Bentuk Perbuatan Zalim (Bagian II)

0
59 views

stat.kompasiana.comSebagai orang yang harus menjauhi segala bentuk kezaliman, maka kita harus memahami apa saja bentuk-bentuk kezaliman sehingga apa yang sebenarnya sikap dan perbuatan zalim tidak kita lakukan. Selain yang sudah kita bahas pada tulisan terdahulu, melalui tulisan ini akan kita bahas beberapa hal lagi.

1. Tidak Mensyukuri Nikmat

Secara harfiyah, syukur berasal dari kata syakara yang artinya membuka. Ini berarti bersyukur adalah menampakkan nikmat yang Allah swt berikan kepada kita, baik dalam bentuk sikap, ucapan maupun perbuatan sebagaimana firman-Nya: Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (QS. Adh Dhuha/93:11).

Sebagai hamba Allah, amat penting bagi kita untuk bersyukur kepada-Nya, karenanya syaitan terus berusaha menggoda manusia agar mereka menjadi hamba-hamba Allah yang tidak pandai bersyukur. Tekad syaitan untuk menggoda manusia ini diceritakan Allah swt di dalam Al-Qur’an: Iblis berkata: “Karena Engkau telah menyesatkan aku, maka aku akan menghadang mereka di jalan-Mu yang lurus, kemudian akan kudatangi mereka dari depan dan dari belakan, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan akan Kau dapati kebanyakan mereka tidak bersyukur (QS. Al A’raf/7:16-17).

Sebagai manusia, kita merasakan betapa besar dan banyak kenikmatan yang kita peroleh dalam hidup ini, karena begitu banyak, kitapun tidak mampu menghitungnya, itu sebabnya kita tidak diperintah untuk menghitung nikmat, tapi yang diperintah kepada kita adalah mensyukuri kenikmatan itu. Karena itu, tidak mensyukuri nikmat yang Allah swt berikan kepada kita merupakan suatu kezaliman, Allah swt berfirman: Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrahim/14:34).

Sejarah mencatat banyaknya manusia yang diazab Allah swt karena tidak mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya, sebut saja Qarun pada masa Nabi Musa as yang diberi kekayaan begitu banyak sehingga begitu banyak lemari yang dimilikinya untuk menyimpan kekayaan itu, karena banyak lemari, banyak pula kuncinya, karena begitu banyak kuncinya bila dikumpulkan menjadi satu, orang tidak mampu mengangkatnya, dibutuhkan beberapa ekor sapi untuk menarik gerobak yang mambawa kuncinya itu. Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bagi kita semua untuk mensyukuri nikmat yang datang dari Allah swt.  

Ada tiga cara untuk bersyukur. Pertama, bersyukur dengan hati, yakni mengakui di dalam hati bahwa kenikmatan yang kita peroleh merupakan karunia dari Allah swt, bukan karena kehebatan diri kita sendiri. Kedua, bersyukur dengan lisan, yakni memuji Allah swt atas karunia yang diberikan-Nya kepada kita dengan mengucapkan hamlah. Karenanya sesudah memperoleh kenikmatan kita ucapkan alhamdulillah seperti bangun tidur, sesudah makan, sesudah buang air besar dll. Ketiga, bersyukur dengan amal, yakni memanfaatkan apa yang sudah kita peroileh untuk mengabdi kepada-Nya sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya: Beramallah wahai keluarga Daud sebagai tanda syukur (kepada Allah) Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur (QS. Saba/34:13).

2.     Mementingkan Kemewahan Duniawi

Setiap orang yang harus pasti ingin memperoleh kenikmatan yang bersifat duniawi dan hal itu boleh saja dicapai dengan cara-cara yang halal dan tidak menghalalkan segala cara. Bahkan, banyak di antara manusia yang menginginkan kenikmatan duniawi yang lebih besar dan banyak sehingga hal ini disebut dengan kemewahan duniawi. Namun, satu hal yang harus disadari oleh manusia, apalagi kaum  muslimin bahwa meraih kemewahan duniawi dicapai dengan harga yang amat mahal, sementara manusia memiliki keterbatasan dalam memperoleh sesuatu.

