Barq

0
145 views

Barq dalam bahasa arab mengandung arti munculnya cahaya di langit ketika terkumpulnya awan yang sangat banyak di langit disertai suara yang bergemuruh, atau disebut juga petir. Dalam ilmu fisika proses terjadinya petir adalah sebagai berikut, dimulai dengan berkumpulnya awan di langit hal itu dimulai ketika sedang mendung atau musim hujan, kecepatan angin di atas atau di angkasa kencang. Kalau kita lihat, pada suasana mendung awan tersebut terlihat gelap. Mengapa bisa terlihat gelap? Karena awan tersebut banyak mengandung uap air.
Awan yang satu dengan awan yang lainnya akan terdoron oleh angin, kemudian timbul gesekan dan mungkin awan tersebut bergabung menjadi satu. Pada masing-masin awan tersebut sudah mengandung elektron (muatan positif) dan proton (muatan negatif) yang tidak seimbang. Artinya, jumlah elektron dan protonnya tidak sama. Seringkali awan di angkasa jumlah muatan negatif atau proton tidak seimbang.
Penyabab dari tidak seimbangnya antara muatan posifit/ proton dan muatan negatif/ elektron mengakibatkan adanya beda potensial.

Keadaan muatan positif dan muatan negatif di awan kebanyakan muatan positif yang lebih sedikit berada di atas. Kemudian muatan negatif yang jumlahnya sangat banyak berada di bagian bawah. Karena jumlah proton dan elektron di awan berbeda atau lebih banyak jumlah elektronnya, maka harus dinetralkan. Kondisi dinetralkan adalah jumlah proton dan elektron sama.
Nah untuk menetralkan awan di atas maka awan tersebut akan membuang elektronnya. Pembuangan elektron ini pada akhirnya jatuh ke bumi. Mengapa jatuh ke bumi? Karena di bumi kebanyakan bendanya bermuatan positif. Sedangkan muatan positif dengan muatan negatif akan bersifat tarik menarik. Untuk itulah elektron akan jatuh ke bumi dalam jumlah yang sangat banyak. Peristiwa ini disebut dengan petir.

Sedangkan al-barq dalam Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam firman Allah swt (QS. Al-Baqarah[2]: 19) yaitu kilat yang menyinari hati orang-orang munafik itu pada suatu waktu, berupa cahaya keimanan. Oleh karena itu, Allah swt berfirman pada ayat setelahnya yang artinya: “Mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya karena [mendengar suara] petir sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.” Maksudnya, ketakutan mereka itu tidak dapat membawa manfaat sedikit pun karena Allah telah meliputi mereka melalui kekuasaan-Nya dan mereka itu berada di bawah kendali kehendak dan iradah-Nya.

Setelah itu Allah swt berfirman: yakaadul barqu yakhthafu abshaaraHum (“Kilat itu nyaris menyambar penglihatan mereka,”) karena kuat dan hebatnya kilat tersebut serta lemahnya penglihatan dan ketidakteguhan mereka dalam beriman.

Mengenai firman-Nya: kullamaa adlaa-a laHum masyau fiiHi wa idzaa adh-lama ‘alaiHim qaamuu (“Setiap kali menyinari mereka, maka mereka berjalan di bawah sinar itu. Dan bila kegelapan menimpa mereka, mereka berhenti,”)

Ibnu Ishak menuturkan dari Ibnu Abbas, “Artinya, mereka mengetahui kebenaran dan berbicara mengenai kebenaran tersebut. Jika mereka mengetahui kebenaran itu, maka mereka tetap istiqamah. Namun jika mereka kembali kepada kekafiran, mereka berhenti dalam keadaan bingung.”

Demikian pula yang dikatakan oleh al-Hasan Bashri, Qatadah, ar-Rabi’ bin Anas, dan as-Suddi, dengan sanadnya dari beberapa sahabat, dan merupakan pendapat yang paling benar dan jelas. Dan begitulah keadaan yang akan mereka alami pada hari kiamat kelak, yaitu ketika manusia diberi cahaya sesuai dengan keimanannya. Di antara mereka ada yang diberi cahaya yang dapat menerangi perjalanan beberapa mil, dan ada yang diberi kurang atau lebih dari itu. Ada juga yang cahayanya terkadang mati dan kadang-kadang menyala. Ada juga yang kadang-kadang berjalan dan kadang berhenti. Bahkan ada juga yang cahayanya mati sama sekali, mereka itulah orang munafik tulen yang Allah swt sebutkan melalui firman-Nya yang artinya:
“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: `Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu.’ Dikatakan (kepada mereka): ‘Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).’” (QS. Al-Hadiid[57]: 13).

Dan mengenai orang-orang yang beriman, Allah swt , berfirman yang artinya: “Pada hari ketika Allah swt tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia. Sedangkan cahaya mereka memancarkan di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: ‘Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”‘ (QS. At-Tahrim[66]: 8).

Imam Ahmad meriyawatkan, dari Abu Sa’id, ia mencertakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Hati itu ada empat macam; hati yang bersih yang di dalamnya terdapat semacam pelita yang bersinar, hati yang tertutup lagi terikat, hati yang berbalik, dan hati yang berlapis. Hati yang bersih itu adalah hati orang mukmin, dan pelita yang ada di dalamnya itu adalah cahayanya. Hati yang tertutup adalah hati orang kafir. Hati yang berbalik adalah hati orang munafik murni (tulen), ia mengetahui Islam lalu ingkar. Sedangkan hati yang berlapis adalah hati orang yang di dalamnya terdapat iman dan kemunafikan. Perumpamaan iman di dalam hati itu adalah seperti sayur-sayuran yang disiram air bersih. Sedangkan perumpamaan kemunafikan dalam hati adalah seperti luka yang dilumuri nanah dan darah. Maka di antara keduanya (iman dan kemunafikan) yang mengalahkan yang lainnya, maka dialah yang mendominasi.”

Referensi:

  1. Syauqi Dhaif, Al-Mu’jam al-Wasith
  2. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil ‘Adzim

BAGI
Artikel SebelumnyaPerceraian
Artikel BerikutnyaKunci Meraih Keteladanan