Batman Berpuasa

0
26 views

Mengapa pahlawan (harus) bertopeng? Film karya Christohper Nolan, The Dark Night Rises, mencoba memberi jawaban lewat tokohnya, Bruce Wayne/Batman. Katanya, topeng itu penting untuk melindungi orang-orang yang mereka kasihi dan juga bahwa kepahlawanan bukan kuasa orang perorang. Siapapun bisa memakai topeng itu. Siapapun bisa menjadi pahlawan.

Alasan pertama menyimpan romantisme sekaligus menunjukkan bahwa seorang pahlawan adalah sosok yang penting dan pusat pusaran makna. Karena pahlawan adalah musuh kejahatan, maka ia adalah sasaran tembak para pelaku kejahatan. Namun karena dia pahlawan, maka tentu bukan perkara mudah menjatuhkan atau bahkan sekadar melukainya. Lalu, orang-orang yang mereka kasihi menjadi sasaran berikut karena itu mereka adalah sasaran yang lebih lemah. Kalaupun pahlawan tidak tewas karena tindakan seperti itu, paling tidak hatinya terluka, perasaannya hancur.

Alasan yang kedua berbeda. Pahlawan bukan pusaran makna. Jika siapapun bisa menjadi pahlawan, maka sosok pahlawan itu sendiri menjadi tidak begitu penting. Dia bukan buruan; bukan sasaran tembak. Dia memang perlu ada, tetapi siapapun bisa berperan menjadi dia.

Alasan kedua menganggap kepahlawanan bukan area eksklusif yang hanya bisa diakses oleh sosok-sosok tertentu dan kemampuan tertentu. Kepahlawanan menjadi teks yang terbuka bagi jutaan penafsiran. Ia melampaui person, individu, golongan, atau ikatan terbatas. Kepahlawanan hanya terikat kontrak oleh kepahlawanan itu sendiri. Terasa ada nilai-nilai universal yang coba direbakkan di sini.

Bagi mereka yang terbiasa memahami bahwa kebenaran itu terpusat dan kuasa makna hanya dimonopoli oleh kalangan tertentu, alasan Bruce Wayne/Batman yang kedua pasti terasa berbahaya. Jika siapapun bisa mengklaim kebenaran, maka kebenaran bisa simpang siur, kacau balau. Yang ada hanya kaos. Kebenaran seperti itu tidak menawarkan pegangan tetap dan pasti karena setiap orang menawarkan pegangan versinya masing-masing.

Saya menganggap Bruce Wayne sedang berpuasa. Sebagaimana orang-orang yang berpuasa, Bruce Wayne–lewat argumennya yang kedua–sedang mengambil jarak (menahan diri) dari hal-hal yang disukainya. Siapapun pasti suka menjadi pahlawan yang dipuja semua orang, namun demi orang-orang yang dia kasihi, Bruce Wayne memilih memakai topeng dan membiarkan sosok dia yang sebenarnya dibenci orang-orang.

Di saat bersamaan, lewat topeng kelelawarnya, Bruce Wayne membuka lebar-lebar akses kepada kepahlawanan sebagai makna yang bagi dia lebih penting daripada sosok yang ada di baliknya, bahkan lebih penting daripada dirinya sendiri. Kebenaran selalu ada di atas segalanya. Bahkan jauh berada di atas orang-orang yang merasa diri sebagai penguasa kebenaran dan penentu makna.

Barangkali Bruce Wayne sedang mengamalkan sabda Rasulullah saw yang kurang lebih maknanya begini: Jika tangan kananmu berbuat kebaikan, jangan biarkan tangan kirimu mengetahui apa yang telah dilakukan tangan kananmu.[]

Abdul Muid Nawawi