Bencana, Musibah

0
26 views

Prof. DR. Saefuddin BachrunSebuah bencana atau musibah dapat terjadi kepada setiap orang, keluarga, kelompok, negeri atau bangsa.  Bencana atau musibah sesuatu yang tidak dapat dihindarakan.  Ini akan dialami oleh setiap manusia. Musibah harus dimenej, harus dikelola.  Musibah dapat berupa kedaan nyata atau tidak nyata.  Bencana yang nyata secara fisik seperti kehilangan harta benda, kebakaran, gempa, rusak badan karena narkoba atau rokok atau betuk fisik lainnya. Bencana atau musibah bukan fisik seperti tengelam dalam kemaksiatan, orangnya mungkin segar bugar namun ia mengalami becana secara spiritual yang ia tidak sadari kalau hal ini merupakan musibah.  Musibah karena serangan ideology dan kepercayaan. Musibah terbesar adalah beralihnya keimanan menuju kemurtadan. Nudhubilah mindhalik.

Kalau bencana atau musibah menimpa seseorang untuk bangkit kembali dapat merupakan upaya pribadi dan atau atas bantuan orang lain.  Orang pada tahap pertama akan sadar bahwa ia mengalami satu bencana atau musibah.  Tahap pertama atau tahap 1, ia butuh kesabaran dan kesungguhan untuk menanggulagi keadaan adalah sangat penting. Ia bangkit dari musibah atau bencana.

Kalau ia berhasil menaggulangi keadaan ditahap pertama dan dapat bertahan untuk tetap terus dalam kebangkitan ia berada ditahap kedua yakni bertahan terus dalam kebangkitannya. Dalam tahap ketiga ia akan bertambah kokoh karena mampu menaggulangi bencana/musibah dan bertambah kuat jiwa, spiritual dan fisiknya.

Sebagai gambaran nyata atas bencana fisik atau material.  Seseorang mengalami kerugian dalam berniaga.  Ia mencari bantuan atau atas usaha sendiri untuk sunguh-sungguh menanggulangi bencana tersebut dengan belajar dari pengalaman.  Belajar dari kasus yang dihadapi  ia bangkit dan berusaha terus untuk tidak mengulangi kesalahan yang ia lakukan sehingga ian mengalami kerugian.   Apabila ia mampu memperbaiki diri dan terus bertahan serta berusaha terus dalam kebangkitan maka ia akan menjadi kokoh dan berjaya dalam berniaga.

Gambaran fisik mudah digambarkan.  Bagaimana dengan musibah dengan non fisik seperti terjerumus dalam kemaksiatan. Kalau ia sadar karena diingatkan oleh ahlinya (tahap pertama) dan mahu memperbaiki diri dengan bertobat dengan meninggalkan kemaksiatan yang dilakukan dan berupaya keras untuk bangkit  (tahap kedua) maka ia akan menjadi orang yang insyaAllah istiqamah untuk memeprbaiki diri dari hari ke hari dan insyaAllah akan menjadi manusia yang lepasa dari kemaksiatan menjadi orang yang taat (tahap ketiga). Namun apabila ia setelah mengetahui keadaan bahwa ia dalam dunia kemaksiatan (tahap pertama) tetapi bertambah menikmati maka ia akan bertambah terbenam dan runtuh ditahap keduanya.

Pertanyaan besar yang perlu direnungkan. Apakah kita selalu belajar dengan kasus kasus yang pernah kita alam?  Apakah kita selalu melakukan muhasabah secara teratur? Bagaimana upaya untuk menjadikan kita sebagai pribadi kokoh?

Kasus menjadi sangat berbeda kalau sekala musibah atau bencana yang terjadi disatu negeri seperti sunami, gunung meletus, banjir bandang, gempa bumi yang meluluh-lantakkan negeri atai kawasan.

Untuk bangkit biasanya negeri tersebut mendapat pertolongan pertama dari pemerintah, dari lembaga-lembaga bantuan baik lokal atau bahkan internasional.

Nah persoalan yang terjadi dan dapat terjadi, bahwa kita yang bergabung di dalam lembaga bantuan semacam ini mampu melakukan untuk berjalan di tahap pertama.  Misalnya Lazis Dewan Dakwah akan secara sigap hadir membantu saat terjadi bencana. Orang-orang yang terkena musibah tertolong ditahap pertama ini.  Orang yang mengalami musibah secara masal tidak hanya butuh pertolongan pertama ditahap pertama saja.  Justru yang sangat diperlukan adalah ditahap kedua.  Orang harus dsapt bangkit untuk memperbaiki kehidupan dan mencari sumber penghidupan.  Sawah yang hancur, perniagaan yang rusak, banguan toko yang luluh kantak serta trauma-trauma dari anggota keluarga.  Ini memerlukan bntuan.  Sangat jarang atau bahkan kita ketinggalan dan kehabisan nafas untuk membantu ditahap kedua apalagi gtahap ketiga.

Ada lembaga lain yang justru kuat masuk ditahap ini.  Mereka berusaha keras untuk mengalihkan keimanan orang agar mengikuti keimanan yang dibawa sebagai misinya.  Ia tidak tulus untuk membantu.  Mereka memiliki agenda besar setelah tahap pertama. Orang yang sulit mencari penghidupan diberikan bantuan untuk kembali bertani, diberi kambing atau sapi perah untuk dapat hidup dan pulih dalam kehidupannya.  Bahkan ada yang dengan taktiknya.  Tanah-tanah petani dibeli dengan harga murah ditukar dengan tempat berlindung serta bantuan sekedarnya dan rayuan lain untuk dapat bergabung dalan kegiatan keimanan “penolong”.  Inikah misi kemanusiaan?

Renungan kita, muhasabah kita perlu dilakukan secara besar dan menjawab tantangan besar. Kita perlu bernafas panjang.  Untuk mengajak keluar dan bangkit dari kebodohan dan kemiskinan dari suatu bencana. Jangan sampai umat ini terkena musibah fiskik (harta) dan keimanan.  Perlu action plan, rencana tindak yang jitu.  Belajar dari pengalaman dan selalu melakukan perbaikan secara terus menerus.