Basmalah

0
124 views
voa-islam.com

by ZA Husain Cangkelo (Peneliti The Nusa Institute)

Basmalah adalah nama dari Bismil Lâhir Rahmânir Rahîm, ayat yang paling kerap dibaca umat Islam dan juga ayat yang paling banyak dituliskan oleh para kaligraf, ahli penulis indah. Para kaligraf menulis seayat begitu saja seindah mungkin, dihias-hias, lalu digantung di dinding rumah, kantor, atau tempat beribadah. Memang, membaca Basmalah sebelum memulai bekerja dan beraktivitas sangat dianjurkan oleh Nabi SAW. Beliau menegaskan bahwa pekerjaan penting yang dijalani tanpa dimulai dengan membaca Basmalah akan kurang berberkah.

Basmalah terdiri dari lima kata: 1) bi (dengan), 2) ism (nama), 3) Allāh, 4) ar-Rahmān (Maha Pengasih), 5) ar-Rahīm (Maha Penyayang). Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan nama Allah yang Mahaasih lagi Mahawelas.

Secara umum, kosakata dalam bahasa Arab dibagi tiga: kata benda (ism), kata kerja (fil), dan kata huruf (harf). Ini pembagian kata yang dirumuskan Saidina Ali bin Abi Thalib; sepupu Nabi SAW, remaja pertama yang memeluk agama Islam, dan kelak menjadi presiden ketiga penerus kepemimpinan Nabi SAW di bidang pemerintahan. Saidina Ali kemudian meminta muridnya bernama Abul Aswad ad-Du’ali untuk mengembangkan Ilmu Nahwu, primadona ilmu bahasa Arab.

Bi adalah harf. Harf ini paling sedikit jumlahnya dalam bahasa Arab. Tidak kurang dari delapan puluh harf saja dalam khazanah kosakata bahasa Arab. Berbeda dari ism dan fil yang sangat banyak sehingga sebagian pakar hanya mengemukakan perkiraan jumlah kata dasarnya.

Konon, jumlah kata dasar di dalam kamus-ensiklopedis berjudul Lisânul Arab ada 40 ribu kata dasar dan kamus ensiklopedis Tâjul Arûs menyebutnya mencapai 60 ribu, al Mu’jam al Wasîth memperkirakan 30 ribu. AlMu’jam alWasîth disusun oleh Tim Lembaga Bahasa Arab Kairo, pada zaman modern (abad ke-20 M). AlQâmûs alMuhîth disusun oleh al Fairuz-abadi dari abad ke-15 M. Tâjul Arûs merupakan komentar ekspansif oleh az-Zabidi dari abad ke-18 M atas al-Qâmûs al-Muhîth-nya al-Fayruz-abadi. Sedang, Lisânul Arab disusun oleh Ibnu Manzhur dari abad ke-14 M.

Beda jauh sekali, bukan? Jumlah 80 hingga 40 ribu kata dasar? Atau 80 hingga 12 ribu kata dasar? Kata dasar, lho. Gambarannya, satu kata dasar dapat berkembang menjadi sekian puluh kata benda dan kata kerja. Dan, boleh lebih banyak lagi. Kata dasar k-t-b “menulis” dapat menjadi maktab “kantor”, kuttâb “taman baca-tulis-hafal al-Quran”, maktabah “toko buku” atau “perpustakaan”, dan seterusnya. Fokuslah kepada k-t-b dari kata-kata itu!

Kalau mau melihat bagaimana banyaknya, kita dapat membuka kembali buku Tashrîf yang menjelaskan panjang lebar bentuk-bentuk perubahan kata. Antara lain, terutama bentuk-bentuk fil: kataba, katabā, katabū, katabat, katabatā, katabna, katabta, katabtumā, katabtum, katabti, katabtumā, katabtunna, katabtu, katabnā. Yaktubu, yaktubāni, yaktubūna, taktubu, taktubāni, taktubūna, taktubīna, taktubāni, taktubna, aktubu, naktubu. Semua ini berarti “menulis”, terlepas dari bentuknya yang mengikuti pelaku (fā‘il).  Liyaktub, liyaktubā, liyaktubū, litaktub, litaktubā, tiyaktubna, uktub, uktubā, uktubū, uktubī, uktubā, uktubna, liaktub, linaktub: “tulislah!”. Semua ini berarti “tulislah”, terlepas dari bentuknya yang mengikuti pelaku (fā‘il) yang diharapkan mengikuti permintaan, permohonan, atau perintah (amr) menulis itu. Demikian, seterusnya.

Nah, konon lagi, pelajar yang telah mengakrabi 1500 hingga 2000 kata dasar dipastikan dapat dengan amat mudah merampungkan jenjang pendidikan Strata 1. Pertanyaannya, ada berapakah kosakata dasar yang digunakan Kitab Suci al-Quran? Ulama menjawab, 1810 kata dasar. Artinya, Kitab Suci al-Quran ini, bila kita tamatkan memahami kosakatanya, berarti kita layak dapat sarjana S 1 Bahasa Arab.

Uniknya, kosakata dasar Hadits berjumlah sekitar dua kali lipat dari itu. Artinya, ini isyarat bahwa Hadits adalah penjelasan bagi al-Quran yang musti selalu dirujuk.

