Berdakwah kepada Keluarga

0
12 views

Penyair-penyair Arab biasanya selalu menampilkan kebolehan mereka dalam bersyair. Masyarakat dari berbagai suku berkumpul untuk membanggakan penyairnya masing-masing. Thufeil bin Amr Ad Dausi salah seorang diantara mereka, ia punya pengaruh besar bagi suku Daus.

Suatu ketika Thufeil berkunjung ke Makkah. Kalangan Kafir Quraisy takut kalau Thufeil menemui Muhammad saw, karena itu ia disambut dengan berbagai kesenangan dan kemewahan. Mereka berkata kepada Thufeil: “Muhammad itu memiliki ucapan laksana sihir yang dapat mencerai-beraikan anak dari bapak dan seseorang dari saudaranya, bahkan suami dari istrinya, karena itu janganlah mendengar kata-katanya”.

Kemana Thufeil pergi, mereka selalu membuntuti dan Thufeil menutup telinganya dengan kapas agar tidak mendengar perkataan Nabi Muhammad saw. Tapi ketika Nabi Muhammad saw sedang shalat dekat Ka’bah, terdengar pula sebagian bacaannya.

“Aku ini seorang pandai dan mampu membedakan mana yang baik, mana yang tidak. Tak ada salahnya jika aku mendengar perkataan Muhammad, yang baik aku terima dan yang jelek kutinggalkan”, begitu katanya dalam hati.

Setelah Rasulullah saw shalat, Thufeil menemuinya, lalu berkata: “Ya Muhammad, kamu selalu menakut-nakuti terhadap urusanmu, hingga kututup telingaku dengan kapas agar tidak mendengar ucapanmu, tapi kenyataannya kudengar pula bacaan shalatmu, karena itu kemukakanlah urusanmu padaku”, pintanya.

Nabi Muhammad saw langsung menjelaskan ajaran Islam dengan bahasa yang mudah dipahami. “Demi Allah, tak pernah kudengar satu ucapanmu yang lebih baik dari itu”, komentarnya pada Nabi. Lalu Thufeil mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda masuk Islam.

“Ya Rasul, aku seorang yang ditaati oleh kaumku, akan kembali kepada mereka dan kuserukan Islam di sana”. Tekadnya kepada Rasul.

Setiba di kampung halamanya, ia jelaskan Islam pada bapaknya, lalu bapaknya masuk Islam. Kemudian kepada ibunya, maka ibunya bersyahadat. Setelah itu ia jelaskan Islam pada istrinya yang juga mengambil sikap serupa. Ketika itu hatinya tentram karena Islam telah menghiasi rumahnya. Dakwah dilanjutkan kepada seluruh penduduk Daus, tapi hinaan, cacian dan pengucilan yang ia alami, tak ada yang masuk Islam kecuali Abu Hurairah.

Kesabarannya mulai menurun, kekurang-berhasilannya dalam dakwah dilaporkannya kepada Rasul. Lalu ia berkata, “Ya Rasul, mohonkanlah kepada Allah agar ia menghancurkan Daus, dan datangkanlah mereka ke sini dengan memeluk Islam”.

Mendengar do’anya, Thufeil terpesona dengan kesabaran Rasulullah saw, “kembalilah kamu kepada kaummu, serulah mereka dan bersikap lemah lembutlah kepada mereka”, ujar Rasul kepada Thufeil.

Thufeil kembali ke kampungnya untuk berdakwah seperti yang diajarkan Rasul. Beberapa waktu kemudian 80 keluarga Daus datang menghadap Rasul dengan membaca takbir dan tahlil, mereka duduk di hadapan Rasul dan menyatakan masuk Islam. Setelah itu Thufeil menyendiri, duduk termenung mengingat do’a yang dibacakan Rasul beberapa waktu lalu.

Demikianlah, Thufeil terus berjuang mensyiarkan Islam, keberhasilannya tak lepas dari bantuan do’a Rasulullah dan dukungan dari keluarganya.

Dari kisah di atas, pelajaran yang kita peroleh adalah:

1.      Dakwah kepada keluarga merupakan sesuatu yang harus mendapat perhatian dari setiap muslim.

2.      Diperlukan kesabaran dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah agar hal itu dapat dilakukan secara berkesinambungan.

 

BAGI
Artikel SebelumnyaHonor Dakwah
Artikel BerikutnyaNikmat Sehat yang “Menipu”