Bekerja dan Bekerja

0
44 views

Kadangkala sebagai muslim kita salah paham tentang memandang kehidupan duniawi. Memang ada ayat dan hadits tentang kehidupan dunia ini yang seolah-olah kaum muslimin tidak perlu memiliki ambisi untuk meraihnya. Misalnya saja firman Allah swt tentang kehidupan duniawi untuk sekadar tidak dilupakan yang artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi (QS Al Qashash [28]:77). Ada pula firman Allah swt yang menyebutkan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, yang artinya: Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan sendau gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui (QS Al Ankabut [29]:64). Sementara di dalam hadits, terdapat hadits yang diantaranya menyebutkan bahwa dunia ini penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.

Ayat dan hadits sejenis itu bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan dengan ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan kita untuk memiliki semangat bekerja guna meraih kehidupan duniawi yang baik. Kenikmatan materi duniawi bukanlah sesuatu yang haram untuk diraih oleh kaum muslimin, namun memperolehnya bukan dengan menghalalkan segala cara, tapi dengan cara-cara yang halal. Disamping itu, kenikmatan duniawi itu sendiri bukanlah tujuan akhir, tapi justeru sebagai alat untuk mencapai tujuan hakiki yakni kebahagiaan akhirat.

Oleh karena itu, harus kita sadari bahwa banyak perintah di dalam Islam yang bila ingin kita laksanakan dengan sebaik-baiknya perlu ditopang dengan dana dan fasilitas duniawi yang memadai. Sebut saja misalnya zakat maal yang memang diwajibkan untuk orang yang kaya, ibadah haji untuk yang mampu yang salah satunya adalah mampu dari segi materi, sementara pendidikan, dakwah dan perjuangan menegakkan nilai-nilai amat memerlukan dukungan dana dan fasilitas kehidupan duniawi yang memadai yang tanpa itu sangat sulit untuk bisa melaksanakannya dengan baik, meskipun topangan dana dan fasilitas kehidupan duniawi bukanlah satu-satunya.

Kalau kehidupan duniawi dinyatakan oleh Allah swt sebagai permainan dan senda gurau, ternyata untuk sebuah permainan dan senda gurau dalam kehidupan duniawi ini saja agar bisa dinikmati dengan baik, memerlukan kesungguhan, pengorbanan dan sarana yang memadai. Sebut saja misalnya sepakbola yang merupakan permainan, dia menjadi sesuatu yang bisa dinikmati dengan baik, manakala digeluti dengan kesungguhan, dukungan fasilitas yang memadai, dana yang cukup dan pengorbanan yang besar, bahkan persiapan yang sangat matang hingga memerlukan waktu bertahun-tahun.

Bekerja itu Ibadah

interisty.files.wordpress.comTugas manusia dalam hidup ini sebenarnya hanya satu yakni ibadah kepada Allah swt. Bekerja yang salah satunya terkait dengan mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup dan bisa menjalankan berbagai macam ibadah lain yang memerlukan topangan materi merupakan ibadah bila dilaksanakan dengan niat yang ikhlas, cara yang benar dan tujuannya untuk mencari ridha Allah swt.

Etos kerja seorang muslim haruslah tinggi, bahkan etos kerja yang tinggi itu tidak selalu berorientasi kepada hasil yang akan dicapainya, karena bagi seorang muslim yang penting adalah bekerja dengan sebaik-baiknya bukan hasil yang bisa dinikmatinya atau tidak, bahkan bisa jadi hasil dari kerjanya itu tidak dinikmatinya secara langsung, mungkin generasi kemudian yang menikmati hasilnya atau makhluk Allah yang lainnya, ini merupakan sedekah bagi dirinya yang bekerja. Bahkan oleh Rasulullah saw, seandainya seseorang sudah memiliki bibit yang hendak ditanam sementara kiamat akan segera terjadi, maka dia harus tetap menanamnya, karena Allah akan menilai kerja bukan hasilnya, Rasulullah saw bersabda:

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِى يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَلاَّ تَقُوْمَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

Kendati hari kiamat akan terjadi, sementara ditangan salah seorang kamu masih ada bibit pohon korma, jika ia ingin hari kiamat tidak akan terjadi sebelum ia menanamnya, maka hendaklah ia menanamnya (HR. Ahmad dan Bukhari).

