Yani yang saya hormati. Saya kadang masih belum sreg dengan pemahaman saya sendiri tentang bid’ah. Hal ini terasa ketika harus memberikan sikap terhadap kebiasaan dan budaya beragama di masyarakat kita. Di antaranya bagaimana bersikap terhadap arwahan, maulid nabi, nujuh bulan, dan sebagainya.

Pertanyaan saya, bagaimana cara kita bersikap terhadap realitas masyarakat seperti itu? Apakah ada sudut pandang atau sebutan lain dari budaya tadi jika kita tidak bisa menyebutnya sebagai bid’ah?

Atas jawaban Ustadz, saya ucapkan jazakumullah khairan.

Fakhrurrozi, Bekasi.

Jawaban.

Dalam dakwah, masyarakat kita memang masih harus terus diluaskan wawasan dan komitmen keislaman mereka sehingga bisa membedakan mana yang agama dan mana yang hanya tradisi, mana yang sunnah dan mana yang bid’ah, begitulah seterusnya.

Sebagai da’i, kita tidak boleh takut untuk mengatakan dan membedakan sesuatu antara yang haq dengan yang bathil atau antara yang benar dengan yang salah, termasuk mana yang sunnah dan mana yang bid’ah. Namun sudut pandangnya tidak secara harfiyah, dilihat dan dinilai dulu kemungkinan hal itu termasuk masalah perbedaan pendapat karena perbedaan dalam memahami suatu dalil. Namun, meskipun kita orang yang sangat berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah, tidak setiap yang bertentangan dengan pendapat kita berarti bid’ah, bahkan meskipun tidak ada dalilnya sementara hal itu ada pada zaman sekarang bahkan ada hubungannya sekalipun dengan suatu peribadatan, tidak selalu kita bisa menyatakannya secara langsung atau memvonisnya sebagai bid’ah yang sesat dan menyesatkan. Ada beberapa aktivitas yang tidak dimaksudkan sebagai ibadat namun dikaitkan dengan momentum peribadatan, misalnya ceramah tarawih, kuliah dhuha, ceramah zuhur dan sejenisnya merupakan hal-hal yang dari aspek bahasa bisa saja disebut bid’ah, namun tidak secara syar’i. Maka bila kita tidak bisa membedakan ini, apa saja bisa kita katakan bid’ah.

Oleh karena itu, segala sesuatu yang terjadi di masyarakat harus kita dudukkan persoalannya dengan sebaik-baiknya. Bila contohnya adalah arwahan, maka di dalam Islam orang yang hidup memang dianjurkan untuk mendo’akan ruh orang yang sudah mati, namun hal ini tidak harus dilakukan hanya pada bulan ruwah atau bulan Sya’ban. Adanya arwahan pada bulan sya’ban karena diyakini atau dipahami bahwa ruh orang yang sudah meninggal akan pulang ke rumahnya pada bulan sya’ban, karenanya pada bulan yang jatuh sebelum Ramadhan itu banyak orang yang berziarah ke kubur, seolah-olah mereka ingin menjemput ruh itu dan nanti pada hari raya ideul fitri diantar lagi kembali sehingga orangpun pergi lagi ziarah ke kubur. Bila keyakinan seperti ini, maka hal ini tidak bisa dibenarkan. Fungsi ziarah kubur adalah untuk ingat mati, karenanya bila sebelum Ramadhan dengan ziarah itu seseorang menjadi ingat mati, maka Ramadhan adalah momentum yang sangat baik untuk memperbanyak amal shaleh sebagai bekal menghadap Allah Swt, sedangkan Idul Fitri berziarah lagi membuatnya tidak akan lupa pada mati sehingga mulai bulan Syawwal akan meningkatkan kualitas dankuantitas amal shaleh.

Bila contohnya adalah maulid Nabi, maka bulan itu hanyalah momentum untuk mengingatkan kaum muslimin akan keharusan kita mengimani dan meneladani beliau. Karenanya kaum muslimin tidak boleh menganggapnya sebagai ritual peribadatan dan bila saya memberikan ceramah maulid, isra mi’raj dan sebagainya, saya mengingatkan soal ini bahwa Rasul tidak memerintah untuk memperingati kelahirannya namun bila kita mau itupun tidak dilarang selama hal itu tidak dianggap sebagai kemestian.

Adapun nujuh bulanan pada saat orang hamil, itupun harus dijelaskan tidak adanya dalil yang memerintahkan, namun sebagai tanda syukur sambil mengingatkan bahwa masa kehamilan harus dijalani dengan jasmani dan rohani yang sehat dan menyiapkan kondisi mental ibu yang hamil untuk melahirkan anaknya dengan baik, bisa jadi merupakan hal yang baik untuk dilakukan, namun tidak perlu ada bentuk-bentuk ritual seperti membaca surat Yusuf atau surat Maryam, memberikan taushiyah dan mendo’akan merupakan hal yang boleh saja dilakukan.

Dengan demikian, mesikapi berbagai macam tradisi yang mengandung unsur bid’ah harus kita jelaskan secara baik-baik sehingga masyarakat tidak sampai menganggap bahwa hal itu merupakan keharusan dalam agama, bahkan tradisi yang bisa menyalahi aqidah, syari’ah dan akhlak dalam Islam harus kita tinggalkan. Munculnya berbagai tradisi yang bercampur dengan agama lebih karena masyarakat kita yang taat dalam agama sehingga tradisipun ingin mereka arahkan yang sesuai dengan agama, meskipun belum seluruhnya bisa meninggalkan hal-hal yang tidak sesuai dengan agama. Karena itu, tugas generasi kita untuk memilah mana yang agama dan mana yang tradisi untuk selanjutnya kita arahkan masyarakat untuk menjalankan agama dengan baik dan hanya mau mengikuti tradisi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Satu hal yang harus kita ingat bahwa segala sesuatu berubah melalui suatu proses, karenanya tugas kita untuk melakukan proses perubahan ke arah yang Islami, bukan malah kita larut dalam kehidupan masyarakat yang tidak Islami dengan dalih dakwah. Ini berlaku dalam semua aspek kehidupan yang kita jalani, apalagi dalam dunia politik yang memerlukan ekstra hati-hati agar kita yang bertekad ingin mengubah keadaan menjadi lebih baik, malah kita yang berubah kearah yang tidak baik, nauzubillah.