Bentuk Perbuatan Zalim (Bagian III)

0
47 views

Tidak ada manusia yang suka bila dizalimi, namun sifat lupa dan dikuasai oleh hawa nafsu membuat manusia justeru melakukan kezaliman, baik disadari maupun tidak. Selain yang sudah kita bahas pada tulisan terdahulu, akan kita bahas lagi beberapa bentuk perbuatan zalim yang penting untuk kita ketahui agar kita tidak memiliki dan melakukannya.

1.     Mengaku Bisa Mencipta Seperti Ciptaan Allah

Manusia memang memiliki kreativitas yang tinggi sehingga ia bisa membuat sesuatu dari apa yang ada. Kayu yang berasal dari pohon dibuat menjadi kursi, meja, lemari, bahkan rumah dan sebagainya. Namun semua itu sebenarnya bukan mencipta (khalaqa) dalam arti membuat sesuatu dari tidak ada sama sekali menjadi ada, tapi hal itu hanyalah membuat atau menjadikan (ja’ala). Ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian berkembangan bahkan semakin canggih membuat manusia sudah bisa membuat sesuatu yang baru dari sebelumnya tidak ada, namun dari bahan-bahan yang sudah ada, tembaga, besi dan sejenisnya yang sudah ada berhasil dibuat menjadi mobil hingga pesawat terbang bahkan robot yang banyak membantu manusia, namun semua itu tidak akan pernah bisa membuat manusia mencipta seperti yang telah dicipta oleh Allah swt.

Karena itu, ketika manusia sudah bisa mengembangkan sesuatu menjadi sesuatu yang lain, janganlah ia merasa sudah bisa mencipta seperti Allah swt mencipta, ini merupakan kezaliman yang sering tidak disadari oleh manusia karena merupakan suatu kesombongan yang sangat tidak pantas dimiliki oleh manusia yang sebenarnya amat lemah, dalam satu hadits Rasulullah saw bersabda:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِى فَلْيَخْلُقُوْا ذَرَّةً فَلْيَخْلُقُوْا بَعُوْضَةً

Artinya: Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengaku bisa menciptakan seperti ciptaan-Ku (kalau bisa) cobalah ia membuat sebutir biji jagung atau buatlah seekor nyamuk (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam kehidupan ini kita dasapi saat dimana Allah swt menunjukkan kekuasaannya dengan berbagai kejadian seperti badai, cuaca yang sangat dingin atau panas hingga gempa bumi dan tsunami yang kesemua itu membuat manusia tidak berdaya, sehebat apapun ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah berhasil dicapai, padahal itu hanyalah sebagian kecil bahkan amat kecil dari kekuasaan Allah swt yang sangat besar.

2.     Mengambil Milik Orang Lain

Setiap orang punya hak untuk memiliki sesuatu, karenanya hak memiliki itu harus kita hormati dengan tidak mengambilnya. Mengambil milik orang lain tanpa alas an yang bias dibenarkan merupakan sesuatu yang sangat tidak dibenarkan di dalam Islam, jangankan banyak, sedikitpun tidak dibolehkan karena hal ini merupakan bagian dari kezaliman yang akan dibalas oleh Allah swt dengan balasan yang menyakitkan. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ ظَلَمَ قِيْدَ شِبْرٍ مِنَ الأَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَِرَضِيْنَ

Artinya: Barangsiapa yang berbuat zalim (mengambil hak orang lain) dengan ukuran sejengkal tanah, maka akan dikalungkan (di lehernya) dari tujuh lapis tanah (HR. Bukhari dan Muslim).

Salah satu yang seringkali menjadi sengketa diantara sesama manusia adalah mengubah batas-batas tanah. Setiap orang tentu ingin memiliki tanah atau lahan yang luas, dengan lahan yang luas itu ia bisa mendirikan bangunan yang besar dan luas untuk dijadikan sebagai tempat tinggal serta lahan usaha. Keinginan seperti itu merupakan sesuatu yang wajar sehingga seseorang diperbolehkan mencapainya dengan cara-cara yang benar. Namun, sangat tidak dibenarkan bila seseorang ingin mendapatkan atau memiliki lahan yang luas, tapi dicapai dengan cara mengambil atau merampas lahan orang lain meskipun hanya sejengkal atau dua jengkal tanah dengan cara mengubah batas-batasnya agar tanah orang lain menjadi miliknya, ini merupakan sesuatu yang dilaknat oleh Allah swt sebagaimana sabda Rasulullah saw:

لَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ اْلأَرْضِ

Artinya: Allah melaknat orang yang mengubah tanda-tanda batas tanah (HR. Ahmad, Muslim dan Nasa’i)ُثم ِفرهُوجلَّorang lain) طَوَّ

3.     Menunda Bayar Utang

Dalam hidup ini, manusia seringkali melakukan hubungan muamalah dengan sesamanya, salah satunya adalah transaksi jual beli. Namun dalam proses jual beli tidak selalu dilakukan secara tunai atau seseorang tidak punya uang padahal ia sangat membutuhkannya, maka iapun meminjam uang untuk bisa memenuhi kebutuhannya, inilah yang kemudian disebut dengan utang. Sebagai manusia, apalagi sebagai muslim yang memiliki harga diri, sedapat mungkin utang itu tidak dilakukan, apalagi kalau tidak mampu membayarnya, kecuali memang sangat darurat, karena itu seorang muslim harus hati-hati dalam masalah utang, Rasulullah saw bersabda:

ِايَّاكُمْ وَالدَّيْنِ فَاِنَّهُ هَمٌّ بِاللَّيْلِ وَمَذَلَّةٌ بِالنَّهَاِر

Artinya: Berhati-hatilah dalam berutang, sesungguhnya berutang itu suatu kesedihan pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) pada siang hari (HR. Baihaki)

Bagi seorang muslim, utang merupakan sesuatu yang harus segera dibayar, ia tidak boleh menyepelekannya meskipun nilainya kecil. Bila seorang muslim memiliki perhatian yang besar dalam urusan membayar utang, maka ia bisa menjadi manusia yang terbaik. Rasulullah saw bersabda:

 خَيْرُ النَّاسِ خَيْرُهُمْ قَضَاءً

Artinya: Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar utang (HR. Ibnu Majah).

Namun apabila manusia yang berutang tidak mau memperhatikan atau tidak mau membayarnya, maka hal itu akan membawa keburukan bagi dirinya, apalagi dalam kehidupan di akhirat nanti, hal ini karena utang yang tidak dibayar akan menggerogoti nilai kebaikan seseorang yang dikakukannya di dunia, kecuali bila ia memang tidak mempunyai kemampuan untuk membayarnya, Rasulullah saw bersabda:

 اَلدَّيْنُ دَيْنَانِ فَمَنْ مَاتَ وَهُوَيَنْوِىْ قَضَاءَهُ فَأَنَا وَلِيُّهُ وَمَنْ مَاتَ وَلاَيَنْوِىْ قَضَاءَهُ فَذَالِكَ الَّذِىْ يُؤْخَذُمِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ يَوْمَئِذٍ دِيْنَارٌ وَلاَدِرْهَمٌ.

Artinya: Utang itu ada dua macam, barangsiapa yang mati meninggalkan utang, sedangkan ia berniat akan membayarnya, maka saya yang akan mengurusnya, dan barangsiapa yang mati, sedangkan ia tidak berniat akan membayarnya, maka pembayarannya akan diambil dari kebaikannya, karena di waktu itu tidak ada emas dan perak (HR. Thabrani).

Oleh karena itu bila kita punya utang harus segera membayarnya dan bila uangnya sudah ada tapi kita tidak segera membayarnya, maka hal itu tergolong kezaliman yang tidak disadari atau tidak dipahami oleh manusia, karena yang lebih bagus adalah membayar utang sebelum jatuh tempo, Rasulullah saw bersabda:

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ وَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيْءٍ فَلْيَتْبَعْ

Artinya: Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah kezhaliman. Dan apabila salah seorang dari kalian dialihkan (pembayaran utangnya) kepada orang kaya, maka hendaklah ia menerima pengalihan itu (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah).يقضى بين الناس

 

 

Akhirnya menjadi tugas kita semua untuk menegakkan keadilan dan menghancurkan kezaliman dalam berbagai bentuknya dalam kehidupan ini, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat dan bangsa. Semua ini harus kita mulai diri kita sehingga jangan sampai kita melakukan hal-hal yang termasuk ke dalam bentuk kezaliman.

Oleh Drs. H. Ahmad Yani

BAGI
Artikel SebelumnyaWorkshop Dakwah Jepara
Artikel BerikutnyaDo’a Bulan Rajab