Bentuk Perbuatan Zalim (Bagian I)

0
159 views

Ketika disebut kata zalim, bisa jadi yang terbayang di benak kita adalah seorang raja yang diktator dan kejam kepada rakyatnya atau seseorang yang menganiaya orang lain. Bayangan kita itu tidaklah salah, namun masih banyak sisi-sisi kezaliman yang harus kita ketahui sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits Rasulullah saw. Zalim adalah melakukan perbuatan yang melewati batas terhadap jiwa, harta atau kehormatan orang lain. Ada banyak macam-macam bentuk kezaliman yang harus dihindari oleh setiap muslim yang menginginkan akhlak atau kepribadian yang mulia.

Kezaliman bisa dilakukan manusia kepada Allah swt, kepada orang lain, bahkan kepada dirinya sendiri yang kesemua itu harus dijauhi dari profil diri kita.

1.    Syirik Kepada Allah

Syirik kepada Allah swt adalah menganggap atau menjadikan selain Allah swt sebagai tuhan, ini merupakan syirik yang besar sehingga pelakunya bisa dinyatakan kafir dan keluar dari Islam (murtad). Seandainya sebelum itu dia melakukan amal yang shaleh, maka terhapuslah nilai amalnya itu, Allah swt berfirman: Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam,” padahal Al Masih sendiri berkata: Hai bani israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang-orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolongpun (QS Al Maidah/5:72).

Syirik kepada Allah merupakan bagian dari kezaliman, bahkan kezaliman yang besar, hal ini karena manusia telah melewati batas-batas kewajaran dalam mengagungkan sesuatu sehingga Allah swt yang semestinya dijadikan sebagai Tuhan malah pihak lain yang dijadikannya sebagai tuhan, syirik kepada Allah termasuk perbuatan zalim disebutkan dalam firman Allah: Dan ingatlah ketika Lukman  berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS Luqman/31:13).

Syirik kepada Allah termasuk kezaliman disebutkan juga di dalam ayat lain, Allah swt berfirman: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al An’am/6:82).

Karena syirik kepada Allah swt merupakan bentuk kezaliman, maka meskipun kemusyrikan yang kecil, Rasulullah saw sudah amat mengkhawatirkan bila hal itu kita lakukan. Syirik yang kecil itu adalah riya atau mengharapkan pujian dari amal shaleh yang dilakukan seseorang, bila hal ini selalu dilakukan dalam beramal, maka seseorang bisa jadi tidak bisa masuk surga karena masuk surga harus dengan bekal amal shaleh yang banyak, sedangkan orang ini tidak punya nilai dari amal shalehnya karena terhapus dengan riya, itu sebabnya Rasulullah saw sangat khawatir bila umatnya melakukan syirik yang kecil, beliau bersabda:

ِانَّ اَخْوَفَ مَا اَخَافُ عَلَيْكُمْ اَلشِّرْكُ  اْلأَصْغَرُ. قَالُوْا: وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟. قاَلَ: اَلرِّيَاءُ

Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syirik yang kecil. Sahabat bertanya: “Apakah syirik yang kecil itu ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Riya.(HR. Ahmad).

2.    Mengolok-Olok Ayat Allah

Ayat-ayat Allah swt merupakan salah satu hal yang harus diyakini kebenarannya dan dihormati. Karena itu, mengolok-olok ayat-ayat Allah merupakan tindakan yang sangat tercela sehingga dikategorikan sebagai perbuatan zalim, karena itu bila kita tidak mampu mengatasi atau menglaihkan pembicaraan yang mengolok-olok ayat Allah swt, maka kita harus menjauhi orang yang demikian, ini menunjukkan betapa mengolok-olok ayat Allah swt merupakan suatu kezaliman, karena seharusnya ayat-ayat itu menjadi pedoman hidup yang harus dituruti, Allah swt berfirman: Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (QS Al An’am/6:68)

Termasuk dalam kaitan ini adalah mempermainkan hukum Allah seperti merujuk isteri yang telah dicerai untuk mendatangkan kemudaratan bagi bekas isterinya, Allah berfirman:  Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang makruf atau ceraikanlah mereka dengan cara yang makruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan. Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al kitab dan Al Hikmah (sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertaqwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al Baqarah/2:231).

