Berani Berijtihad

0
57 views

Dalam sebuah kesempatan, seorang ustaz sedang dalam perjalanan ke sebuah acara. Demi keamanan dan kenyamanan, Pak Ustaz berangkat dari rumah sebelum zuhur untuk acara yangdiselenggarakan bakda asar. Perjalanan menjadi lama dan melelahkan karena jalannya macet total. Waktu shalat Zuhur sudah hampir habis sementara mobil yang ditumpangi Pak Ustaz masih terjebak di dalam kemacetan yang parah. Apa yang harus Pak Ustaz lakukan? Haruskah dia turun dari mobil lalu mencari tempat yang cukup untuk shalat Zuhur? Atau cukupkah dengan melaksanakan shalat di mobil dan bertayammum di sandaran kursi? Ataukah pak Ustaz langsung saja ke acara dan nanti shalat Zuhur di jamak dengan shalat Asar?

 

4.bp.blogspot.comSituasi dan kodisi seperti yang dialami Pak Ustaz di atas jamak terjadi di Jakarta dan di kota-kota besar lainnya. Kondisi seperti ini memberi beberapa pilihan (multiple choice) supaya kewajiban shalat tetap terlaksana. Di sinilah diperlukan apa yang disebut dengan Ijtihad.

Apakah ijtihad itu? Buku-buku dan kitab-kitab fiqih mendefinisikan ijtihad sebagai upaya mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki untuk mencari dan mendapatkan sebuah solusi hukum. Dalam kasus di atas, Pak Ustaz harus memilih satu di antara tiga pilihan. Apapun pilihan yang diambilnya, Pak Ustaz harus mengerahkan segenap ilmu dan pemahaman yang dimiliki untuk memilih mana di antara tiga opsi tersebut yang terbaik.

Ijtihad bukan hal yang aneh. Ijtihad juga bukan sesuatu yang langka atau teramat agung sehingga hanya orang-orang langka dan teramat agung pula yang boleh melakukannya. Ijtihad seharusnya menjadi teman akrab bagi setiap muslim. Sebab dia diperlukan setiap saat. Ketika seseorang tidak mengetahui arah kiblat secara pasti, maka dia harus berijtihad untuk mencari arah mana yang “paling mendekati kebenaran”. Ketika seseorang yang sakit mengetahui bahwa obat yang dikonsumsinya terdapat unsur dari benda yang tidak halal dikonsumsi, dia pun harus berijtihad menentukan apakah dia meneruskan mengkonsumsi obat tersebut atau tidak. Ketika ada informasi bahwa lempeng bumi sudah bergerak jauh sehingga mempengaruhi arah kiblat, maka para pengurus masjid pun harus berijtihad untuk menentukan apakah posisi masjid harus dirubah atau tidak.

Sekian banyak hal menuntut seorang atau komunitas muslim untuk berijtihad. Bisa jadi persoalan yang memerlukan ijtihad tersebut adalah hal yang kecil dan mudah untuk diputuskan, bisa juga hal yang besar yang memerlukan energi lebih besar.

Ijtihad

Ketika al-Qur’an turun, banyak persoalan, peristiwa, dan pertanyaan yang langsung dijawab oleh al-Qur’an. Dalam hal seperti ini, Nabi saw., tinggal mengikuti dan menyampaikan jawaban dari al-Qur’an tersebut. Namun dalam bebarapa situasi, Nabi saw., sendiri pun dituntut untuk berijtihad. Dalam kasus Perang Badar misalnya, sesuai dengan hukum perang, maka pasukan musuh yang menyerah otomatis menjadi tawanan pihak yang menang. Ketika kemenangan berada di pihak kaum muslimin dalam Perang Badar, banyak anggota pasukan musuh yang menjadi tawanan kaum muslimin. Pada waktu itu, Nabi saw., menanti-nanti wahyu untuk memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap tawanan tersebut. Abu Bakar ra., mengusulkan agar pihak musuh membayar tebusan untuk memperkuat keuangan pasukan muslim. Sementara Umar ra., mengusulkan supaya tawanan itu dibunuh sebagaimana hukum perang yang berlaku pada masa itu. Pada akhirnya, Nabi saw., berijtihad memilih pendapat Abu Bakar. Maka turunlah wahyu yang “justru” membenarkan pendapat Umar ra..