Dalam suatu keterangan, Ammarah bin Khuzaimah bin Tsabit sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir menyatakan: Saya mendengar Umar bin Khattab berkata kepada ayahku: “Apa yang menghalangimu untuk menanami tanahmu?”. Ayah saya menjawab: “Saya sudah tua dan besok akan mati”. Kemudian Umar berkata: “Aku benar-benar menghimbaumu agar engkau mau menanaminya”. Tak lama kemudian saya benar-benar melihatnya (Umar bin Khattab) menanami sendiri bersama ayah saya.

Tentang nilai sedekah yang akan diterimanya, Rasulullah saw bersabda:

مَامِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ. وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ. وَمَا أَكَلَ السَّبْعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ. وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ. وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

Tidaklah seorang muslim menanam tanaman kecuali dia mendapat pahala sedekah dari apa yang bisa dimakan dari tanaman itu. Apa yang dicuri dari tanaman itu adalah sedekah bagi penanamnya, apa yang dimakan oleh binatang buas dari tanaman itu adalah sedekah bagi penanamnya, apa yang dimakan oleh oleh burung adalah sedekah bagi penanamnya, dan tidaklah tenaman itu dikurangi (dirusak) oleh serangga melainkan menjadi sedekah bagi penanamnya (HR. Muslim dari Jabir ra).

Didalam Al-Qur’an, Allah swt juga menegaskan tentang keharusan mencari karunia Allah swt yang mencukupi kebutuhannya sebagai muslim yang baik, cukup untuk nafkah keluarga yang mencakup sandang, pangan, papan hingga pendidikan, cukup untuk menunaikan perintah Allah swt yang terkait dengan harta seperti zakat, infaq dan sedekah, cukup untuk bisa menunaikan ibadah yang harus ditopang dengan harta seperti menunaikan ibadah haji dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya: Apabila telah ditunaikan shalat (Jum’at), maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS Al Jumuah [62]:10).

Bahkan, kalau ternyata untuk mendapatkan rizki itu, seorang muslim harus menempuh perjalanan yang jauh dan mencarinya ke berbagai belahan bumi yang lain dari tempat tinggalnya, itu memang diperintah oleh Allah swt karena memang Dia telah menciptakan bumi dengan segala isinya ini untuk manusia, Allah swt berfirman yang artinya: Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (QS Al Mulk [67]:15).

Karena bekerja atau beramal yang shaleh itu ibadah, maka dia menjadi bekal dan teman yang selalu menemaninya hingga ke alam barzah dan menghadap Allah swt, sebagaimana firman-Nya: Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya (QS Al Kahfi [18]:110).

Mengingat begitu tinggi kedudukan bekerja, termasuk di dalamnya yang terkait dengan mencari nafkah, maka keutamaan lain yang akan diperoleh bagi seorang muslim yang bekerja adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw:

مَنْ أَمْسَى كَالاً مِنْ عَمَلِ يَدِهِ مَغْفٌوْرًا لَهُ

Barangsiapa yang menjadi payah (lelah) pada sore hari karena kerja tangannya, maka terampuni dosanya (HR. Thabrani).

Kerjakan Yang Lain

Kedudukan bekerja yang begitu mulia dalam pandangan Islam membuat seorang muslim harus terus melaksanakannya, tak ada waktu yang luang kecuali untuk aktivitas yang bermanfaat. Karena itu, bila kesibukan seseorang dalam bekerja telah berakhir, maka hendaklah ia merencanakan lagi suatu pekerjaan yang baru dan mengerjakan rencana itu. Seorang muslim harus selalu memiliki kesibukan. Dalam konteks nafkah, seorang muslim memang harus bekerja dan tidak dibenarkan untuk meminta-minta, bahkan para sahabat dahulu meskipun sudah lapar, tetap tidak mau meminta-minta, inilah salah satu pesan Allah yang bisa kita tangkap yang artinya: Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (QS Alam Nasyrah [94]:7).

Dalam kehidupan ekononi kita yang sulit sekarang ini, semangat bekerja justeru harus semakin kita pupuk, bukan malah semangat mengemis atau meminta-minta yang kita kembangkan, masih banyak sebenarnya peluang bekerja untuk memenuhi nafkah diri dan keluarga kita selama kita masih punya kesungguhan untuk bekerja dan mempertahankan harga diri untuk tidak menempuh alternatif meminta-minta. Justeru bila ketaqwaan kita mantapkan, Allah swt tidak hanya akan memberi peluang rizki yang tidak kita duga-duga, tapi juga akan memudahkan urusan-urusan yang kita hadapi. Keyakinan dan usaha yang maksimal memang merupakan modal yang sangat mahal harganya.