Bai’atul Aqabah

0
95 views

Pada bulan Dzulqi’dah tahun 10 kenabian, Nabi saw mendatangi kabilah-kabilah dan perorangan sekitar Makkah. Nabi saw mendatangi mereka sampai ke rumah-rumah mereka dan di pasar-pasar ‘Ukazh, Majinnah dan Dzi’l-Majaz.

Nabi saw Membacakan Kitab Allah swt kepada mereka dan mengajak untuk mentauhidkan Allah swt : „Wahai manusia ! ucapkanlah La Ilaha Illallah, niscaya kalian beruntung. Dengan kalimat ini kalian akan menguasai bangsa Arab dan orang-orang Ajam. Jika kalian beriman, maka kalian akan menjadi raja di surga.“

Imam Az-Zuhry: diantara kabilah yang didatangi Nabi saw adalah: Banu Amir bin Sho’so’ah, Maharib bin Khosfah, Fuzaroh, Gossan, Murroh, Hanifah, Salim, Abas, Banu Nashr, Banul Buka, Kindah, Kalb, Al-Haris bin Ka’ab, ‘Udhroh, Al-Hadhoromah. Tidak ada satu kabilah pun diatas yang menerima dakwah nabi saw. (Mukhtashor Siroh Rasul, Abdullah An-Najdi. h. 149)

Ibnu Ishak: Kepada Bani Kilab Rasul berkata: Rasulullah saw mengajak mereka beriman kepada Allah swt, sambil memuji kabilah mereka, karena kabilah kilab terkenal juga dengan nama kabilah Bani Abdillah. Rasulullah saw katakan: Wahai Bani Abdillah sesungguhnya Allah swt telah membaguskan nama kakek kalian. Tetapi mereka menolak.

Kepada Banu Hanifah Rasulullah saw ajak mereka masuk Islam, tetapi mereka menolak, bahkan penolakan mereka seburuk-buruk penolakan diantara kaum Arab.

Abu Lahab selalu menguntit Nabi saw seraya menimpali ,“Janganlah kalian mengikutinya! Sesungguhnya dia seorang murtad dan pendusta.“ Sehingga mereka dengan cara yang kasar menolak dan menyakiti Nabi saw.

Diantara kabilah yang Nabi saw datangi adalah Bani Amir bin Sha’sha’ah, salah seorang dari mereka Bahira bin Firas berkata,“Demi Allah, kalau aku mengambil anak muda ini dari Quraisy pasti orang-orang Arab akan membunuhnya.“ Selanjutnya dia bertanya,“Bagaimana jika kami berbaiat kepadamu, kemudian Allah memenangkan kamu atas musuhmu,  Apakah kami akan mendapatkan kedudukan (kekuasaan) sesudahmu ?“ Nabi saw: Sesungguhnya urusan kekuasaan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya.“

Bahira bin Firas berkata,“Apakah engkau akan menyerahkan leher-leher kami kepada orang-orang Arab demi mebelamu? Tetapi setelah Allah memenangkanmu, kekuasaan itu diserahkan kepada selain kami? Kami tidak ada urusan denganmu.“

Ketika mereka pulang dan ketemu dengan salah satu sesepuh mereka dan diceritakan kepadanya, Sesepuh itu berkata: apa yang dikatakannya seperti apa yang dikatakan Ismail, dan demi Allah yang dikatakannya adalah benar.

Selain kepada kabilah, nabi saw juga mendatangi perorangan untuk didakwahi , diantara mereka yang menerima dakwah nabi saw dan beriman adalah:

Pertama, Suwed bin Shomit, ahli syair dari kota Yatsrib, dia punya kata-kata hikmah luqmah, ketika nabi membacakan Al-Qur’an dia langsung tertarik dan masuk islam, Tetapi meninggal pada perang buats ( Siroh Ibnu Hisyam: 144-145).

Kedua, Iyas bin Mu’adz penduduk Yatsrib utusan suku Aus, untuk mengadakan perjanjian antara kaumnya dan kaum Quraisy di Makkah, terjadi pada awal th 11 kenabian sebelum perang Bu’ats.

Ketiga, Abu Dzar Al-Ghifary, penduduk Yatsrib, beliau mendapat info dari Suwed dan Iyas, mendatangi makkah dan masuk islam.

Keempat, Thufail bin ‘Amr ad-dausy, pemimpin kabilah Daus, kabilahnya Abu Harairah.

Kelima, Dhimad al-azdi dari Yaman, masuk islam setelah dibacakan Al-Qur’an, dia berkata: saya telah mendengar ucapan tukang sihir, dukun, dll tetapi apa yang anda bacakan lebih bagus.