Ayat-ayat al-Qur’an yang memerintahkan Nabi saw., untuk banyak bermusyawarah dengan para sahabat dalam mengambil sebuah keputusan, sesungguhnya mempertegas kebutuhan dan kepentingan untuk berijtihad. Sebab logika sehat membuktikan tidak mungkin setiap persoalan akan dibahas dan diputuskan oleh wahyu. Sebab jika harus demikian maka jumlah ayat-ayat al-Qur’an akan ‘melimpah’.

Selain Nabi saw., para sahabat pun dianjurkan untuk berijtihad. Ketika Muaz bin Jabal diutus untuk menjadi hakim di Yaman, Nabi bertanya kepadanya. “Bagaimana engkau mengambil sebuah keputusan? Muaz menjawab, “Berdasarkan Kitabullah”. Nabi bertanya lagi, “Jika engkau tidak menemukannya dalam al-Qur’an? Muaz menjawab, “Berdasarkan sunnah rasul-Nya”. Nabi bertanya lagi, “Jika engkau tidak menemukannya dalam Sunnah?” Muaz menjawab, “Saya akan berijithad dengan pendapatku sendiri”. Nabi lalu berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah member hidayah kepada utusannya Utusan Allah”.

Pintu Ijtihad Tertutup?

Dalam perjalan zaman, tibalah masa di mana perkembangan keilmuan Islam begitu pesatnya. Di saat ITU  kitab-kitab tafsir dan fiqih telah tersusun berjilid-jilid. Saat di mana para ulama mazhab telah selesai merampungkan konstruksi mazhabnya. Saat di mana segala persoalan, baik yang sudah, sedang, maupun diperkirakan akan terjadi telah ditulis jawabannya dalam kitab-kitab fiqih. Saat di mana kehidupan berjalan ajeg tanpa ada lompatan-lompatan teknologi dan informasi. Tidak ada prasangka sedikitpun bahwa kehidupan akan berubah. Bahwa revolusi industri yang akan membawa dampak sosial yang berbeda di dunia ini akan terjadi. Saking tidak adanya persoalan intelektual yang tersisa untuk dibahas, sehingga muncullah kesimpulan bahwa tidak perlu lagi ada ijtihad. Simpelnya: pintu ijtihad sudah tertutup.

Kesimpulan bahwa pintu ijtihad telah tertutup inilah yang dianggap sebagai “biang” mandegnya kemajuan masyarakat muslim. Upaya-upaya untuk membuat sesuatu yang baru, misalnya menafsirkan ulang ayat-ayat al-Qur’an dengan perspektif dan paradigma baru, dicut oleh ketabuan yang dibuat pada masa itu. Ijtihad dijadikan monumen (atau museum) yang hanya bisa dilihat, tanpa bisa dirubah atau dibuat yang baru. Ijtihad menjadi barang pusaka yang turun temurun menjadi warisan yang diterima “bilaa kaifa” (tanpa pertanyaan).

Energi untuk Bangun dari Tidur Panjang

Kesadaran dan kebangkitan dari dogma ijtihad yang tertutup mulai bergaung dengan munculnya tokoh-tokoh pembaharu. Mereka lahir di berbagai belahan dunia. Lahir dan munculnya tokoh Jamaluddin al-Afghani di Afghanistan, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha di Mesir,  Muhammad Iqbal di India, Mustafa Kemal di Turki, dengan berbagai corak, aliran, dan konsentrasi pembaruan yang mereka perjuangkan membawa dan melahirkan warna baru dalam masyarakat Islam yang modern. Keberanian para tokoh-tokoh ini memperjuangkan ide-ide baru sekaligus “membongkar” pintu ijtihad yang selama itu dianggap tertutup rapat.

Sayangnya, berbagai tantangan dan aral masih menghalang dan memperlambat revolusi dan reformasi Islam. Masih dibutuhkan ENERGI yang lebih besar dalam upaya menembus tirai tebal nan kelabu yang masih menyelimuti “tidur nyenyak” umat Islam. Masih dibutuhkan ribuan dan jutaan lagi “ustaz-ustaz” yang BERANI BERIJTIHAD. Wallahu A’lam.

By Dr. Saifuddin Zuhri, MA.

BAGI
Artikel SebelumnyaJiwa Pemimpin
Artikel BerikutnyaMusibah