Berpacaran dan Kawin

0
147 views

furqan-smkn1.blogspot.comSebagai penggemar rubrik ini, saya ingin sekali mendapatkan penjelasan dari pengasuh:

Pertama, Dalam satu hadits, Rasul menganjurkan para pemuda yang sudah sanggup kawin agar tidak terjerumus ke dalam maksiat, tapi ada yang sudah mampu dan tahu hukumnya namun tetap tak mau kawin, bagaimana hukum pemuda tersebut?

Kedua, Dalam hadits yang lain ada larangan Rasul berdua-duaan antara pria dengan wanita yang bukan muhrimnya, tapi saya melihat hal ini sudah lumrah di kalangan remaja, bagaimana dengan hal ini?

Ketiga, Zhihar adalah menyamakan punggung ibu dengan isteri yang berarti telah menceraikannya, bagaimana hukumnya bila orang yang berkata begitu tidak tahu hukum yang sebenarnya?

Demikian pertanyaan ini saya ajukan, atas jawaban pengasuh saya ucapkan terima kasih.

Wassalam

Mukhinuddin

Jl. M. Al Huda 7

Laksana Banda Aceh.

Jawaban Pengasuh

Nabi kita, Muhammad saw sudah menegaskan bahwa nikah itu sunnah Rasul, barang siapa yang tidak suka dengan sunnahnya, maka dia bukan golongannya. Dalam kaitan ini kita perlu tahu apakah pemuda yang membujang itu karena memang tidak mau menikah atau karena belum sanggup. Kalau memang dia tidak mau menikah, berarti dia bisa terancam termasuk ke dalam orang yang bukan golongan Nabi. Soal sanggup dan tidak memang relatif penilaiannya. Hadits tentang kata sanggup menikah bisa kita pahami bahwa orang yang sanggup menikah adalah orang yang dari segi pemahaman sudah tahu, tahu bagaimana seharusnya berumah tangga yang sesuai dengan ajaran Islam. Disamping itu juga sanggup memberi nafkah, lahir dan bathin. Orang yang hendak berumah tangga tentu harus punya sumber penghasilan, besar kecilnya kan relatif. Ada yang menuntut kerja harus tetap dulu baru kawin, ini tidak mutlak. Yang penting dia tetap kerja untuk mencari nafkah, bukan kerja tetap.

Kalau kesanggupan itu sudah dimiliki tapi tetap saja seseorang tidak mau menikah padahal umurnya sudah lebih dari 25 tahun maka berarti dia tidak mau melaksanakan sunnah Rasul.

Tentang berdua-duaan antara pria dan wanita yang bukan mahram apalagi hal itu berlangsung di tempat yang sepi, dikhawatiirkan yang menjadi pihak ketiga adalah syaitan untuk menggoda agar mereka berzina dan ini sudah banyak berlangsung sehingga perzinahan terjadi dimana-mana, akibatnya timbul kutukan Allah swt berupa adanya penyakit AIDS yang sangat menakutkan umat manusia di muka bumi sekarang ini. Karena itu larangan berdua-duaan bagi pria dan wanita yang bukan mahram tetap berlaku dan berdosa bagi yang melakukannya, kecuali dalam keadaan terpaksa, misalnya seorang wanita diganggu oleh beberapa pria lalu ada seorang pria lain yang menolong sehingga beberapa pria itu lari ketakutan, maka akhirnya pria dan wanita itu berdua-duaan di suatu tempat, sementara si wanita harus diantar ke rumahnya. Meskipun begitu antara keduanya harus menjaga jarak agar tidak sampai muncul keinginan yang wajar tapi tidak dibenarkan dalam Islam.

Tentang zhihar karena tidak mengerti tentu saja tak ada masalah, karena memang yang bersangkutan tidak mengerti, tapi bukan berarti “wah kalau begitu lebih enak tidak tahu”. Maka seseorang juga akan disiksa Allah di akhirat karena tidak tahunya, karena malas menuntut ilmu.