Azimah

0
54 views

mki5ska.wordpress.comAzimah secara etimologi atau bahasa maknanya: azam atau tekad atau maksud yang kuat. Seperti Firman Allah swt:

وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

“Kami tidak dapati padanya (Adam) tekad yang kuat untuk melakukan maksiat”

(QS. Thaha[20]:115).

Dan dalam ayat lain Allah swt berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ

apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah swt.

(QS. Ali-Imran [3]:159).

Sedangkan secara terminology, para ulama ushul fikh merumuskannya dengan:

 

مَا شُرِعَ مِنْ الأَحْكَامِ الكُلِّيَّةِ اِبْتِدَاءً

“Hukum-hukum yang disyari’atkan Allah swt kepada seluruh hamba-Nya sejak semula”.

Maksudnya, sejak semula Pensyari’atannya tidak berubah dan berlaku untuk seluruh umat, tempat dan masa tanpa kecuali.

Seluruh hukum taklifi(khitab atau firman Allah swt yang berhubungan dengan segala perbuatan para mukallaf) termasuk dalam azimah dan para mukalaf (orang yang sudah dibebani dengan perintah) dituntut untuk melaksanakannya dengan mengerahkan kemampuan untuk mencapai sasaran yang dikehendaki hukum tersebut. Berdasarkan usaha ini orang tersebut berhak mendapatkan balasan pahala dari Allah swt, jika hukum yang di kerjakannya itu termasuk dalam kategori wajib dan sunah.

Menurut jumhur ulama, yang termasuk azimah, adalah kelima hukum taklif (Wajib, sunah, haram, makruh dan mubah), karena kelima hukum ini disyari’atkan bagi umat Islam sejak semula. Akan tetapi, sebagian ulama berpendapat bahwa yang termasuk azimah itu hanya hukum wajib, sunah, makruh dan mubah. Ada juga ulama ushul fikh yang membatasinya dengan hukum wajib dan sunah saja, serta ada pula yang membatasi dengan wajib dan haram saja.  

Macam-macam Azimah      

Para ulama ushul fiqh menyatakan bahwa azimah ada empat macam, yaitu :

Pertama, Hukum yang disyariatkan sejak semula untuk kemashlahatan umat manusia seutuhnya, seperti ibadah, muamalah, jinayah dan seluruh hukum yang bertujuan untuk mencapai kebahagiaan umat di dunia dan di akhirat.

Kedua, Hukum yang disyariatkan karena adanya suatu sebab yang muncul, seperti hukum mencaci maki berhala atau sesembahan agama lain. Hal ini dilarang oleh Allah swt, karena orang yang menyembah berhala atau sesembahannya dicela akan berbalik mencela Allah swt. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt:

 

    وَلاَ تَسُبُّواْ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ فَيَسُبُّواْ اللّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ …..

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah swt dengan melampaui batas tanpa pengetahuan…”(QS. al-An’am [6]:108)

Ketiga, Hukum yang disyariatkan sebagai pembatal (nasikh) bagi hukum sebelumnya, sehingga mansukh seakan–akan tidak pernah ada. Status nasikh dalam kasus seperti ini adalah azimah. Misalnya, firman Allah swt dalam persoalan pengalihan arah kiblat dalam surat Al-baqarah, 2:144:

 

    ….. فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ……

 “Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.”(QS. Al-Baqarah [2] :144)

Maksudnya ialah Nabi Muhammad s.a.w. sering melihat ke langit berdo’a dan menunggu-nunggu turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Baitullah.

Keempat, Hukum pengecualian dari hukum-hukum yang berlaku umum, seperti firman Allah swt dalam surat An-Nisa, 4:24:

 

   وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ …..

 “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki…..”( QS. An-Nisa [4] :24)

Dalam ayat ini Allah swt mengharamkan mengawini para wanita yang telah bersuami dengan lafaz yang bersifat umum, kemudian dikecualikan dengan wanita-wanita yang menjadi budak.