Berbisnis dengan Allah (bag. 1)

0
41 views

Al-Qur’an al-Karim dalam semua uraiannya, termasuk dalam bidang ekonomi, selalu memandang manusia secara utuh, sehingga al-Qur’an memaparkan ajarannya dengan memerhatikan kepentingan individu dan masyarakat. Individu dilihatnya secara utuh, fisik, akal, dan kalbu; dan masyarakat dihadapinya dengan menekankan adanya kelompok lemah dan kuat. Tetapi tidak menjadikan mereka dalam kelas-kelas yang saling bertentangan, justru mendorong mereka untuk bekerjasama guna meraih kemaslahatan individu tanpa mengorbankan masyarakat atau sebaliknya.

Dalam menangani seluruh masalah kehidupan, Islam sangat menekankan sisi moralitas, karena itu hukum-hukum yang ditetapkan Allah tidak boleh dilanggar, termasuk ketika melakukan kegiatan ekonomi. Rasul saw pernah bersabda: “Aku tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak.” Akhlak yang dimaksud mencakup hubungan antar manusia dengan Allah, dengan sesama manusia, alam semesta, serta dengan diri sendiri.

Kegiatan ekonomi merupakan salah satu aspek hubungan antar manusia. Karena itu, aspek moral tidak boleh ditinggalkan dalam setiap kegiatannya. Hubungan timbal balik yang harmonis, peraturan dan syarat yang mengikat, serta sanksi, merupakan tiga hal yang selalu berkaitan dengan bisnis, dan di atas ketiga hal tersebut ada etika.

Begitu pentingnya mengedepankan etika dalam berbisnis, sehingga Allah menganjurkan untuk memberi tangguhan waktu bagi seseorang yang berutang dan dia dalam kesukaran, bahkan menyedekahkan sebagian dari utang itu dinilai sebagai perbuatan yang lebih baik. Demikian dalam firman-Nya:

Dan jika (orang berutang) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang itu) lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah/2: 280)

Tetapi perlu diingat bahwa penekanan pada landasan moral ini sama sekali tidak berarti menolak perolehan keuntungan materi atau tidak memperhitungkan manfaat ekonomis. Keberhasilan ekonomi dalam pandangan Islam terletak pada kesesuaian antara kebutuhan moral dan material.

Prinsip Dasar Ajaran Ekonomi Islam

Ekonomi yang secara sederhana dapat dikatakan sebagai “perilaku manusia yang berhubungan dengan kegiatan mendapat uang dan membelanjakannya” memperoleh perhatian yang besar dari al-Qur’an dan Sunnah. Sedemikian pentingnya persoalan ini sehingga al-Qur’an dalam mengajak manusia memercayai dan mengamalkan tuntunannya, seringkali menggunakan istilah-istilah yang dikenal oleh dunia ekonomi dan bisnis; seperti jual beli, untung rugi, kredit, dan sebagainya. Perhatikan, antara lain, firman-Nya:

Siapakah yang ingin memberi qardh (kredit) kepada Allah dengan kredit yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (qardh itu) untuknya dan dia akan memperoleh ganjaran yang mulia.” (QS. Al-Hadîd/57: 11)

Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan satu perniagaan yang menyelamatkan kamu dari siksa yang pedih?” (QS. Ash-Shâf/61: 10)

Sebagai imbalan dari perniagaan itu:

Allah mengampuni dosa-dosa kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggi yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keuntungan yang besar.” (QS. Ash-Shâf:/61: 12)

Mereka yang tidak ingin melakukan aktivitas kecuali bila memperoleh keuntungan, dilayani oleh al-Qur’an  dengan menawarkan satu bursa yang tidak mengenal kerugian dan penipuan:

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin harta dan jiwa mereka dan sebagai imbalannya mereka memperoleh surga.”

Ayat ini lalu ditutup dengan pernyataan:

Siapakah yang lebih menepati janjinya (selain Allah). Maka bergembiralah dengan jual beli yang kamu lakukan itu. Itulah keuntungan yang besar.” (QS. At-Taubah/9: 111)

Demikian terlihat al-Qur’an menggunakan logika pelaku bisnis dalam menawarkan ajaran-ajarannya. Tentu saja, tidak semua persoalan ekonomi dirinci oleh al-Qur’an karena persoalan ini berkembang dari masa ke masa.

Secara umum, kita dapat menyimpulkan prinsip dasar ajaran Islam pada keyakinan Tauhid. Dari sini lahir prinsip-prinsip yang menyangkut segala aspek kehidupan dunia dan akhirat, termasuk ekonomi. Tauhid dapat diibaratkan matahari yang menjadi pusat edar, dan disekitarnya berkeliling planet-planet tata surya yang tidak dapat melepaskan diri darinya. Demikian halnya dengan tauhid; di sekelilingnya ada kesatuan-kesatuan yang tidak dapat dilepaskan darinya, seperti kesatuan kemanusiaan, kesatuan alam raya, kesatuan dunia dan akhirat, kesatuan hukum dengan keadilan dan kemaslahatan, dan sebagainya.

Kesatuan kemanusiaan mengantar pengusaha muslim menghindari segala bentuk eksploitasi terhadap sesama manusia, muslim atau non muslim. Dari sini dapat dimengerti mengapa al-Qur’an mengharamkan riba atau aktivitas ekonomi yang mengandung penipuan. Kesatuan akan dunia dan akhirat mengantar seseorang untuk memiliki visi yang jauh ke depan, dan tidak hanya berupaya mengejar keuntungan duniawi saja.

Tauhid juga melahirkan keyakinan bahwa segala sesuatu bersumber dari Allah dan berkesudahan kepada-Nya. Dia-lah pemilik mutlak dan tunggal, yang dalam genggaman-Nya segala sesuatu, termasuk kepemilikan harta dan kewenangan menetapkan aturan pengelolaan dan pengembangannya. Dan karena Allah Maha Adil dan selalu memerhatikan kemaslahatan umat manusia, maka semua ketetapan hukum-Nya atau produk ijtihad manusia yang dikaitkan dengan nama-Nya, tentulah harus bercirikan keadilan dan kemaslahatan. Termasuk dalam hal menginvestasikan harta tidak boleh terlepas dari aspek kemaslahatan dan keadilan itu. Dari sini lahir larangan riba, apa pun definisi kita tentang riba, sebab dalam riba unsur utamanya adalah kezhaliman, yakni eksploitasi yang lemah oleh yang kuat. Wallâhu a’lam

* Tulisan ini disadur dari berbagai tulisan Prof. Dr. M. Quraish Shihab