BERISLAM DENGAN PANCASILA

0
56 views

Islam dan Pancasila merupakan 2 hal prinsipil yang melekat pada diri seorang muslim Indonesia. Saat dia mengucapkan syahadat maka dia adalah muslim yang tunduk pada ajaran Islam. Dan saat dia memegang Kartu Tanda Penduduk atau Paspor Indonesia, maka dia adalah warga Negara Indonesia yang  tunduk pada peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia.  Ini berarti seorang muslim Indonesia menyatukan 2 ideologi sekaligus; Islam sebagai ideologi agama dan Pancasila sebagai ideologi Negara. Alhamdulillah, keduanya menyatu dengan harmonis sejak zaman kemerdekaan Indonesia hingga 72 tahun sekarang ini.

Tentu saja beberapa kalangan belum merasa puas dengan kondisi penyatuan ini. Baginya, Islam harus menjadi ideologi agama dan negara sekaligus. Karena menurutnya, Islam dari langit sementara Pancasila adalah karya manusia. Pemikiran inilah yang kemudian melahirkan gagasan untuk merubah ideologi Negara Indonesia dari Pancasila menjadi Islam. Dengan dukungan dari luar Indonesia, gagasan ini cukup mendapat dukungan dari khalayak, sampai kemudian menjadi terlarang dengan adanya Perpu No. 2 tahun 2017.

Salah satu pertanyaan yang muncul adalah; apakah benar bahwa Pancasila bertentangan dengan Islam karena ia adalah murni karya manusia sehingga tidak Islami? Atau sebaliknya, Islam dan Pancasila adalah 2 hal yang sejalan dan seirama dan Pancasila itu sendiri adalah buah pemikiran yang bersumber dari ilham Tuhan kepada para penyusunnya?

Untuk pertanyaan ini dapat dijawab dengan melihat kelima sila dari Pancasila tersebut.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, jelas dan terang adalah akidah tauhid. Dalil bahwa Islam tidak mentolerir adanya dualisme ketuhanan terdapat dalam QS. Al-Ikhlas ayat 1 “Qul huwa llaahu ahad” (katakanlah, Dia adalah Allah yang Satu). Dalam ayat lain disebutkan “wa ilaahukum ilaahun waahidun” (dan Tuhan kalian adalah Tuhan yang Satu).   Sila Ketuhanan memang mentoleransi agama-agama, bahkan kepercayaan yang berkembang di Indonesia. Namun ini juga tidak bertentangan dengan Islam, karena QS. Al-Baqarah: 256 menegaskan “laa ikraaha fid diin” (tidak ada paksaan dalam memasuki agama). Bahkan dalam QS. Al-Kahfi: 29 disebutkan “wa quill haqq min rabbikum fa man syaa’a fal yu’min wa  man syaa’a fal yakfur” (dan katakana kebenaran itu dari Tuhan kalian, maka siapa yang mau silakan percaya, dan siapa yang mau silakan tidak percaya).

Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, sangat sesuai dengan prinsip pemulyaan manusia, perintah adil dan berakhlak mulia. Pemulyaan manusia misalnya tegas dalam QS. Al-Isra’: 70,  “wa laqad karramna banii aadama…” (dan sungguh Kami muliakan keturunan Adam..). perintah berlaku adil  sangat popular karena setiap khatib Jum’at selalu  menutup khutbah keduanya dengan membaca ayat QS. An-Nahl: 90,  “innal laaha ya’murukum bil ‘adli wal ihsaan” (sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk berlaku adil dan berbuat baik”.

Sila Persatuan Indonesia dengan sendirinya sejalan dengan larangan bercerai berai. QS. Ali Imran: 103 menyebutkan “wa’tashimuu bi hablil laahi jami’an wa laa tafarraquu”. (dan berpeganglah kalian pada tali Allah dan jangan bercerai berai”. Persatuan dan kesatuan juga telah ditunjukkan secara amaliah oleh Rasulullah saw., dengan membuat perjanjian kerjasama pertahanan Negara dengan suku-suku dan agama-agama di Yatsrib (Madinah) yang terkenal dengan Shahifah (Piagam) Madinah.

Sila keempat yang berintikan prinsip kerakyatan, hikmah dan kebijaksanaan, permusyawaratan, dan perwakilan juga tidak memiliki unsure pertentangan dengan Islam.  Kalau kerakyatan diartikan sebagai keberpihakan kepada rakyat maka ini sudah menjadi prinsip hidup Nabi dan para Sahabat. Kaum Muhajirin dan Anshar saat dipersaudarakan oleh Nabi saw., saling memperhatikan dan mendahulukan kepentingan orang lain dari dirinya sendiri. QS. Al-Hasyr: 9 menyebutkan:  “Wa yu’tsiruuna ‘alaa anfusihim walau kaana bihim khashaashah” (dan mereka memprioritaskan orang lain dari diri mereka sendiri, walaupun mereka sendiri berkesulitan). Nabi saw., saat akan wafat selalu menyebut-nyebut ummat nya karena khawatir akan musibah yang mungkin menimpa mereka sepeninggalnya.

Hikmah dan kebijaksanaan semakna dengan penghargaan kepada ‘alim dan ulul abshar, yang dalam Islam sangat dipuji dan ditinggikan derajatnya. Dalam QS. Al-Mujadilah: 9 disebutkan: “Yarfa’il laahul ladziina aamanuu minkum wal ladziina uutul ‘ilma darajaat” (Allah  meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan beberapa derajat). Nabi saw. pun memiliki beberapa sahabat utama yang diajak bermusyawarah dan dimintai pendapat mengenai urusan kenegaraan. Pernah pula Nabi saw., bermusyawarah secara umum terkait persiapan menghadapi perang Uhud. Hal ini dapat menjadi legitimasi dari prinsip permusyawaratan dan perwakilan yang diusung oleh sila Pancasila ini.

Mengenai prinsip keadilan sosial yang berarti pemerataan kesejahteraan bagi rakyat, Islam mensyariatkan zakat, infaq dan shadaqah termasuk konsep amal jariyah. Dalam Islam, kesenjangan antara kaya dan miskin dijembatani dengan janji pahala dan kemuliaan bagi siapapun yang meringankan beban saudaranya.  Keadilan adalah hak yang dijamin oleh Islam bagi setiap manusia, biarpun berbeda warna kulit, ras, dan agamanya. Sebagaimana Islam mengharamkan kezhaliman baik bagi masyarakat biasa terlebih bagi pejabat Negara.

Dari sini dapat dilihat hubungan yang erat  dan kesesuaian antara pokok-pokok ajaran Islam dengan prinsip-prinsip yang ada di dalam Pancasila. Ini  bisa dimaklumi oleh karena penyusunan Pancasila itu sendiri tidak terlepas dari sumbangan pemikiran yang luas, wawasan yang mendalam, serta kearifan para tokoh-tokoh nasional, ulama dan kyai, yang melihat Islam secara subtantif. Bahkan boleh dikatakan, bahwa Pancasila tidak lain adalah terjemahan Islam itu sendiri yang menyesuaikan dengan kondisi sosial budaya dan psikologi masyarakat Indonesia yang plural dengan aneka ragama suku, budaya, dan agama.

Dan mudah-mudahan bukanlah kesimpulan yang premature jika dikatakan bahwa Allah swt., telah merahmati bangsa Indonesia dengan Pancasila. Wallahu ‘alam.