Berbisnis dengan Allah (bag. 2): Riba

0
27 views

eksploitasiAjaran Tauhid melahirkan keyakinan bahwa segala sesuatu bersumber dari Allah dan berkesudahan kepada-Nya. Dia-lah pemilik mutlak dan tunggal, yang dalam genggaman-Nya segala sesuatu, termasuk kepemilikan harta dan kewenangan menetapkan aturan pengelolaan dan pengembangannya. Karena Allah Maha Adil dan selalu memerhatikan kemaslahatan umat manusia, maka semua ketetapan hukum-Nya atau produk ijtihad manusia yang dikaitkan dengan nama-Nya, tentulah harus bercirikan keadilan dan kemaslahatan. Termasuk dalam hal menginvestasikan harta tidak boleh terlepas dari aspek kemaslahatan dan keadilan itu. Dari sini lahir larangan riba, apa pun definisi kita tentang riba, sebab dalam riba unsur utamanya adalah kezhaliman, yakni eksploitasi yang lemah oleh yang kuat.

Keharaman riba tidak perlu diperdebatkan lagi karena telah disepakati berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan ijma seluruh ulama Islam. Masalahnya adalah apa yang dimaksud oleh al-Qur’an dengan riba yang diharamkan itu? Berkembangnya praktik-praktik ekonomi mendorong para ulama untuk terus membahas masalah ini, apakah praktik-praktik transaksi ekonomi itu sama dengan riba yang diharamkan oleh al-Qur’an sehingga ia pun menjadi haram, ataukah tidak sama.

Kata riba dari segi bahasa berarti “kelebihan”. Tetapi jika berhenti hanya pada arti ini, maka tidak mengherankan logika yang dikemukakan oleh kaum musyrik yang beranggapan bahwa kelebihan yang diperoleh dari modal yang dipinjamkan tidak lain kecuali sama dengan keuntungan (kelebihan yang diperoleh dari) hasil perdagangan (QS. Al-Baqarah/2: 275). Walaupun al-Qur’an hanya menjawab pertanyaan mereka dengan menyatakan: “Tuhan menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah/2: 275), pengharaman dan penghalalan tersebut tentunya tidak dilakukan tanpa adanya “sesuatu” yang membedakannya, dan “sesuatu” itulah yang menjadi penyebab keharamannya.

Dalam al-Qur’an ditemukan kata riba terulang sebanyak delapan kali dalam empat surah, yaitu al-Baqarah, Ali ‘Imrân, al-Nisâ, dan al-Rûm. Tiga surah pertama adalah Madaniyyah, sedang surah al-Rûm adalah Makkiyah. Dari rangkaian ayat-ayat tersebut dapat dipastikan bahwa surah al-Rûm adalah ayat pertama yang berbicara tentang riba. Selanjutnya, al-Suyuti, mengutip riwayat-riwayat Bukhari, Ahmad, Ibn Majah, Ibn Mardawih, dan al-Baihaqi, berpendapat bahwa ayat yang terakhir turun tentang riba adalah QS. Al-Baqarah 278-281, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkannlah sisa riba, jika kamu orang-orang yang beriman.

Pembahasan tentang riba yang diharamkan al-Qur’an dapat dikemukakan dengan menganalisis kandungan ayat-ayat al-Qur’an surah Ali ‘Imrân/3: 130 dan al-Baqarah/2: 278, atau lebih khusus lagi dengan memahami kata-kata kunci pada ayat-ayat tersebut, yaitu adh‘âfan mudhâ‘afah, mâ baqiya min al-ribâ, dan fa lakum ru’ûsu amwâlikum, lâ tazhlimûna wa lâ tuzhlamûn.