Karena itu mementingkan kemewahan dunia seringkali menyebabkan manusia mengabaikan tugas amar makruf (memerintahkan kebaikan) dan nahi munkar (mencegah keburukan), bila itu yang terjadi, iapun tidak segan-segan untuk melakukan kezalimanm sehingga banyak perbuatan yang bernilai dosa yang dilakukannya dalam kehidupan ini, Allah swt berfirman: Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil diantara orang-orang yang Kami selamatkan diantara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa (QS. Hud/11:116).

Sejak awal Rasulullah saw sudah mengingatkan kita semua agar waspada akan kemungkinan kita terserang penyakit terlalu cinta pada dunia, hal ini karena sehebat apapun potensi dan sebanyak apapun jumlahnya, umat ini akan menjadi begitu lemah sehingga diilutrasikan bagaikan makanan lezat yang diperebutkan orang yang lapar, cermin dari ketidakberdayaan, Rasulullah saw bersabda:

يُوْشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ اْلأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى اْلأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا, قِيْلَ: أَوَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ يَارَسُوْلَ اللهِ؟. قَالَ: بَلْ إِنَّكُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرُوْنَ وَلَكِِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَقَدْ نَزَلَ بِكُمُ الْوَهْنُ. وَمَا الْوَهْنُ يَارَسُوْلَ اللهِ؟. قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkok. Para sahabat bertanya: “Apakah saat itu jumlah kami sedijkit ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih air bah dan kalian ditimpa penyakit wahn.” Mereka bertanya lagi: “Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Terlalu cinta dunia dan takut kepada mati” (HR. Abu Daud).

3.     Memperolok dan Menghina Orang Lain

Sebagai manusia, kita harus menjalin hubungan yang sebaik mungkin kepada orang lain. Untuk itu, kepada sesama manusia kita harus saling kenal mengenal, apalagi begitu banyak perbedaan disebabkan latar belakang jenis kelamin, kesukuan dan kebangsaan, namun semua itu memberi pelajaran kepada kita bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada harta atau kesukuan dan kebangsaannya, tapi pada ketaqwaannya, Allah swt berfirman:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu terdiri dari seorang lelaki dan perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah diantara kamu adalah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al Hujurat/49:13).

Ayat di atas turun berkenaan dengan suatu peristiwa yakni ketika Fath Makkah, Bilal mengumandangkan adzan di atas Ka’bah, lalu ada orang berkata: “Bagaimana mungkin budak hitam ini justeru mengumandangkan adzan di atas Ka’bah.” Bahkan ada pula yang mengatakan: “Apa Allah akan murka kalau bukan dia yang mengumandangkan adzan.”

Keharusan kita untuk menjalin hubungan dengan baik kepada sesama manusia karena sebenarnya antar sesama manusia kita saling membutuhkan, itu sebabnya jangan sampai hubungan antar satu atau sekelompok orang menjadi rusak dan kerusakan itu seringkali terjadi karena saling memperolok atau menghina yang akhirnya menyebabkan terjadinya permusuhan. Dalam konteks inilah, perbuatan memperolok dan menghina orang lain termasuk kezaliman yang sangat tidak dibenarkan, apalagi belum tentu orang yang kita hina dan kita olok-olok lebih buruk dari diri kita, Allah swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari (wanita yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (QS Al Hujurat/49:11).

Dari uraian di atas, menjadi jelas bagi kita bahwa kezaliman bisa dilakukan manusia terhadap Allah swt, dirinya dan orang lain. Karena itu segala sikap, ucapan dan perbuatan yang mengarahkan pada kezaliman harus kita hindari dalam kehidupan ini.

Oleh Drs. H. Ahmad Yani