Bersedekah Jangan Biasa-biasa Saja!

0
59 views

bersedekahSaya yakin, hampir semua kita pernah mendengar anekdot ini.

Seorang ustaz berceramah di masjid tentang keutamaan bersedekah. Salah satu poin ceramahnya adalah: “hadirin wal hadirat yang dirahmati Allah swt. Apabila kita bersedekah, maka sedekahkanlah yang terbaik yang Bapak-Ibu miliki. Jangan bersedekah dengan yang jelek-jelek”. Demikian sang ustadz dalam ceramahnya.

Suatu ketika di rumahnya. Seorang pengemis dating ke rumahnya. Istri sang ustadz keluar sambil membawa beberapa potong pakaian yang bagus-bagus. Sang ustadz bertanya, “Mau diapain bu baju-baju itu?”.

“Mau disedekahin pak ke pangemis itu”, jawab istrinya.

“Loh ibu ini bagaimana, baju-baju itu kan baju bagus dan mahal-mahal semua, buat bapak pergi ceramah”, Sang ustadz dengan wajah agak kaget plus bingung.

“Lah, kata Bapak, kalau bersedekah harus yang terbaik yang kita miliki. Nah, ini yang terbaik milik Bapak mau ibu sumbangin”, tukas istrinya dengan wajah datar tak bersalah.

“Walah bu…. yang itu untuk jamaah, buat ustadz ga begitu hukumnya”, sang ustadz menjawab sambil merengut.

***

Bagaimana jadinya jika pemahaman kita tentang bersedekah seperti itu? “Apa kata dunia?” (meminjam istilah orang-orang pajak).

Al-Qur’an memang mengajarkan kita berbuat baik dengan cara bersedekah hal-hal baik yang kita miliki. Mari kita lihat ayatnya. Al-Qur’an menyebutkan: Lan tanâlul birra hattâ tunfiqû min mâ tuhibbûn (Tidak tercapai (nilai) suatu kebaikan hingga engkau berinfak dengan apa yang kamu sukai).

Dalam bersedekah memang dianjurkan memberikan hal-hal baik yang kita miliki, yaitu hal-hal yang masih kita sukai. Ayat di atas ketika menyebut “apa yang kamu sukai” menggunakan redaksi ini “min mâ tuhibbûn“. Kata “ tuhibbûn” kalau diterjemahkan dengan lengkap kira-kira artinya adalah “yang masih kamu sukai”.

Jadi, ayat di atas tidak berarti bahwa ketika bersedekah harus yang paling kita sukai, cukup yang masih kita sukai. Nah, untuk ini ada penjelasan lain dari al-Qur’an dalam QS. Al-Baqarah/2: 267: ““Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian yang baik dari hasil usahamu dan apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu sendiri tidak mau menerimanya melainkan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Kalau disederhanain, penjelasan dari “ min mâ tuhibbûn itu adalah “janganlah kamu memilih yang buruk-buruk. So, ga perlu kayak ibu ustadz di atas, memberikan yang paling mahal dan paling baik. Yang terpenting dari pemberian itu adalah sesuatu yang kita sendiri masih mau menerimanya seandainya barang tersebut diberikan pada kita.

Ini yang standar minimalnya. Kalau mau lebih baik, lain lagi friend. Islam mengajarkan ihsan. Dalam konteks sosial, ihsan itu adalah berbuat sesuatu kepada orang lain seperti berbuat kepada diri sendiri. Ini yang diingatkan oleh Nabi saw, “belumlah sempurna keimanan seseorang di antara kamu hingga dia senang (berbuat sesuatu) bagi saudaranya, seperti apa yang dia senang lakukan untuk dirinya.”

Artinya, kalau kita mau naik level menjadi seorang muhsin, maka tidak cukup sekedar “tidak memilih yang buruk-buruk“, tetapi memberi lebih dari itu. Ambil contohlah: kita punya tetangga, sehari-hari makan tahu-tempe; daging paling sekali setahun. Lalu, kita niat bersedekah ama dia, kita bawakanlah makanan. Isinya, nasi, sayur, tahu, tempe, ikan asin. Padahal di rumah kita makan ayam opor ama rendang. Kalau kita memakai ukuran standar, ga ada masalah, kita sudah memberikan makanan yang baik-baik, yang kita juga tidak menolak memakannya. Tapi,…. nih ada tapinya….

Bisa kita bayangkan bagaimana jika yang kita berikan itu adalah ayam opor dan rendang (mmmm yummy), makanan yang mereka makan hanya sekali setahun. Surprise-nya lebih tinggi bagi yang menerima ketimbang yang pertama. Ini yang disebut ihsan.

Untuk mengukur apakah sesuatu itu bernilai atau tidak, bukan terletak pada yang akan menerimanya, tetapi terletak pada yang memberikannya. Seberapa berharga suatu barang bagi kita yang memberi, maka sebesar itulah nilainya. 

Mungkin juga itu salah satu hikmahnya mengapa dalam berzakat fitrah kita harus mengeluarkan setara beras yang dikonsumsi sehari-hari. Sekarang, “bola” di tangan kita, mau yang biasa-biasa saja atau mau menjadi yang lebih baik. Wal-lâhu a‘lam

 

 

BAGI
Artikel SebelumnyaMengusir Ramadhan
Artikel BerikutnyaIslam Bukan Ideologi Teror