Adh‘âfan Mudhâ‘afah

Dari segi bahasa, kata adh‘âfan adalah bentuk jamak (plural) dari kata dha‘f yang diartikan sebagai “sesuatu bersama dengan sesuatu yang lain yang sama dengannya (ganda)”. Sehingga adh‘âfan mudhâ‘afah adalah pelipatgandaan yang berkali-kali. Sejumlah mufassir, seperti at-Thabrany, Mujahid, dan Qatadah, sebagaimana diuraikan dalam kitab tafsir Jami‘ al-Bayân fî Tafsîr al-Qur’ân, mengemukakan riwayat-riwayat yang menunjukkan kepada penjelasan bahwa adh‘âfan mudhâ‘afah yang dimaksud adalah praktik riba yang berlangsung pada masa jahiliyah ketika al-Qur’an diturunkan.

Dari sejumlah riwayat yang dikemukakan tersebut, terdapat beberapa hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, penambahan dari jumlah piutang tidak dilakukan pada saat transaksi pertama kali, tetapi dikemukakan oleh kreditor  atau pun oleh debitor pada saat jatuhnya masa pembayaran. Dalam hal ini, al-Maraghi berkomentar dalam tafsirnya: “Riba pada masa jahiliyah adalah riba yang dinamai pada masa kita sekarang ini dengan riba fahisy (riba yang keji atau berlebih-lebihan), yakni keuntungan berganda. Tambahan yang fahisy (berlebih-lebihan) ini terjadi pada masa pelunasan, dan tidak ada dari penambahan itu dalam transaksi pertama.”

Kedua, dari sejumlah riwayat tentang riba yang dikemukakan ulama tidak semuanya menyebutkan bentuk penambahannya, dan sebagian lagi menyebutkan penambahan itu adalah perkalian dua kali. Hal ini mengantar pada satu dari dua kemungkinan: 1) memahami masing-masing riwayat secara berdiri sendiri sehingga “riba yang terlarang adalah penambahan dari jumlah utang dalam kondisi tertentu, baik berlipat ganda maupun tidak berlipat ganda; atau 2) memadukan riwayat-riwayat tersebut, sehingga penambahan yang dimaksud oleh riwayat-riwayat yang tidak menyebutkan pelipatgandaan adalah penambahan yang berlipat ganda. Pendapat kedua ini secara lahir didukung oleh redaksi syah.

Al-Thabari kemudian menyimpulkan bahwa riba adh‘âfan mudhâ‘afah adalah penambahan dari jumlah kredit akibat penundaan pembayaran atau apa yang dinamai dengan riba an-nasi’ah. Kesimpulan at-Tabari ini didukung oleh Muhammad Rasyid Ridha yang menurutnya juga merupakan kesimpulan Ibn Qayyim.

Telah dikemukakan bahwa kata adh‘âfan mudhâ‘afah berarti berlipat ganda. Sedangkan dalam riwayat-riwayat ada yang menjelaskan pelipatgandaan dan ada pula yang sekadar penambahan. Kini kita kembali bertanya: Apakah yang diharamkan itu hanya penambahan yang berlipat ganda ataukah segala bentuk penambahan dalam kondisi tertentu?

Yang pasti bahwa teks ayat berarti “berlipat ganda”. Mereka yang berpegang pada teks tersebut menyatakan bahwa ini merupakan syarat keharaman. Artiya, bila tidak berlipat ganda, maka ia tidak haram. Sedangkan pihak lain menyatakan bahwa teks tersebut bukan merupakan syarat tetapi penjelasan tentang bentuk riba yang dipraktikkan pada masa turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Sehingga, penambahan walaupun tanpa pelipatgandaan adalah haram.

Hemat kami, untuk menyelesaikan masalah ini perlu diperhatikan ayat terakhir yang turun menyangkut riba, khususnya kata-kata kunci yang terdapat di sana, yaitu wa dzarû mâ baqiya min al-ribâ dan fa lakum ru’ûsu amwâlikum.  

Wallâhu A‘lam

*Disadur dari tulisan-tulisan Prof. Dr. M. Quraish Shihab