Belajar untuk Selalu Belajar

0
26 views

Jika putra-putri kita -yang duduk di bangku sekolah- diminta untuk belajar, itu tentu menjadi hal yang lumrah.  Namun jika kita sebagai orangtua atau pendidik diminta untuk belajar, maka komentar yang muncul tentu akan sangat beragam.  Mungkin ada yang spontan berujar, “Kita kan orangtua, koq disuruh belajar!”  Ada pula mungkin yang berpendapat, “Kita memang harus belajar, kalo nggak ntar ketinggalan zaman. Malu sama anak-anak.”

Lebih dari itu, mungkin ada yang dengan sangat bijaksana berkomentar, “Kita memang harus selalu menimba ilmu tanpa kenal waktu, apapun profesi kita.”

Profesi sebagai orangtua atau pendidik memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Butuh ilmu dan keterampilan khusus.  Itu berarti, para orangtua dan pendidik memang harus selalu membekali dirinya dengan beragam ilmu. Meskipun memang ironinya kita belum dapat menemui sekolah khusus orangtua di jagad ini.

Lantas dengan apa kita dapat menambah ilmu untuk membekali diri kita? Membaca dari berbagai literatur tentang ilmu yang kita butuhkan, tentu menjadi keharusan. Namun lebih dari itu, kita memang harus pandai-pandai menangkap ‘pelajaran’ (hikmah) yang sesungguhnya (tanpa dicari) ada di sekitar kita.  Belajar dari apa yang menimpa diri kita, belajar dari pasangan kita, belajar dari anak-anak (didik) kita, belajar dari anggota keluarga yang lain, belajar dari lingkungan, bahkan belajar dari setiap orang yang kita temui. 

Jika kita mau membuka hati kita, dalam setiap perjalanan yang kita lalui menuju ke tempat kerja misalnya, pasti banyak kita temui kejadian-kejadian yang dapat menyadarkan kita tentang berbagai hal. Siang itu misalnya, saya menumpangi bus transjakarta yang tengah sesak dengan penumpang. Pada bagian belakang bus, ada segerombol anak-anak berseragam sekolah tengah mendominasi pembicaraan dalam bus itu. Pembicaraan mereka berkisar pada tipe orangtua mereka masing-masing.  Pembicaraan itu membuat saya berfikir dan belajar, tipe orangtua seperti apa saya dan akan ada kekurangan seperti apa jika dilihat dari sudut pandang anak. Nah, ilmu seperti ini contohnya, ilmu ini mahal harganya. Pengetahuan yang kita peroleh dari suatu kesempatan dan waktu yang jelas bukan kebetulan, tapi sengaja ditampilkan Allah untuk kita. Tinggal masalahnya, kadang kita dapat ‘menangkap ilmu itu’, namun tak jarang justru hanya lewat sebagai ‘bumbu perjalanan’ yang tidak ada makna apa-apa.Allah berfirman dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah/2:44:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُون 

“Adakah kamu memerintahkan manusia untuk melakukan kebaikan dan kalian lupakan diri kalian sendiri padahal kalian membaca kitab? Tidakkah kalian berfikir?”

Ayat tersebut kiranya sangat sesuai dengan kondisi diri kita secara umum yang seringkali meminta anak-anak (didik) kita untuk belajar, namun kita sering lupa untuk belajar.  Semoga kita tidak termasuk yang demikian dan senantiasa berusaha memperbaiki diri kita. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّه

“Bertakwalah kalian kepada Allah niscaya Allah akan mengajar kalian.” (Al-Baqarah/2:282)

Dengan terus mengamalkan ilmu kita dalam ketakwaan, Allah swt berjanji akan senantiasa mengajari kita hal-hal yang baru. Sungguh sesuatu yang sangat indah ketika kita langsung berada dalam didikan tangan “Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Namun tetap saja sebagai manusia, kita harus benar-benar senantiasa belajar dengan sebaik mungkin karena memang ilmu itu akan diraih dengan melakukan proses pembelajaran sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya (meraih) ilmu itu dengan belajar”. Semoga kita menjadi pembelajar yang baik.

Lewat tulisan-tulisan dalam rubrik ini semoga dapat memberikan media bagi kita semua untuk ‘sharing’ tentang berbagai hal yang akan memperkaya pengetahuan kita tentang permasalahan ‘parenting’. Semoga memberi angin segar bagi para orangtua khususnya dan bagi dunia pendidikan umumnya. Semoga menjadi sarana terkabulnya sebagian dari apa yang kita pinta dalam do’a kita “Rabbi zidni Ilmaa”, “Duhai Tuhanku tambahkan kepadaku ilmu”.[]