Balada Mujaddid

0
70 views

Kabarnya, seorang mujaddid (pembaharu, reformer) akan atau hanya terlahir sekali dalam 100 tahun.

Terlepas dari benar tidaknya kabar ini, ada dua tanggapan yang mungkin mencuat darinya. Pertama, sebuah sikap optimis bahwa ternyata zaman tidak pernah berhenti melahirkan seorang mujaddid. Bukan masalah itu butuh waktu seratus atau seribu tahun. Kedua, sikap pesimis bahwa begitu sulit melahirkan seorang mujaddid hingga butuh masa seabad.

Di balik itu semua, kabar ini mengandung banyak pertanyaan. Bukan tidak mungkin kabar seperti itu dihembuskan oleh kelompok orang yang jenuh dengan kejumudan agama ini hingga diperlukan seorang mujaddid, dan kebutuhan itu perlu mendapatkan landasan pengesahaan sebuah dalil agar bisa diterima oleh masyarakat umum, dan kabar itu sendiri adalah sebuah dalil.

Dan kalaupun mujaddid bisa lahir dalam setiap abad, maka perhituangan abad yang dimaksud di sini dimulai dari kapan?  Jika itu dimulai 90 tahun yang lalu, maka 10 tahun lagi akan ada seorang mujaddid. Jika itu dimulai tepat 100 tahun yang lalu, maka siap-siaplah hari ini lahir seorang mujaddid. Tidak ada kesepakatan dalam hal ini. Lalu setiap golongan sangat mungkin menjadikan dalil itu untuk menyebut tokoh-tokoh mereka sebagai mujaddid.

Pertanyaan selanjutnya, di masa yang semakin mengandalkan kecepatan seperti sekarang ini, bukan tidak mungkin jarak 100 tahun itu bisa dipercepat secara instant—seperti mie—, hingga tidak harus 100 tahun, tapi cukup tiap 10 tahun seorang mujaddid terlahir dan itupun terlahir secara massal, bukan hanya seorang mujaddid.

Bagi yang “khawatir” terhadap laju pembaharuan, maka akan gentar dengan kabar lahirnya seorang mujaddid, jangankan dalam 10 tahun dan massal, bahkan pada lahirnya mujaddid setiap 100 tahun. Bagi orang seperti ini, pembaharuan adalah semacam noda bagi agama yang suci, sakral, dan abadi.

Keberatan sebagian umat Islam terhadap pembaharuan disebabkan kekhawatiran adanya interupsi terhadap rujukan awal yaitu Rasulullah saw. Para pembaharu diyakini tidak mempunyai kapasitas yang cukup untuk menyampaikan sesuatu yang baru dan berbeda dengan apa yang telah disampaikan oleh Rasul.

Salah satu penafsiran terhadap sejarah memberi penjelasan bahwa upaya pembaharuan bahkan telah dimulai sejak Rasulullah saw. masih hidup, yiatu dalam beberapa kasus Rasul menunjuk perwakilan bagi dirinya dan salah satunya seperti kita Rasul mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, sebagaimana dikisahkan dalam salah satu Hadits yang cukup popular.

Nampak di situ bahwa pembaharuan adalah keniscayaan karena Rasul tidak mungkin hadir di setiap tempat dan di segala waktu. Dalam kasus ini, wilayah manusia yang memeluk agama Islam telah sangat luas melampui kemungkinan kehadiran fisik Rasul bersama mereka terus-menerus.

Dalam Hadits itu pula ada pertanyaan yang menarik dari Rasul: “Bagaimana engkau akan memutuskan sesuatu jika tidak ada rujukan dalam Al-Quran dan Hadits?” Muadz menjawab: “Saya akan berijtihad.” Dan jawaban itu membuat Rasul gembira.

Bisa dipahami bahwa Rasulullah saw. telah memperkirakan bahwa di suatu waktu di tempat yang berbeda ada atau banyak hal yang tidak tercakup di dalam Al-Quran dan Sunnahnya dan ketika itu terjadi, maka pusat keagamaan itu sedikit bergeser kepada sosok yang bukan nabi dan bukan rasul, dalam hal ini Muadz bin Jabal.

Jadi, keniscayaan pembaharuan bukan hanya karena secara fisik Rasulullah tidak abadi, tetapi teks-teks pokok keagamaan—ternyata—tidak mencakup segala hal. Selain itu, zaman yang terus berubah membuat kehidupan semakin kompleks. Dan dalam Hadits di atas, Rasulullah saw. memberikan ruang bagi kreativitas Muadz bin Jabal untuk merespon Al-Quran, Hadits, dan kenyataan yang ada.

Apakah kita masih harus menunggu lahirnya mujaddid di setiap kurun waktu 100 tahun, 10 tahun, atau mujaddid harus terlahir setiap saat?[]

By Abdul Muid Nawawi

Bahan bacaan:

Tariq Ramadan, Teologi Dialog Islam-Barat, (Bandung: Mizan, 2002).