Berbukalah dengan Kurma

0
17 views

Ada keterkaitan khusus antara puasa dan buah kurma. Pada bulan Ramadhan, banyak kaum muslimin  yang tak ketinggalan mengkonsumsi buah ini saat berbuka. Entah ini terjadi karena mereka sekadar  ikut-ikutan menjalankan tradisi  Ramadhan atau memang mereka paham mengapa mereka melakukan hal tersebut.

Nabi saw sendiri menganjurkan kepada umatnya agar makan buah kurma ketika berbuka puasa. Diriwayatkan dari Salman r.a. bahwa Nabi saw bersabda, “Ketika kalian berbuka puasa, makanlah kurma. Jika tidak ada, berbukalah dengan minum air, karena air itu suci.” (HR Abu Dawud)

Tidak diragukan lagi, terdapat hikmah dan faedah luar biasa pada anjuran Nabi saw yang mengutamakan buah ini sebagai makanan pembuka disbanding makanan lain karena buah kurma mengandung manfaat yang sangat besar bagi kesehatan.

Ketika seorang  muslim mulai berbuka, semua perangkat metabolisme bersiap-siap menerima masuknya makanan, dimulai dengan perangkat pencernaan terutama lambung. Setelah berpuasa seharian dan sistem metabolisme beristirahat, seharusnya kita mengaktifkan kembali berbagai perangkat pencernaan dengan cara dan makanan yang lembut. Namun, pada saat yang sama, tubuh membutuhkan asupan glukosa untuk menghilangkan rasa lapar.

Dalam keadaan seperti itu, makanan yang dapat dicerna dan diserap dengan cepat untuk kemudian dialirkan ke seluruh tubuh melalui darah adalah makanan yang mengandung kadar gula cukup tinggi, terutama yang mengandung glukosa atau sukrosa, karena tubuh dapat mencerna dan menyerapnya dengan mudah dan cepat dalam hitungan menit bahkan detik, apalagi jika lambung dalam keadaan kosong seperti  dialami oleh orang yang berpuasa. Jika kita mencari materi atau makanan yang paling cocok untuk memenuhi rasa lapar sekaligus haus adalah kurma sesuai anjuran Nabi saw.

Ketika glukosa memasuki tubuh saat kita berbuka, proses oksidasi asam-asam lemak berhenti sehingga terputus pula jalan masuk apparatus ketone yang berbahaya, menghilangkan perasaan depresi atau stress, perasaan lemah pada seluruh tubuh, serta sedikit ketegangan pada system saraf akibat oksidasi lemak dalam jumlah yang cukup besar. Masuknya glukosa itu juga menghentikan sintesis glukosa dari asam-asam amino di dalam liver sehingga protein yang masih tersisa bisa kembali disimpan sebagai cadangan dan tidak ada lagi sekresi asam amino, Karena tubuh telah mendapatkan glukosa.

Penelitian kimia dan biologi menunjukkan bahwa bagian yang dapat dimakan dari sebutir kurma mencapai 85 hingga 87 persen. Sebutir kurma mengandung sekitar 20-24% air, 70-75% gula, 2-3% protein, 8,5% serat, dan sejumlah materi lain berupa lemak. Penelitian lain menunjukkan bahwa kurma basah mengandung 65-70% air, 24-58% gula, 2-2,1% protein, 55,5% serat, dan sisanya berupa lemak.

Dr. Ahmad Abdurauf Hisyam menyebutkan bebarapa poin penting hasil penelitian kimia dan fisiologi mengenai manfaat kurma:

1.       Makan kurma basah atau kurma kering ketika berbuka puasa akan memberikan asupan zat gula kepada tubuh sehingga gejala kekurangan gula akan segera hilang dan semua perangkat tubuh bisa kembali beraktivitas.

2.       Lambung yang kosong dari makanan akan mudah menyerap zat gula yang terkandung dalam kurma dengan mudah dan cepat.

3.       Perangkat pencernaan dapat dengan mudah mencerna dan menyerap zat gula pada kurma karena komponen kimiawinya yang sederhana sehingga kadar gula dalam darah dapat meningkat dengan cepat.

4.       Kandungan air yang cukup banyak pada kurma dapat memenuhi kebutuhan tubuh terhadap air sehingga kita tak perlu minum air terlalu banyak ketika berbuka.

Sebaliknya, jika saat berbuka kita makan makanan yang struktur kimiawinya cukup rumit, misalnya berupa protein, karbohidrat, dan lemak, maka butuh waktu yang cukup lama bagi perangkat pencernaan untuk mencerna dan menyerap semua makanan itu. Padahal ketika berbuka, tubuh kita membutuhkan sesuatu materi yang bisa diserap dengan cepat dan mudah. Di sinilah kita memahami hadis Nabi saw yang memerintahkan kita agar memilih kurma sebagai makanan pembuka saat kita berbuka puasa.

Sumber:  Dr. Jamal Elzaky, Buku Induk Mukjizat Kesehatan Ibadah