Berhala

0
426 views
newcitychurches.org

by Dr. Abd. Muid N., MA.

Barangkali berhala adalah semacam pembekuan. Sebagaimana orang-orang Arab di masa Nabi Muhammad SAW diutus biasanya membekukan tuhan mereka hingga berbentuk sebuah patung yang terbuat dari apa saja; kadang batu, kadang kayu, dan kadang pula roti yang tega mereka makan saat lapar.

Karena berhala adalah pembekuan, maka apapun yang dibekukan sangat berpotensi menjadi berhala. Sebentuk kepemimpinan yang dibekukan hingga tak tersentuh kritik karena khawatir retak juga adalah semacam berhala. Ini bukan hanya tentang kepemimpinan yang sedang berkuasa, tetapi juga tentang kepemimpinan yang hendak berkuasa. Kepemimpinan yang hendak berkuasa juga rentan dibekukan dengan cara membutakan diri dari kelebihan kekuasaan yang hendak digantikannya hingga hanya melihat kekurangannya.

Demikian pula pemikiran yang dibekukan. Alaminya pemikiran adalah kembara mencari kebenaran. Dan kita tahu kebenaran sering bergerak lebih cepat daripada pengekornya. Karena itulah pencarian kebenaran seperti upaya tanpa henti sepanjang hayat. Namun tidak sedikit orang yang lelah mencari lalu menyatakan diri pensiun dini. Jadilah pemikirannya beku di sebuah tempat, sedangkan kebenaran sudah beringsut pergi menjauhi. Orang-orang yang membekukan pemikirannya seperti ini berpotensi memberhalakan pemikirannya dan—parahnya—bisa saja memberhalakan dirinya sendiri sebagai pemangku kebenaran sejati.

Ada suatu titik di mana pembekuan juga terjadi pada konsep Ketuhanan. Dan ketika itu terjadi, maka Tuhan pun menjadi berhala.

Pemberhalaan adalah penyembahan kepada sesuatu yang diciptakan sendiri lalu dianggap sebagai Tuhan. Al-Qur’an menyebut pemberhalaan sebagai syirk dan pelakunya sebagai musyrik. Kedua kata tersebut berarti ‘sekutu’ atau ‘penyekutuan’. Sepertinya Al-Qur’an hanya mengandaikan dua hal: pertama, ada penyembah Allah SWT semata; dan kedua ada penyembah sesuatu selain Allah SWT dan juga menyembah Allah SWT sekaligus. Hal yang kedua inilah yang disebut syirk. Dan sepertinya Al-Qur’an tidak mengandaikan ada penyembah selain Allah SWT semata dan tidak menyembah Allah SWT sekaligus di saat bersamaan.

Kita ingat bagaimana ingar bingar perdebatan konsep Ketuhanan di dalam sejarah peradaban Islam yang melahirkan berbagai macam aliran teologi. Paling tidak itu adalah tanda bahwa konsep Ketuhanan di dalam Islam tidak beku dan demikian pula dengan Tuhan itu sendiri. Perdebatan itu superti upaya mewarna warni dan mencairkan konsep Ketuhanan agar tidak beku dan menjadi berhala. Upaya pembuminhangusan konsep Ketuhanan yang berbeda, itulah pemberhalaan.

Barangkali kita ingat iktiraf Abu Nuwas. Relasi hamba dengan Allah SWT dalam iktiraf itu tergambar sebagai relasi yang cair dan warna warni. Di satu sisi ada hamba yang dinamis; tidak semata-mata taat dan juga tidak semata-mata residivis. Di sisi lain ada Tuhan yang juga tidak pejal; tidak semata-mata tegas dan juga tidak semata-mata subtil.

Abu Nuwas meratap:

aku tidak layak surga, tapi aku tidak kuat neraka;

jika Engkau Mengampuni, Engkau memang lah Pengampun; jika Engkau Menolak, lalu ke mana lagi aku berharap?

Allah SWT milik Abu Nuwas bukanlah berhala.

Bahan Bacaan

Gerald R. Hawting, “Idolatry and Idolaters”, dalam Jane Dammen McAuliffe (ed.), Encyclopaedia of the Qur’an, Vol. 2, (Leiden: Brill, 2002)

BAGI
Artikel SebelumnyaDar Arqam
Artikel BerikutnyaBasmalah