Berpisah Dengan Suami Demi Iman

0
41 views

Bagi kita, nama Zainab bukanlah nama yang asing. Zainab adalah anak Nabi Muhammad saw. Namun Zainab dikenal bukan karena semata-mata ayahnya seorang Nabi, tapi karena memang dia seorang wanita yang patut diteladani. Betapa tidak, kesetiaannya pada suami, ketaatannya kepada ayahnya serta kesungguhannya dalam melaksanakan ajaran Islam tak pernah ada yang meragukannya.

Sebelum Nabi Muhammad saw diangkat menjadi Rasul, Zainab hidup bahagia dalam kehidupan rumah tangga bersama suaminya yang bernama Abul Ash Ibnu Arabi, seorang pemuda Quraisy yang terkemuka. Ketika Nabi Muhammad saw diangkat menjadi Rasul, langsung anggota keluarganya menyatakan masuk Islam, mereka adalah Khadijah, isteri Nabi, Zainab, Ruqayah, Ummu Kaltsum dan Fatimah, puteri-puteri Nabi. Saat itu suami Zainab sedang pergi berdagang.

Ketika suaminya pulang, dengan keyakinan suaminya akan setuju, Zainab menceritakan apa yang terjadi. Ternyata sang suami tidak mau mengikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, dia berkata: aku tidak menuduh ayahmu dengan tuduhan jelek, aku takut akan dihina keluargaku jika mengikutinya, aku khawatir dianggap meninggalkan agama nenek moyang dan terpengaruh isteri”.

Bagai disambar petir di siang hari, begitulah perasaan Zainab atas penolakan suaminya masuk Islam. Zainab sulit membayangkan bagaimana jika suaminya seorang musyrik sementara dia seorang muslimah, puteri Rasulullah saw.

Penderitaan kaum muslimin semakin terasa, apalagi setelah paman Nabi yang bernama Abu Thalib dan isteri Nabi yang bernama khadijah meninggal dunia, sementara selama ini keduanyalah yang banyak membantu mengatasi kesulitan dalam menghadapi orang-orang kafir Quraisy.

Rasulullah bersama para sahabat kemudian hijrah ke Madinah, tak lama kemudian orang-orang kafir menyerang, maka pecahlah perang Badar, Abdul Ash Ibnu Arabi berada dipihak penyerang.

Peperangan yang berkecamuk hebat itu dimenangkan oleh kaum muslimin, tentu saja Zainab ikut bergembira. Tapi dia juga was-was karena belum tahu bagaimana nasib suaminya, namun rasa was-wasnya itu segera hilang setelah dia tahu bahwa suaminya ditawan pasukan Rasul.

Dengan memerintah Amru Ibnu Arabi, adik iparnya, Zainab berusaha membebaskan suaminya dengan mengirim uang tebusan dan seuntai kalung pemberian ibunya sewaktu menikah. Rasul sangat terharu dengan apa yang dilakukan anaknya, bahkan dengan itu dia menjadi teringat kepada isterinya yang sudah meninggal. Kepada para sahabat, Rasul bersabda: “Jika kalian rela melepaskan tawanan itu dan mengembalikan tebusannya, laksanakanlah”.

“Baik ya Rasulullah”, kata para sahabat. Abdul Ash pun kemudian menuju Makkah guna bertemu dengan isteri dan anaknya, kepada puterinya, Rasul berpesan agar hijrah ke Madinah dan berpisah dengan suaminya karena tidak mau masuk Islam.

Sebagai muslimah yang taat, Zainab meninggalkan suaminya yang musyrik itu meskipun mereka berat untuk berpisah. Dengan seorang diri, Zainab menuju Madinah, membayangkan pertemuan dengan anggota keluarganya serta ayah tercinta, Rasulullah saw.

Kepergian Zainab tak luput dari gangguan orang kafir. Di tengah perjalanan dia mendapatkan penganiayaan. Habar bin Aswad, salah seorang dari mereka menombak unta yang ditunggangi Zainab hingga unta itu jatuh dan Zainab sendiri terpelanting, padahal pada saat itu Zainab sedang hamil muda sehingga akhirnya keguguran. Alhamdulillah Zainab sendiri akhirnya selamat hingga sampai di Madinah dan berkumpul bersama ayah dan para sahabatnya.

Suatu ketika, Abdul Ash dihadang oleh tentara Islam, saat itu dia melarikan diri ke Madinah dan minta perlindungan ke isterinya. Kepada para sahabat Zainab berkata: “Aku telah menjamin dan melindungi suamiku”.

Mendengar hal itu Rasulullah bersabda: “Kita menjamin apa yang dia jamin”. Setelah mendapat jaminan itu, Abdul Ash akhirnya masuk Islam dan tentu saja Zainab sebagai isteri tercintanya sangat gembira dan seolah-olah hilanglah penderitaanya selama ini.

Namun derita akibat keguguran yang dialami Zainab memang belum hilang, semakin parah rasa sakit yang dirasakannya dan beberapa bulan kemudian, Zainab menghembuskan nafas yang terakhir. Meskipun begitu, dia telah mati dalam keadaan bahagia, bahagia karena suaminya tercinta telah menjadi seorang muslim yang shaleh sebagaimana yang sejak awal dakwah Nabi sangat dinantikannya.

Dari kisah di atas, pelajaran yang kita peroleh adalah:

1.    Aqidah merupakan sesuatu yang sangat prinsip bagi setiap muslim, karenanya boleh orang tua memerintahkan anak untuk berpisah dengan suaminya demi mempertahankan iman.

2.    Kecintaan seorang muslim kepada keluarga membuatnya harus selalu mengajak ke jalan iman yang benar.