Belajar dari Nabi Adam AS

0
143 views

Sebagaimana kita ketahui, Nabi Adam as adalah manusia pertama. Setelah itu, diciptakan lagi seorang wanita yang bernama Hawa, selanjutnya berkembang umat manusia menjadi begitu banyak hingga berbeda warna kulit, bahasa, suku dan bangsa. Allah swt berfirman: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An Nisa [4]:1).

Ada poin-poin penting yang menjadi pelajaran bagi kita dari sosok Nabi Adam as, karenanya kita bahas melalui tulisan yang singkat ini.

  1. Mengajarkan Ilmu

Setelah dicipta oleh Allah swt, Adam as diajarkan ilmu berupa nama-nama benda. Ini isyarat bagi kita betapa pentingnya ilmu sehingga kita diwajibkan mencarinya. Dengan ilmu itu manusia menjadi terangkat derajatnya, Allah swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Mujadilah [58]:11)

Dengan ilmu, manusia juga menjadi takut kepada Allah swt, takut kepada murka, siksa dan azab-Nya. Hal ini karena dengan ilmu, seseorang menjadi tahu betapa Maha Kuasa Allah swt dan betapa dahsyat murka dan azab-Nya. Karena itu, para ulama menjadi takut kepada Allah swt, hal ini disebutkan dalam firman-Nya:  Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Surat Fathir [35]:28)

Sesudah berilmu, maka ilmu itu harus diajarkan kepada siapa saja yang belum mengetahuinya. Karena itu, Nabi Adam as mengajarkan para malaikat apa yang telah diketahuinya. Ia tidak minder mengajarkan malaikat yang sebenarnya selalu dalam ketaatan kepada Allah swt, ini disebutkan dalam firman-Nya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!.”  Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” (QS Al Baqarah [2]:31-33).

Diantara bentuk terangkatnya derajat orang yang berilmu adalah malaikat dan jin harus sujud (hormat) kepada Adam, maka malaikat menunjukkan penghormatan kepada Adam dan jin yang durhaka (Iblis) tidak mau menghormatinya, Allah swt berfirman: Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir (QS Al Baqarah [2]:34).

  1. Mengakui Kesalahan dan Mau Taubat

Manusia bukanlah malaikat yang tidak pernah bersalah. Karena itu, orang baik bukanlah orang yang tidak pernah bersalah, tapi yang menyesal dan bertaubat atas kesalahan yang dilakukannya, lalu memperbaiki diri. Meskipun demikian, kesalahan bukanlah sesuatu yang diniatkan untuk dilakukan. Nabi Adam as melakukan kesalahan karena kekhilafan dengan sebab godaan syaitan, meskipun sejak awal sudah diingatkan bahwa syaitan musuh nyata yang harus diwaspadai, Allah swt berfirman:  Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk. (QS Thaha [20]:120-121

Di dalam ayat lain, Allah swt juga berfirman tentang hal ini: Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?.” “.(QS Al A’raf [7]:22).

Setelah menyadari kesalahannya, Adam dan Hawa mengakui kesalahan itu, ia tidak membela diri agar dikatakan tidak salah. Dalam hidup ini, banyak manusia yang tidak belajar dari Adam dalam menyikapi kesalahan sehingga mereka bersalah, tapi masih saja membela diri dan menyatakan tidak bersalah. Sikap mengakui kesalahan yang dilakukan sangat penting, sehingga seseorang tidak mencari pembenaran atas kesalahan yang dilalkukannya. Inilah doa Adam dan Hawa: Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.(QS Al A’raf [7]:23).

Siapa saja yang bersalah dan mau bertaubat atas kesalahannya, pasti Allah swt mengampuni. Pintu taubat tidak pernah tertutup kecuali bila kematian seseorang sudah tiba. Maka, Allah swt berfirman:  Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS Al Baqarah [2]:37).

 

  1. Minta Bimbingan Syariat.

Hidup ini harus berlangsung dengan baik dan benar. Untuk itu, harus ada syariat atau peraturan dan hukum yang mengaturnya, apalagi untuk sesuatu yang sangat prinsip seperti hubungan lelaki dan wanita. Maka, ketika Nabi Adam as memiliki anak dua pasang laki dan wanita, bagaimana hukum menjodohkannya. Allah swt kemudian menentukan bahwa Habil dan Qabil harus menikah dengan cara disilang. Tapi, karena Qabil mau menikah dengan adiknya yang lebih cantik, maka ia tidak mau menerima ketentuan itu. Allah swt kemudian mengharuskan keduanya berqurban, yang qurbannya diterima, maka berlaku ketentuan itu. Habil berqurban dengan hewan yang bagus, sedangkan Qabil berqurban dengan sayuran yang jelek, maka Allah swt menerima yang qurbannya bagus, Allah swt berfirman tentang hal ini: Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa (QS Al Maidah [5]:27)

Meskipun keduanya sudah menerima apa yang ditentukan Allah swt, tapi karena qurbannya Qabil tidak diterima yang berarti dia harus menikah dengan saudaranya yang kurang cantik, maka Qabil tidak mau menerima ketentuan itu, iapun mengancam akan membunuh Habil, tapi  Habil tidak mau melayaninya karena ia takut kepada Allah swt atas dosa membunuh, apalagi membunuh saudara sendiri, ini diceritakan dalam firman-Nya: Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” (QS Al Maidah [5]:28).

Karena itu, Habil berusaha untuk mengingatkan saudaranya agar tidak melakukan perbuatan tercela, karena bila membunuh dilakukan, dosanya amat besar dan neraka sudah menanti, hal ini dinyatakan dalam firman-Nya: Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim. (QS Al Maidah [5]:29).

Meskipun sudah diingatkan, tapi nafsu syaitan tetap saja lebih dominan sehingga Qabil membunuh Habil dan inilah pembunuhan yang pertama terjadi, inilah kerugian besar yang dialami manusia, Allah swt berfirman: Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. (QS Al Maidah [5]:30).

Bila Nabi Adam as telah menunggu bimbingan syariat untuk menjalankan kehidupan. Maka, sebagai manusia, seharusnya kita tunduk kepada syariat yang datang dari Allah swt. Untuk itu, diperlukan komitmen yang kuat agar kita tidak terpengaruh oleh manusia yang menjadi perpanjangan tangan dan penyambung lidah syaitan, sebagaimana firman-Nya:). Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (QS Al Jatsiyah [45]:18).

Dengan demikian, menarik apa yang kita kaji, karena mengkaji sosok Nabi tidak hanya urutan peristiwa, tapi yang lebih penting lagi adalah apa hikmah yang harus kita ambil untuk kehidupan kita masing-masing.

Drs. H. Ahmad Yani

BAGI
Artikel SebelumnyaDalil
Artikel BerikutnyaMasjid dan Pesawat