Beri Makan Saudaramu

0
257 views

Makan Gratis di Amerika

tech.spreadit.orgDi suatu pagi yang dingin di sudut kota di Washington DC Amerika Serikat sekitar pukul 6.30, berbaris antri dengan tertib 50an orang dengan mantel lusuh nan tebal untuk menahan cuaca awal musim semi yang dingin. Mereka sedang mengantri untuk mendapatkan seporsi sarapan pagi yang terdiri dari sepiring bubur nasi ditambah sekerat roti, telor orek dan sepotong sosis babi.

Seorang wanita paruh baya menyapa mereka dan mempersilakannya masuk ke sebuah ruang makan dengan kursi, meja, sendok garpu, sehelai tisu, dan segelas air putih. Sementara itu, di sebelah kiri ruang masuk belasan relawan telah berbaris menyiapkan porsi sarapan mereka dengan sistem ban berjalan ala pabrik; ada yang khusus menyiapkan piring, ada yang menuangkan bubur, ada yang meletakkan roti, ada yang menaruh sosis dan telur, ada pula yang khusus menyerahkan kepada pengantri. Beberapa pengantri muslim dan yahudi menolak diberikan sosis babi karena tidak dibolehkan oleh agama mereka. Di dapur sebelah dalam, beberapa relawan memasak telur, bubur, dan sosis. Acara sarapan berlangsung meriah dengan berbagai ocehan dan canda, ada pula yang diam dan khusyu menghabiskan sarapannya. Pukul 8.00 acara makan selesai, dan para relawan kembali membereskan meja dan kursi serta menyiapkan sendok garpu dan tisu untuk makan siang nanti.

Inilah sepotong kisah yang menjadi keseharian di sebuah gedung yang menjadi pusat aktivitas lembaga sosial yang bernama SOME, singkatan dari So Other Might Eat. Lembaga ini mempunyai aktivitas utama memberikan layanan sarapan pagi dan makan siang gratis bagi masyarakat. Uniknya, lembaga ini menerima begitu banyak permintaan untuk menjadi relawan, sehingga para calon relawan harus mengantri untuk mendapatkan kesempatan melayani. Jika dicermati, lembaga ini sesungguhnya telah melaksanakan sebuah ajaran penting dari setiap agama, yaitu memberi makan kepada yang membutuhkan.

Puncak Kesempurnaan Agama

Dalam Islam, ajaran memberi makan merupakan puncak dari kesempurnaan agama seseorang. Dalam sebuah hadis Nabi saw., disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Diceritakan dari Abdullah bin ‘Amru bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah saw. “Islam manakah yang paling baik?” Nabi saw. menjawab: “Kamu memberi makan dan memberi salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”. (HR. Bukhari).

Dalam al-Qur’an, Allah juga memuji orang-orang yang suka memberi makan orang lain. Mereka diberi julukan sebagai al-abrar, yakni orang-orang yang berbakti. Dalam QS. Al-Insan/78:8

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.

Beberapa keterangan dalam ayat-ayat al-Qur’an menguatkan betapa agama Islam sangat menganjurkan memberi makan orang miskin. Bahkan dalam QS. Al-Ma’un/107:3, disebutkan bahwa orang yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin termasuk katagori pendusta agama. Sedangkan dalam beberapa jenis sanksi bagi mereka yang melanggar atau tidak dapat melaksanakan beberapa kewajiban agama, memberi makan termasuk salah satu jenis sanksinya. Pembayaran fidyah misalnya bagi mereka yang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan, adalah ajaran untuk memberi makan.

Traktir juga Yang Miskin

Salah satu kebiasaan baik yang telah berlangsung dalam masyarakat adalah mentraktir makan teman atau kolega baik pada momen tertentu atau spontanitas. Dalam perayaan-perayaan tertentu seperti hari raya atau syukuran pernikahan, aqiqah, atau sunatan, biasanya juga disajikan aneka makanan untuk disantap bersama. Sayangnya pesta-pesta semacam ini boleh jadi melalaikan atau melupakan golongan miskin dan fakir yang seharusnya menjadi prioritas.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ بِئْسَ الطَّعَامُ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى إِلَيْهِ الْأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْمَسَاكِينُ

Dari Abu Hurairah bahwa dia berkata; Seburuk-buruk jamuan adalah jamuan pesta pernikahan, apabila yang diundang ke pesta tersebut hanya orang-orang kaya saja dengan mengabaikan orang-orang miskin. (HR. Muslim).

Umrah vs Gizi Buruk

Dengan melihat kondisi masyarakat yang saat ini masih banyak mengalami kesulitan dalam hal konsumsi maka menghidupkan dan mengkampanyekan gerakan memberi makan orang miskin layak didahulukan daripada memperbanyak umrah dan haji. Bukankah menjadi sebuah ironi manakala kuota haji dan umrah terpenuhi maksimal sementara ada masyarakat sekitar yang mengkonsumsi nasi aking. Belum lagi terdata berapa banyak anak balita yang mengalami gizi buruk di tengah limpahan anggaran negara yang mencapai 1000an triliun.

Maka janganlah seorang muslim berpuas diri dengan shalat dan hajinya, tanpa menengok kondisi saudara-saudaranya sesama anak Adam yang kesulitan memenuhi kebutuhan akan makan. Sudah saatnya memberi perhatian lebih kepada amalan sosial mengimbangi amalan ritual. Jangan sampai seorang muslim gelagapan ketika mendapat pertanyaan Allah sebagaimana dalam hadis qudsi berikut:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي قَالَ يَا رَبِّ وَكَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِي فُلَانٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ اسْتَسْقَاكَ عَبْدِي فُلَانٌ فَلَمْ تَسْقِهِ أَمَا إِنَّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ وَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Hai anak Adam! Aku sakit, mengapa kamu tidak menjenguk-Ku?” Jawab anak Adam; “Wahai Rabbku, bagaimana mengunjungi Engkau, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sakit, mengapa kamu tidak mengunjunginya? Apakah kamu tidak tahu, seandainya kamu kunjungi dia kamu akan mendapati-Ku di sisinya?””Hai, anak Adam! Aku minta makan kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku makan?” Jawab anak Adam; “Wahai Rabbku, Bagaimana mungkin aku memberi engkau makan, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak tahu, bahwa hamba-Ku si Fulan minta makan kepadamu tetapi kamu tidak memberinya makan. Apakah kamu tidak tahu seandainya kamu memberinya makan niscaya engkau mendapatkannya di sisi-Ku?” “Hai, anak Adam! Aku minta minum kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku minum?” Jawab anak Adam; “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi Engkau minum, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala menjawab: “Hamba-Ku si Fulan minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya kamu memberinya minum, niscaya kamu mendapatkannya di sisi-Ku.” (HR Muslim).

Oleh karena itu, berilah makan saudaramu.

Oleh Dr . Saifudddin Zuhri, MA.