Berat

0
188 views
santabanta.com

by Dr. Abd. Muid N., MA.

Belakangan ini, di sini, semesta kabar terasa semakin membosankan. Layar kabar tidak lebih dari suguhan relasi penuduh/pelapor dan tertuduh/terlapor yang semakin tidak bermutu. Pelapor dan terlapor saling menembakkan tuduhan kebohongan sedangkan kita—barisan para penikmat—curiga sangat berat bahwa tidak satupun dari mereka yang benar-benar tidak bohong. Dalam hati, para penikmat berkata: Saatnya berhenti bertanya mana yang benar. Kini waktunya menghakimi mana yang paling tidak berat kadar kebohongannya.

Kita tidak perlu terlalu heran apalagi merana. Fenomena di atas hanya mungkin terjadi di masyarakat yang memang cinta berat kepada kebohongan dan tidak sedikitpun punya rindu kepada kebenaran. Kita lah produsen sekaligus konsumen orang-orang yang saling melempar tuduhan kebohongan yang tidak bermutu itu. Mareka ada karena kita ada.

Kalaupun kita juga gatal untuk menuduh, barangkali kita akan menuduh mereka yang telah mengajari kita menilai segala hal dari permukannya, senyumnya, manis katanya, pakainnya, retorikanya, teriakannya, kemasyhurannya di dunia maya, dan segala kulit-kulit tentangnya. Tetap kita mesti hati-hati menuduh, bukan karena takut dituduh balik mencemarkan nama baik, namun lebih karena bisa saja kita lah yang menciptakan orang-orang seperti mereka, bukan mereka yang menciptakan kita. Karenanya, yang seharusnya tertuduh adalah diri kita, bukan mereka.

Sepertinya yang sungguh terjadi bukanlah persoalan siapa yang tertuduh dan siapa yang menuduh apalagi persoalan manakah yang benar antara yang tertuduh ataukah penuduh. Para konsumen layar kabar pun tidak berhasrat mengetahui mana yang dan siapa yang benar karena konsumen sudah punya dukungan mati-matian kepada salah satunya dan menyimpan kebencian hingga sekarat kepada yang lain; tanpa peduli mana yang benar. Yang konsumen inginkan hanyalah dukungan mereka memenangkan pertarungan dan lawan mereka babak belur tanpa ampun.

Penuduh dan tertuduh pun sungguh paham bahwa mereka sedang berbicara kepada masyarakat seperti apa dan juga tahu sedang mencari dukungan dari masyarakat yang bagaimana. Pedulikah mereka bahwa ucapan mereka harus benar? Bagaimana mereka peduli jika mereka tahu bahwa masyarakat yang mereka hadapi adalah masyarakat tidak peduli kebenaran? Masyarakat yang mereka kerjai adalah adalah masyarakat fans club yang tidak peduli apakah klub yang mereka dukung benar atau tidak. Bagi mereka, yang penting menang karena masyarakat pun demikian.

Sebagai masyarakat yang menyukai para pembual, kita tidak perlu khawatir jika para pembual itu selalu ada karena kita lah yang membutuhkan kehadiran mereka karena barangkali kitalah para pembual itu sesungguhnya. Dan sebagaimana biasa, pembual selalu butuh oran lain. Kita membual, maka kita ada.

Dahulu ada keluhan bahwa masyarakat tidak lebih dari konsumen yang dengan tanpa memilah menelan semua yang dihidangkan oleh media. Telanan itulah yang kemudian membentuk siapa masyarakat itu kini. Barangkali itu adalah fase pertama dari proses panjang masyarakat banal.

Setelah terbentuk, lalu masuk fase kedua ketika media tinggal merawat bentukan itu, yaitu merawat masyarakat yang sudah kadung cinta berat pada kedangkalan serta tampilan permukaan. Akibatnya, masyarakat semakin terlelap di dalam ketidaksadarannya yang dalam.

Lalu masuk fase ketiga, yaitu fase di mana masyarakat seperti terbangun tetapi sesungguhnya masih terlelap; seperti orang yang sedang bermimpi di mana dalam mimpinya dia sedang terjaga. Dalam keadaan seperti itu, masyarakat merasa sadar, tetapi itu tidak lebih dari kesadaran semu. Parahnya, keadaan seperti inilah yang dimanfaatkan oleh mereka yang punya modal dana dan daya. Mereka mempermainkan kesadaran semu itu lalu mengarahkannya sesuai kepentingan mereka dan jika perlu, dengan mengendarai simbol-simbol primordial atau bahkan simbol yang sakral dan atas nama keyakinan tertentu.

Kondisi seperti di atas adalah kenyataan yang paling mengenaskan karena—dalam kesadaran semunya—masyarakat mengira sedang menjadi produsen kebenaran, padahal sesungguhnya mereka telah dilantik oleh para pemilik dana dan daya untuk menjadi produsen kebohongan dan menjadi cecunguk yang memperjuangkan kepentingan para pemilik dana dan daya.[]

BAGI
Artikel SebelumnyaPemboikotan