Oleh karena itu sikap kita kepada wahyu yang datang dari Allah swt berupa Al-Qur’an adalah meyakini kebenarannya dan tidak ada keraguan sedikitpun, suka membacanya dengan baik dan benar, berusaha memahaminya secara utuh dan menyeluruh, bersungguh-sungguh dalam mengamalkan meskipun berat dan besar kendalanya serta senang menyebarluaskannya meskipun ada orang yang tidak mau menerimanya.

3.    Membunuh Tanpa Alasan Yang Benar

Hidup di dunia ini merupakan hak yang harus diperoleh setiap manusia, karena itu manusia, apalagi seorang muslim tidak boleh merampas hak asasi manusia dengan membunuh tanpa alasan yang bisa dibenarkan, karena itu membunuh merupakan salah satu dari bentuk kezaliman yang tidak dibenarkan di dalam Islam, Allah swt berfirman:  Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan (QS Al Isra/17:33).

Karena membunuh tanpa alasan yang bisa dibenarkan merupakan suatu kezaliman, maka pelakunya terancam tidak memperoleh ampunan dari Allah swt. Pada dasarnya semua dosa akan diampuni oleh Allah swt, apalagi Dia memang Maha Pengampun. Namun prinsip agama yang dilanggar manusia apalagi hal itu sangat besar nilai dosanya bisa membuat manusia tidak diampuni oleh Allah swt, ini menunjukkan betapa nyawa manusia amat berharga apalagi nyawa seorang mukmin, sementara persaudaraan antara sesama, apalagi antar sesama muslim harus betul-betul dibangun dan dipelihara, bukan malah permusuhan yang dikembangkan apalagi sampai membunuh. Kemurkaan Allah swt yang besar kepada pelaku pembunuhan seorang mukmin membuat tidak diperoleh ampunan dari-Nya, Rasulullah saw bersabda:

كُلُّ ذَنْبٍ عَسَى اللهُ أَنْ يَغْفِرَهُ إِلاَّ مَنْ مَاتَ مُشْرِكًا أَوْ قَتَلَ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا

Semua dosa semoga Allah mengampuninya, selain orang yang mati musyrik atau membunuh orang mukmin dengan sengaja (HR. Abu Daud, Ahmad, Nasa’i dan Hakim).

Oleh sebab itu, bila kita sedang marah kepada orang lain, menahan diri untuk tidak melampiaskan kemarahan merupakan sesuatu yang amat terpuji, apalagi bila kita bisa memaafkan kesalahan orang itu, karena kemarahan yang dilampiaskan bisa memicu tindakan yang lebih besar lagi, yakni perkelahian hingga terjadi pembunuhan, karenanya menahan amarah dan memaafkan merupakan salah satu sifat atau ciri orang yang bertaqwa kepada Allah swt sehingga hal ini termasuk sesuatu yang amat baik sebagaimana firman-Nya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS Ali Imran/3:133-134).

Meskipun demikian tidak semua bentuk pembunuhan tidak dibolehkan, pada surat Al Isra ayat 33 di atas dikemukakan juga membunuh yang dibolehkan karena ada alasan yang benar seperti membunuh saat berperang melawan orang-orang kafir atau pelaku kejahatan yang memang tidak bisa dihindari, begitu juga dengan melakukan eksekusi terhadap orang yang dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan karena kesalahan yang dilakukannya. Ini berarti membunuh hanya dapat dilakukan dengan alasan yang bisa dibenarkan, bila tidak maka hal itu merupakan kezaliman yang berat konsekuensinya dalam hidup di dunia dan akhirat.   

Dengan demikian, kezaliman merupakan sesuatu yang harus kita waspadai sehingga jangan sampai hal ini kita lakukan.

Oleh Drs. H. Ahmad Yani

BAGI
Artikel SebelumnyaSedekah Tanpa Harta
Artikel BerikutnyaSengsara Membawa Nikmat