Ketika berada di ‘Aqabah (suatu temat antara Mina dan Mekkah, tempat melempar Jumrah), Nabi saw bertemu dengan sekelompok orang dari kabilah Khazraj yang sudah dibukakan hatinya oleh Allah swt untuk menerima kebaikan. Mereka itu adalah: As’ad bin Zuroroh, ‘Auf bin Harits, Rafi’ bin Malik, Qhutbah bin ‘Amir bin Hadidah, ‘Uqbah bin ‘Amir bin Naby, jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah saw bertanya,“Kalian siapa? Kami orang-orang dari kabilah Khazraj.“

Beliau bertanya lagi,“ Apakah kalian dari orang-orang yang bersahabat dengan orang-orang yahudi?“ mereka menjawab,“Ya benar.“ Nabi saw bertanya,“ Apakah kalian bersedia duduk bersama kami untuk bercakap-cakap?“ Jawab mereka,“ Baik.“ Lalu mereka duduk bersama beliau. Beliau mengajak mereka supaya beriman kepada Allah swt, menawarkan Islam kepada mereka, kemudian membacakan beberapa ayat suci Al-Quran.

Diantara hal yang telah mengkondisikan hati mereka untuk menerima Islam ialah keberadaan orang-orang Yahudi di negeri mereka. Orang-orang Yahudi dikenal sebagai ahli agama dan ilmu pengetahuan. Jika terjadi pertentangan atau peperangan antara mereka dan orang-orang Yahudi, maka kaum Yahudi berkata kepada mereka: “Sesungguhnya sekarang telah tiba saatnya akan dibangkitkan seorang Nabi. Kami akan mengikutinya, dan bersamanya kami akan memerangi kalian, Setelah Rasulullah saw berbicara kepada mereka, mereka berkata seraya saling berpandangan, “Demi Allah, ketahuilah bahwa dia adalah Nabi yang dijanjikan oleh orang-orang Yahudi kepadamu. Jangan sampai mereka mendahului kamu.“ Akhirnya mereka bersedia menganut Islam, dan berkata,“Kami tinggalkan kabilah kami yang selalu bermusuhan satu sama lain.

Tidak ada kabilah yang saling bermusuhan begitu hebat seperti mereka, masing-masing berusaha menghancurkan lawannya. Mudah-mudahan bersama anda , Allah akan mempersatukan mereka lagi. Kami akan mendatangi mereka dan mengajak mereka supaya taat kepada anda. Kepada mereka akan kami tawarkan pula agama yang telah kami terima dari anda. Apabila Allah berkenan mempersatukan mereka di bawah piminan anda, Maka tidak ada orang lain yang lebih mulia daripada anda.“ Kemudian mereka pulang dan berjanji kepada Rasulullah saw akan bertemu lagi pada musim haji mendatang. Pada tahun itulah Islam tersebar di Madinah.

Pada tahun berikutnya dua belas orang lelaki dari Anshar datang di musim haji menemui Rasulullah saw di ‘Aqabah. Mereka dari dua suku besar di Yatsrib yaitu suku Khazraj: As’ad bin Zurarah, Auf, Muadz anak Al-Harits bin Rifa’ah, Rafi’ bin Malik, Dzakwan bin Abdu Qais Al-Khazraj, Ubadah bin Ash-Shamit, Yazid bin Tsa’labah, Al-Abbas bin Ubadah, Uqbah bin Amir, Quthbah bin Amir.

Dan dari suku Aus: Abu Al-Haitsam bin At-Taihan, Uwaim bin Sa’idah.

Kemudian Rasulullah saw bersabda kepada mereka,“Kemarilah berbaiatlah kepadaku:

Untuk tidak menyekutukan Allah swt dengan apapun juga, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anakmu, tidak akan berdusta untuk menutup-nutupi apa yang di depan atau dibelakangmu, dan tidak akan membantah perintahku dalam hal kebaikan.

Jika kamu memenuhi janji, maka pahalanya terserah kepada Allah. Jika kamu melanggar janji itu, lalu dihukum di dunia, maka hukuman itu merupakan kafarat baginya. Jika kamu melanggar sesuatu dari janji itu, kemudian Allah menutupinya, maka urusannya terserah kepada Allah. Bila mengehendaki, Allah akan menyiksanya, atau memberi ampunan menurut kehendak-Nya.

Ubadah bin Shamit berkata :“ Kemudian kami berbaiat kepada Rasulullah saw untuk menepatinya. Itulah yang disebut dengan Bai’at Aqabah pertama.

Setelah pembaiatan ini, para utusan kaum Anshar itu pulang ke Madinah. Bersama mereka Rasulullah saw mengikut sertakan Mush’ab bin Umair, untuk mengajarkan al-Quran dan hukum-hukum agama kepada mereka. Sehingga akhirnya Mush’ab bin Umair dikenal sebagai Muqri’ul-Madinah.

Tatkala kaum Anshar tiba di negerinya, mereka mulai menyebarkan berita tentang Rasulullah saw kepada kaumnya dan menyeru mereka kepada Islam hingga Islam menyebar dengan cepat di tempat mereka, Mush’ab tinggal di rumah As’ad bin Zurarah, Mush’ab menjadi imam shalat bagi mereka, karena Al-Aus tidak mau diimami orang dari Al-Khazraj demikian pula sebaliknya. Setiap rumah orang-orang Anshar tak pernah sepi dari diskusi tentang Rasulullah saw.

Referensi:

  1. Abdullah An-Najdi, Mukhtashor Siroh Rasul
  2. Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah
  3. Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, Arrahiq Al-Makhtum