Berakhir Indah atau Celaka

0
36 views

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ ».

Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “sesungguhnya ada orang yang beramal dengan amalan ahli surga dalam waktu yang lama, kemudian amalannya diakhiri dengan amalan ahli neraka. Ada juga orang yang beramal dengan amalan ahli neraka dalam waktu yang lama kemudian amalannya diakhiri dengan amalan ahli surga. (HR. Muslim).

Ada beberapa kata kunci atau kosakata penting dalam hadis di atas:

  1. Ar-rajul. Kata rajul  mencakup makna seorang laki-laki dan, tokoh laki-laki atau perempuan. Imbuhan “al” memberi tambahan pemahaman ta’rifiyah yakni dikenal atau difahami oleh orang yang berbicara dan yang mendengar. Penggunaan kata ini secara bebas, yakni tidak diiringi dengan kata an-nisa, menjadikannya bermakna laki-laki dan perempuan.
  2. Az-zamanath thawil, berarti masa yang panjang. Tidak dibatas berapa lama, namun dapat difahami bahwa itu adalah waktu yang lama atau sangat lama.
  3. ‘Amal ahlil jannah. Mencakup segala perbuatan dan tindakan yang menjadikan orang masuk surga, seperti ibadah yang baik, akhlak yang baik. Ia adalah kebalikan dari amalan ahlun nar, yakni amalan buruk yang membawa pelakunya masuk neraka.
  4. Yukhtam. Kata ini berasal dari “khatama” yang berarti mengakhiri dan mengunci. Dalam bentuk pasif berarti diakhiri.

fachrie230389.files.wordpress.comSecara umum, hadis ini mengajarkan bahwa  telah ada atau akan ada seseorang, mungkin laki-laki, mungkin pula perempuan. Orang ini dalam waktu yang lama sudah menekuni amaliah atau amalan-amalan yang (pasti) membawanya masuk surga. Akan tetapi, amalan-amalan tersebut diakhirinya dengan amalan yang memasukkannya ke neraka. Sebaliknya, ada orang yang mungkin laki-laki atau perempuan, dalam waktu yang lama menekuni amalan-amalan yang pasti membawanya masuk neraka, namun amalan itu diakhirinya dengan amalan surga.

Husnul khatimah berarti penutupan usia dengan baik. Sedangkan su’ul khatimah berarti penutupan usia secara buruk. Kondisi ketika tutup usia atau meninggal dunia bagi seorang manusia merupakan masa penentuan baik buruk dirinya. Hal inilah yang disinggung oleh hadis tersebut di atas. Boleh jadi di awal-awal kehidupannya, seseorang termasuk orang yang baik. Namun karena sesuatu dan lain hal, di akhir hidupnya dia berperilaku buruk sehingga di meninggalkan dunia ini dalam kondisi tersebut. Sebaliknya, mungkin terjadi seseorang dalam awal dan pertengahan hidupnya tergolong orang yang berperilaku buruk, namun di ujung usianya di bertaubat dan menjadi orang baik. Akhirnya dia meninggal dalam keadaan yang baik.

Karena itu, seseorang tidak dapat merasa pasti akan kemungkinan mengalami husnul khatimah atau su’ul khatimah. Dalam arti lain, seseorang yang selama  ini sudah melalui dan menjalani hidupnya dalam aturan-aturan ilahiyah, ibadahnya kepada Allah dilaksanakan dengan baik, interaksinya dengan sesama manusia juga telah dilakoninya dengan baik, belum dapat diklaim bahwa dia pasti masuk surga. Sebab, kehidupan belum usai. Kemungkinan-kemungkinan buruk bisa saja terjadi pada dirinya. Boleh jadi di kala tertentu dalam hidupnya dia tergoda untuk melanggar aturan Allah, dan ketika dia dalam keadaan melanggar itu ajal menjemputnya, maka dia mengakhiri hdupnya dengan buruk.

Seseorang juga tidak dapat dan tidak boleh mengklaim orang lain sebagai ahli neraka, meskipun amalan orang tersebut sejauh ini menunjukkan bahwa dia adalah ahli neraka. Mungkin saja dia orang yang tenggelam dalam kefasikan. Berbuat maksiat dan melalaikan ibadah menjadi warna kehidupannya sehari-hari. Atau mungkin dia orang yang tidak beragama, sehingga tidak ada aturan apapun yang berlaku bagi dirinya. Namun, boleh jadi dan sangat terbuka kemungkinan bagi dirinya untuk sadar dan mengakhiri kefasikannya. Atau dia mendapatkan hidayah dan menjadi muslim yang taat. Ketika dia berada dalam kondisi yang baik Ini kemudian ajal menjemputnya, maka dia meninggal dalam keadaan yang baik.

Sementara ajal seseorang adalah misteri. Tidak seorang pun tahu kapan ajalnya tiba. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf/7: 34:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

Pelajaran yang dapat diambil dari hadis ini antara lain adalah:

  1. Tetaplah istiqamah (konsisten) dalam amalan ahli surga, dan jangan metolerir penyimpangan yang mungkin terjadi tanpa disengaja, apalagi disengaja.
  2. Selalu bertaubat kepada Allah, baik atas dosa yang disadari maupun yang tidak disadari.
  3. Menjaga agar tidak memiliki beban dosa kepada sesama, baik karena kezaliman, maupun hak yang tidak terbayarkan.
  4. Selalu berprasangka baik kepada setiap orang. Jangan ‘mentang-mentang’ ada orang yang sedemikian buruk akhlaknya, lalu menutup diri dari berbuat baik kepadanya atau mengajaknya kepada kebaikan.
  5. Banyak berdoa agar Allah menjaga dan memelihara selalu dalam kebaikan.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua tetap dalam koridor menuju surga. Dan kapanpun ajal itu tiba, kita dalam keadaan husnul khatimah. Amin. []

By Saifuddin Zuhri

BAGI
Artikel SebelumnyaTetangga Oh, Tetangga
Artikel BerikutnyaKiblat