Benturan

0
26 views

Oleh Abd Muid N.

Menurut Akbar S. Ahmed-dalam Posmodernisme: Bahaya dan Harapan bagi Islam-antara Islam dan Barat saat ini telah terjadi tiga benturan historis. Yang pertama berlangsung berabad-abad. Dimulai dari terbitnya Islam, kedatangan pasukan Islam di Sicilia dan Perancis, ketika berlangsung perang salib dan berakhir pada abad ke-17 ketika pasukan Utsmaniah dihentikan di Wina.

Di Eropa hal ini menciptakan citra tentang Islam yang agresif dan mengancam. Benturan kedua terjadi pada masa kolonialisme Eropa menjajah dunia ketiga yang adalah negara-negara Muslim. Benturan ini berlangsung mungkin satu abad, dan konsekuensinya sangat parah, dan dalam banyak hal masih terasa hingga kini. Pada akhir bentura kedua, setelah Perang Dunia II, ketika bangsa-bangsa Muslim muncul sebagai kekuatan merdeka, terlihat perbedaan antara peradaban Barat yang menang dan terus berkembang, dan peradaban Muslim yang menderita dan kehilangan kepercayaan dan arah intelektual.

Benturan ketiga terjadi ketika kultur Barat universal dan dominasi teknologinya menyerang peradaban Muslim. Islam begitu terancam dan mudah diserang, karena serangan itu tidak berbentuk dan muncul dalam bentuk-bentuk yang sama sekali tak terduga dan di tempat-tempat yang tak terduga. VCR dan TV tidak membutuhkan visa atau paspor; bisa menginvasi rumah-rumah yang paling terisolasi dan menantang nilai-nilai tradisional. Belum lagi kini ada internet yang membuat dunia bisa diminikan sehingga tidak lebih dari sebuah desa global (global village) versi McLuhan, atau bahkan stadion global (global stadium) versi Guy Debord.

Mungkin bentuk benturan itu kini mengalami penambahan. Populasi umat Islam di Barat yang dulunya adalah para imigran dan kini telah menjadi etnis minoritas adalah sebentuk benturan tersendiri. Tidak sedikit pribumi Barat yang was-was dengan kenyataan ini. “Invasi Islam pertama di Eropa berhenti di [dalam pertempuran] Poitiers pada tahun 732. Yang kedua berhenti di gerbang Wina pada tahun 1683. Sekarang kita harus menghentikan invasi diam-diam yang sedang terjadi saat ini,” kata Geert Wilders, mengomentari pesatnya pertumbuhan umat Islam di Eropa.

Mark Steyn, penulis laris America Alone asal Kanada mengatakan bahwa imigrasi dan angka kelahiran yang tinggi umat Islam di Barat akan membentuk 40 persen populasi di Eropa di tahun 2025. Peringatan serupa datang dari diplomat Amerika, Timothy Savage, yang menyatakan bahwa perkiraan mayoritas Muslim di Eropa Barat pada pertengahan abad ini “mungkin bukan omong kosong” jika kecenderungan ini terus terjadi, yang akan meningkatkan risiko konflik. Sejarahwan Inggris Niall Ferguson telah menulis bahwa “masyarakat muda Muslim di selatan dan timur Mediterania berencana untuk menjajah Eropa.” Dan wartawan Amerika Christopher Caldwell meramalkan bahwa “perlabuhan” dan “keyakinan diri” Islam tampaknya akan memaksakan kehendaknya pada kebudayaan Eropa yang memang “tidak mempertahankan diri” dan bersifat “relativistik”.

Namun tidak semua pribumi Barat berpandangan demikian suram. Ada juga seorang bernama William Underhill yang melihat polemik tentang populasi umat Islam yang semakin meningkat adalah hal yang terlalu dibesar-besarkan. Salah satu alasan Underhill untuk “tidak takut” dengan kenyataan populasi umat Islam yang sedang berlangsung itu adalah karena dia memandang Islam itu tidak “satu”. Baginya, ketakutan hanya akan terjadi bila pribumi Barat memandang Islam itu satu. Padahal, bagi Underhill, berbicara tentang Islam berarti berbicara tentang Sunni dan Syi’i yang tidak pernah berhenti berkonflik; tentang demikian banyak faksi dalam Islam yang selamanya akan berbeda dan sering berbeda tajam. Belum lagi kenyataan adanya perbedaan karakter masing-masing umat Islam di negara-negara berbeda di Eropa.

Di satu sisi, Underhill mendakwahi kawan-kawannya di Barat bahwa mereka tidak perlu khawatir bahwa Islam itu adalah agama yang mengancam. Namun di sisi lain Underhill sedang berkata: “Umat Islam itu tidak akan pernah besatu.”

Bacaan:

http://www.newsweek.com/id/206230/page/2

Akbar S. Ahmed, Posmodernisme: Bahaya dan Harapan bagi Islam, Bandung: Mizan, 1994.