Awas, Narkoba Menggila

0
42 views

Peredaran narkotika di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin marak. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional, saat ini ada sekitar 3.256.000 jiwa dengan estimasi 1,5% penduduk indonesia adalah penyalahguna narkoba. Maraknya peredaran narkoba di Indonesia merugikan keuangan negara sebesar Rp. 12 triliun setiap tahunnya. BNN juga menyebutkan 15.000 orang meninggal akibat penyalahgunaan narkoba. Dari jumah tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa 40 nyawa per hari harus melayang akibat narkoba (BNN, 2006).

Kondisi ini semakin memprihatinkan karena pemakai penyalahgunaan narkoba kebanyakan adalah remaja dan jangkauan sudah meluas sampai ke pelosok-pelosok desa. Jika tidak segera ditanggulangi secara cepat dan tepat, masalah penyalahgunaan Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) merupakan ancaman bagi kesejahteraan generasi yang akan datang.

Mengapa remaja? Karena kecenderungan remaja sedang dalam tahap pencarian identitas diri senang mencoba hal-hal baru disamping juga senang berkelompok. Terkadang remaja dalam mencoba hal yang baru bukan hanya suatu hal yang positif saja tetapi sering juga mencoba hal-hal yang negatif dan sering bertentangan dengan hukum. Memang pada masa remaja sedang terjadi perkembangan yang sangat pesat pada aspek kognitif, fisik, kematangan seksual dan emosional. Oleh karena itu, remaja perlu kemampuan untuk mengontrol perilakunya sendiri, agar tidak asal mengikuti kemauan orang lain yang bertentangan dengan kehendak dan aturan yang berlaku dalam masyarakat.

Dalam percakapan sehari-hari, sering digunakan istilah narkotika, narkoba, NAZA maupun NAPZA. Secara umum, semua istilah itu mengacu pada pengertian yang kurang-lebih sama yaitu penggunaan zat-zat tertentu yang mempengaruhi sistem saraf dan menyebabkan ketergantungan (adiksi). Namun dari maraknya berbagai zat yang disalahgunakan di Indonesia akhir-akhir ini, penggunaan istilah narkotika saja kurang tepat karena tidak mencakup alkohol, nikotin dan kurang menegaskan sejumlah zat yang banyak dipakai di Indonesia yaitu zat psikotropika. Karena itu, istilah yang dianggap tepat untuk saat ini adalah NAPZA: Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya.

Pada awalnya, zat-zat ini digunakan untuk tujuan medis seperti penghilang rasa sakit. Namun apabila zat-zat ini digunakan secara tetap, bukan untuk tujuan medis atau yang digunakan tanpa mengikuti dosis yang seharusnya, serta dapat menimbulkan kerusakan fisik, mental dan sikap hidup masyarakat, maka disebut penyalahgunaan NAPZA (drug abuse).

Salah satu sifat yang menyertai penyalahgunaan NAPZA adalah ketergantungan (addiction). Misalnya heroin yang ditemukan oleh Henrich Dresser tahun 1875, digunakan untuk menggantikan morfin dalam pembiusan karena diduga heroin tidak menimbulkan ketergantungan. Padahal –keduanya berasal dari opium– heroin justru menimbulkan ketergantungan yang sangat kuat. Sejarah juga menunjukkan bahwa banyak tentara Amerika pasca perang Vietnam menjadi ketergantungan heroin karena zat ini sering digunakan sebagai penghilang rasa sakit selama perang berlangsung.

Seseorang dianggap menyalahgunakan NAPZA jika memakai obat tersebut secara terus-menerus atau sekali-sekali secara berlebihan, serta tidak menurut petunjuk dokter. Sehingga dapat menimbulkan gangguan baik badan maupun jiwa seseorang, diikuti dengan akibat sosial yang tidak diinginkan.

Dalam konteks hukum Islam, narkoba sendiri tergolong khamr, yang status hukum mengkonsumsinya haram. Khamr, adalah segala barang, benda atau produk yang melemahkan, mengganggu atau merusak syaraf, kemampuan berfikir atau emosi manusia. Untuk itu Rasulullah menegaskan bahwa apapun yang diharamkan banyak atau sedikitnya tetap saja haram.

Sayangnya, tidak seperti keharaman darah dan daging babi, Larangan mengkonsumsi khamr Cenderung tidak begitu ditaati. Padahal keharamannya jelas sebagaimana tertuang dalam QS al-Baqarah [2]: 219: ”Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: “pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya…”

Dalam konteks tersebut, Hawari (2003) menjelaskan bahwa ketika seseorang menghadapi problem kehidupan yang mengakibatkan dirinya mengalami stress karena tidak menemukan jalan keluar, maka seringkali ia “melarikan diri” ke NAPZA. Sebetulnya kebutuhan dasar manusia adalah rasa terlindung dan aman yang artinya manusia memerlukan “Pelindung” yaitu Tuhan yang dapat memberikan rasa ketenteraman dan kenyamanan dalam hidup ini dan memberikan petunjuk dalam penyelesaian dalam berbagai problem kehidupan. Dalam banyak hal seringkali manusia lupa memohon taufiq dan hidayah Tuhan dalam menyelesaikan permasalahan kehidupannya, sehingga takut menghadapi kenyataan, dan karenanya kemudian terlibat penyalahgunaan NAPZA.

Tidak bisa dipungkiri juga bahwa ada orang yang terjerat narkoba karena alasan-alasan ‘sulit’ dalam hidup. Entah secara ekonomi susah sehingga menjadi pegedar narkoba, entah banyak masalah sehingga lari dari kenyataan dan memilih narkoba, entah karena bujukan teman atau kekhawatiran dianggap tidak gaul sehingga terjerumus ikut-ikutan, namun pendorong paling utama dari jeratan narkoba pastilah karena lemah keimanan. Sebab orang beriman pasti tidak akan melanggar apa yang diharamkan agamanya. Dan dia akan menghindari narkoba bukan hanya karena tahu akan ada gangguan penyakit tapi karena dia tahu melanggar larangan Allah berarti juga memunculkan murka Allah dan memberinya neraka di dunia dan akhirat. Oleh karena itu kesadaran beragama merupakan benteng penolak terkuat bagi terjerumusnya seseorang dengan narkoba maupun kambuhnya seseorang mantan pengguna.