Bi adalah harf. Ismi, Lafal Jalalah Allâh, arrahmân, dan arrahîm adalah ism. Lafal Allâh memiliki keistimewaan dengan atribut Lafzhul Jalâlah. Setiap kali bertemu lafal ini dan hendak dijelaskan, maka selalu disebut Lafal Jalalah, dan tidak dikatakan Allâh. Para kaligraf pun selalu berupaya menata karyanya dan menempatkan Lafal Jalalah di atas. Umat Islam selalu mengasosiasikan Tuhan berada di atas (di langit) sebagai penghormatan dan pengagungan (lit ta‘zhîm). Jadi, bukan menunjuk posisi, karena Dia Mahasuci dari batasan ruang. Dialah yang mencipta ruang.

Karena terdiri dari dua kata, bi (بـ) dan ism (اسم), maka seharusnya tertulis begini: باسم (Bismi), ya, kan? Sebagaimana halnya di surah al-‘Alaq: اقرأ باسم. Nah, lho? Ulama menjawab, ditulis sambung demikian demi prinsip keringkasan, kemudahan, dan kesimpelan. Bukankah ia ditulis sekian banyak kali? Ia ditulis 114 kali. Sejumlah 113 kali di awal surah karena jumlah 114 (total jumlah surah al-Quran) dikurang 1 (awal surah at-Taubah). Surah at-Tawbah tidak dimulai dengan Basmalah. Lalu, ditambah dengan satu Basmalah di tengah-tengah surah an-Nahl. Ini jawaban sebagian ulama.

Yang jelas, bahwa demikianlah bentuk penulisan yang diwarisi turun-temurun sejak ditulis di hadapan Rasulullah SAW oleh para penulis wahyu itu. Yang jelas pula, huruf alif itu tidak dibunyikan. Bismi, bukan bi-ismi. Cara penulisan itu disebut mushhafî, alias rasm mushhafî, penulisan khas mushaf Kitab Suci al-Quran. Cara penulisan biasa/standar dan digunakan untuk berbagai keperluan disebut imlâ’î. Cara penulisan imlâ’î yang terkadang mengikuti tata persajakan (puisi, syair) Arab yang disebut ‘arûdhî.

Jadi, ada tiga cara penulisan Arab: mushhafî, imlâ’î, dan arûdhî. Bisa ditambah lagi dengan cara penulisan Arab ammiyah yang digunakan menulis dialek Arab tak resmi.

Tulisan mushaf disaksikan secara cermat oleh Nabi SAW sehingga ulama mengatakan bahwa kamukjizatan al-Quran juga mecakupi rasam atau tulisannya yang khas itu. Nah, belakangan ulama menunjukkan bahwa ternyata jumlah huruf Basmalah tanpa alif di kata ism itu ada sembilan belas. Bila dengan alif akan menjadi genap 20.

Ulama menunjuk angka 19 itu unik sekaligus merupakan pembagi yang ekstra sulit jika bukan pembagi yang paling sulit. Banyak fakta-fakta berkaitan dengan al-Quran yang habis terbagi 19. Di antaranya, jumlah surah al-Quran, 114, habis dibagi 19. Ini hikmah atau poin yang menarik membantu kita mengagumi dan mengapresiasi kitab suci.

Subehanallah, Basmalah terdiri dari lima kata: bi (dengan), ism (nama), Allāh, ar-Rahmān (Maha Pengasih), dan ar-Rahīm (Maha Penyayang). Selain tidak dituliskan, alifnya itu juga tidak dibunyikan. Bismi, bukan bi-ismi. Alif yang tidak dibunyikan atau tidak dibaca disebut alif-sambung, alif washal. Atau, disebut juga hamzah washal. Sebaliknya, alif di awal suatu kata yang disebut atau dibaca dengan jelas, disebut alif-potong: alif qatha‘ atau hamzah qatha‘. Semua alif-lam yang menjadi tanda kata benda ma’rifah adalah alif washal.

Nah, kata ism adalah satu dari belasan kata yang alifnya adalah alif washal.

Maka, ungkapan ما اسمك؟ dibaca “masmuka”. Siapa nama anda? ما اسمك hanya dibaca “mā – ismuka” dengan memisahkan atau memotong keduanya untuk membantu kawan bercakap mengerti kata demi kata yang ditanyakan padanya. Aslinya, keduanya tidak dipotong, karena, alif pada ism adalah alif washal. Ada pendapat lain, bahwa memang tidak ada alif di sana. Jadi asalnya memang sim atau sum. Bi + sim = bisim. Lalu, sin-nya disukun atau dimatikan menjadi bismi.

Demikianlah, para ulama klasik senang mengulas panjang lebar dalam berbagai kitab yang mereka susun. Baik itu dalam kitab yang bertajuk Tafsir, I‘rab, dan lain-lain. Semoga Ilahi mengasihi mereka. Dan, kita mohon Ia berkenan mengaruniai kita sepercik dari lautan pengetahuan-Nya.

Wallahu a’lam.

BAGI
Artikel SebelumnyaBerhala
Artikel BerikutnyaPemboikotan