Berimankah Kita ?

0
49 views

Ma`asyiral mukminin rahimakumullah

Semoga tema khutbah ini tidak membuat kita merasa risih dengan pertanyaan tersebut. Karena memang selama ini kita telah beriman kepada Allah dan kita senantiasa berharap agar iman kita senantiasa menaiki tangga ketingian derajatnya.

Ketika kita ditanya, “Bukankah Al-Qur’an itu kalamullah?” pasti kita akan menjawab , “Benar, Al-Qur’an adalah kalamullah”. Kalau ada yang menanyakan, “Bukankah segala sesuatu yang berjalan dan terjadi di muka bumi ini adalah maha karya Allah swt ? kita pun akan mengatakan, “Ya, memang segala sesuatu tidak akan pernah terjadi tampa izin dan kehendak Allah swt.

 

Hadirin rahimahullah, munkin kita juga menyakini bahwa peristiwa yang terjadi di alam ini tidak akan bertentangan dengan apa yang telah digariskan Allah swt dalam kitab-Nya, segala yang Allah gariskan, segala yang Allah tentukan itulah yang akan terjadi. Namum marilah kita lihat diri kita, kita lihat kondisi umum umat ini.. dan marilah kita perhatikan dengan seksama firman Allah berikut ini;

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang berimanan”.

(QS. Ar-Ruum 47)

Namun kenyataannya, dapat kita lihat justru orang-orang mukmin, mereka yang beriman itu banyak yang terlantar dan lemah. Sedang kita juga menyimak dalam petikan firman Allah yang menyatakan ;

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang beriman”. (QS. Al-Munafiqun : 8)

Kembali setelah kita menyimak ayat ini kita juga mendapati banyak orang-orang mukmin terhina dan terjajah. Kita juga bisa membaca firman Allah berikut ini

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman”.(QS. An-Nisaa’ : 141)

Namun ternyata jika kita melihat di sekeliling kita, kita akan melihat bahwa orang-orang yang kafir memiliki seribu satu jalan untuk di atas orang-orang yang mukmin.

Kita juga bisa menyimat beberapa ayat berikut ini;

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آَمَنُوا

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman”. (QS. Al-Haj : 38)

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آَمَنُوا

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman”. (QS. Muhammad : 11)

وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Anfal : 19)


Kenyataan yang ada membuat kita seperti menyimpulkan bahwa kekuatan, kekuasaan dan kemuliaan menjadi nasib baik bagi orang-orang yang tidak beriman, kafir dan ateis, sementara kelemahan, keterbelakangan dan kehinaan adalah nasib orang-orang mukmin. Lantas bagaimanakah semestinya kita memaknai dan memahami ayat-ayat diatas ?

Sidang Jum`ah yang dimuliakan Allah

Sesunguhnya sangat jelas pemahaman ayat-ayat diatas. Segala yang disampaikan pada ayat-ayat tersebut, baik adanya pertolongan, kemuliaan, kekuasaan, maupun dukungan Ilahi adalah jaminan bagi orang-orang mukmin, dan bukan bagi orang-orang yang mengaku-ngaku dirinya beriman dan menamakan dirinya dengan nama-nama islam. Tentunya yang penting adalah hakikat makna dari nama bukan semata-mata pada nama dan istilah.

Jadi apakah kita sudah benar-benar beriman?. Jika keimanan itu diujur dengan mengucapkan kalimat syahadat, melestarikan sebagian syiar-syiar islam, maka kita termasuk orang-orang beriman. Jika keimanan diukur dengan pelaksanaan dan realisasi karakteristik yang telah disebutkan dalam al-qur’an tentang orang-orang yang beriman, maka antara kita dengan keimanan yang tergambarkan dalam al-qur’an ada jarak yang jauh. Orang-orang yang beriman adalah mereka yang mendapat jaminan pertolongan, kemenangan dan dukungan sebagaimana tersebut dalam beberapa ayat diatas. Mereka memiliki karakter dan sifat seperti yang digambarkan dalam kitab-Nya. Aqidah, prilaku dan akhlak mereka menyebabkan mereka berhak mendapatkan pemuliaan dari Allah swt. Tentunya tidak adil bagi kita menyebutkan apa yang dijanjikan allah swt untuk mereka dalam al-quran namun kita mengambil interpretasi hakekat orang-orang beriman selain dari al-qur’an.

Marilah kita renungkan bersama ayat-ayat Allah berikut ini, firman yang menggambarkan kriteria orang-orang yang beriman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ  أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman {594} ialah mereka yang bila disebut nama Allah {595} gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.  Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni’mat) yang mulia”. (QS. Al-Anfal : 2-4)

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ  الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya”. (QS. Al-Mukminun : 1-2)

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar,..”(QS. At-Taubah : 71)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu”.(QS.Al-Hujurat : 10)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al-Hujurat : 15)

Marilah kita dengarkan dengan seksama ayat-ayat ini dan tentunya ayat-ayat lain yang menjelaskan karakter mereka orang-orang yang beriman, yang begitu banyak bertebaran dalam Al-Qur’an,  yang sering kita lantunkan ayat-ayatnya. Kemudian mari kita dengan jujur melihat realitas yang ada, mereka yang menisbatkan dirinya kepada Islam, apa yang dapat kita lihat dari mereka ? dan tentulah mari kita lihat juga diri kita karena kita juga bagian dari mereka. Apakah kita sudah benar –benar beriman ?

Hadirin Rahimahullah …

Kalaulah kita melihat orang lain memperoleh kemenangan, sesungguhnya itu mereka peroleh sesuai ketentuan yang mereka anggap sebagai sunnatullah bagi mahluk ciptaan-Nya. Dan ternyata suatu anggapan terhadap sunnatullah adalah bagian dari keimanan yang sangat penting,  disaat kita meningalkan anggapan itu mereka senantiasa menanamkan nilai itu dalam benak mereka. Ketika orang lain terbangun sebagian kita tetap terlena, mereka terus belajar, sementara diantara kita ada yang tetap tidak bertambah keilmuannya. Ketika orang lain tekun saling bahu-membahu sementara itu masih banyak diantara kita saling mengecewakan, disaat orang lain mempersiapkan bekal untuk hari esok sebagian kita lupa akan kewajiban hari ini. Ketika kaum itu mengorbankan keringat dan darah kita hanya mengorbankan air mata. Manakah diantara keduanya yang lebih dekat dengan logika keimanan yang benar.

Sesungguhnya barangsiapa yang menempuh jalan yang menjadi sebab-sebab kemenangan maka ia akan meraih kemenangan. Semoga dengan ini kita tersadar untuk melihat kembali kualitas keimanan kita, semoga iman kita bukanlah sekedar kata yang menghias dibibir namun sebuah keyakinan yang mampu menggerakkan. Semoga kita senantiasa berupaya menaiki tangga keimanan berikutnya, semoga pohon keimanan kita menumbuhkan cabang-cabangnya yang rimbun dan menghasilkan buahnya. Amien.

Demikian khutbah ini semoga bermanfaat.  

BAGI
Artikel SebelumnyaBacaan Talbiyah
Artikel BerikutnyaDesensitisasi