Belenggu Masa Depan

0
218 views
quotespictures.com

by Dr. Abd. Muid N., MA.

Masa depan lah yang menciptakan kecemasan di masa kini. Seandainya masa depan tidak ada, maka masa lalu pun tidak perlu ada karena biasanya masa lalu dianggap penting sebagai pelajaran untuk masa depan. Jika tidak ada masa depan, buat apa ada pelajaran dari masa lalu?

Jika masa depan tidak ada, masa lalu tidak penting, maka yang ada hanyalah masa kini. Dengan demikian, hidup menjadi lebih bahagia. Iwan Fals berkata: Keinginan adalah sumber penderitaan. Keinginan itu berdomisili di masa depan. Tanpa domisili, keinginan hanyalah hantu tanpa tempat berjejak.

Masa depan itu, kini, bukan hanya ada, tetapi bahkan lebih nyata dari masa kini. Apa yang kita lakukan di masa kini hanyalah bayang-bayang yang terbelenggu oleh masa depan. Bukankah itu hal yang aneh? Bagaimana bisa masa kini yang bisa kita sentuh dan bisa kita raba malah lebih tidak nyata daripada masa depan yang memastikan usia kita sampai ke sana pun kita tidak mampu?

Bisakah kita melawan masa depan dan menganggapnya tidak ada? Kini, kita kesulitan untuk menganggap masa depan tidak penting apalagi tidak ada karena kita sedang hidup di episteme yang menganggap orang-orang yang tidak mementingkan masa depan adalah orang gila.

Sejak kapan masa depan itu menjadi begitu penting? Barangkali masa depan itu mulai dianggap penting sejak kakek dan nenek moyang kita mulai meninggalkan kehidupan berburu mereka dan memutuskan untuk menetap.

Kita tahu kehidupan berburu adalah kehidupan apa adanya. Tidak perlu ada kepemilikian yang harus mereka pertahankan mati-matian karena mereka bersedia berpindah kapan saja dibutuhkan. Tidak perlu ada dendam kesumat yang perlu dibalas dalam waktu singkat karena perpindahan tempat yang sangat intens memberikan kecil kemungkinan bagi mereka untuk kembali bersua dalam waktu yang berdekatan. Karena itu, dalam kehidupan berburu, tidak perlu ada masa depan dan karena itu, tidak perlu ada kecemasan.

Ketika kakek dan nenek moyang kita mulai menetap, sejak itulah masa depan menjadi penting. Mereka mulai menyusun rencana. Bahan makanan yang dulunya mereka kejar dengan berpindah, kini harus mereka tanam sendiri di halaman mereka. Mereka mulai berfikir kapan dan bagaimana di masa depan mereka mulai membajak, menanam, menyemai, menyiram, menjaga dari hama, memanen, menyimpan benih, mengawetkan bahan makanan, dan menanamnya kembali.

Mereka juga mulai berfikir untuk mengantisipasi perubahan cuaca agar mereka tetap bisa menanam dan menimbun makanan. Curah hujan yang telalu tinggi membuat mereka khawatir. Curah hujan yang terlalu rendah juga mencemaskan mereka. Hidup mereka pun berpindah dari satu kecemasan kepada kecemasan lainnya. Sedikit sekali ruang bagi mereka untuk bahagia.

Itulah barangkali mengapa agama pas untuk kita yang hidup menetap kini. Tidak mungkin bagi kita untuk kembali ke masa-masa hidup berpindah di kala masa depan belum penting. Karena itu, agama pun menawarkan masa depan, tetapi masa depan yang berbeda dengan bayangan kakek dan nenek moyang kita tentang masa depan.

Dua hal yang ditawarkan oleh agama dengan masa depan versinya adalah: kepastian dan kenonduniawian. Makanya tidak jarang di dalam kitab suci ditemukan janji-janji kebahagiaan yang kemudian ditutup dengan ungkapan bahwa Tuhan tidak pernah ingkar janji. Kepastian seperti ini tidak ada dalam masa depan versi kakek dan nenek moyang kita.

Lalu kenonduniawian adalah hal yang juga penting. Itu adalah pengandaian masa depan bukan di sini di dunia ini, tetapi jauh di sana setelah dunia. Pengandaian masa depan tetap berada di dunia ini memungkinkan janji-janji kebahagiaan terbentur kenyataan sebaliknya. Dengan menjadikannya nonduniawi, masa depan versi agama itu awet dalam bentuk ideologi.

Lalu, apakah tawaran masa depan versi agama itu membuat kecemasan akibat masa depan itu menjadi sirna? Saya tidak tahu.[]

Bahan Bacaan

Yuval Noah Harari, Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia, Jakarta: KPG, 2018.