Awas!! Dengki Menipu Diri

0
51 views

psikologi islamDerasnya arus perkembangan dan kemajuan era globalisasi ternyata tidak hanya memberikan kemudahan kepada manusia dalam memenuhi keinginan dan kebutuhannya tapi juga dalam prosesnya tanpa disadari, terkadang manusia tidak bisa mengelakkan dirinya dari perangkap iri dan dengki (hasad). Hal tersebut diantaranya karena dalam bermasyarakat apalagi di zaman sekarang (moderen), baik dalam berelasi, berkongsi, berserikat dsb kecendrungan untuk selalu menjadi yang terdepan dalam meraih hasil yang terbaik sangatlah tinggi.

Ukuran globalisasi identik dengan materi sehingga semakin banyak orang yang tak bisa mengendalikan hati. Jikalau diri sampai lepas kontrol dalam meyingkapinya jelas berimbas pada kegalauan pikiran dan kegoncangan jiwa, yang diiringi dengan munculnya berbagai macam penyakit seperti stres, depresi, tekanan jiwa, sampai pada penyakit hati yang sangat berbahaya seperti lahirnya sifat hasad, iri dan dengki.

Dengki kepada rekan yang baru naik jabatan, dengki kepada tetangga yang punya mobil mewah, dengki kepada saudara yang anaknya sarjana, dengki kepada sahabat yang selalu memperoleh nilai tinggi di sekolah, dengki kepada orang lain yang bisa menaklukkan perempuan atau laki-laki yang dicintainya, dan lain sebagainya.

Kapan Rasa dengki dan iri muncul? Rasa dengki dan iri baru tumbuh manakala orang lain menerima nikmat.

Biasanya jika seseorang mendapatkan nikmat, maka akan ada dua sikap pada manusia. Pertama, ia benci terhadap nikmat yang diterima kawannya dan senang bila nikmat itu hilang daripadanya. Sikap inilah yang disebut hasud, dengki dan iri hati. Kedua, ia tidak menginginkan nikmat itu hilang dari kawannya, tapi ia berusaha keras bagaimana mendapatkan nikmat semacam itu. Sikap kedua ini dinamakan ghibthah (keinginan). Yang pertama itulah yang dilarang sedang yang kedua diperbolehkan. Menurut Prof. DR. Zakiah Daradjat, sikap pertama disebut dengki/iri yang negatif dan yang kedua disebut iri yang positif.

Dengki pada hakikatnya berkorelasi dengan konstelasi pribadi seseorang yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan diri sendiri, senang melihat orang lain di timpa kesusahan dan susah melihat orang lain mendapat nikmat. Karena itu sifat iri dan dengki dalam pandangan psikologi adalah gejala (pertanda) bahwa mental orang tersebut tidak sehat.

Eksistensi pribadi yang rapuh&goyah menyebabkan mudah timbulnya berbagai keinginan untuk menyamai, melebihi, atau bahkan menguasai orang lain dengan maksud menentramkan dan memakmurkan dirinya sendiri yang biasanya berhubungan dengan sistim kebutuhan/materi maupun dalam hal pangkat dan jabatan. Jadi rasa dengki sangat dipengaruhi oleh sejauh mana seseorang dalam eksistensinya telah mencapai apa yang di inginkannya.

Sementara diri secara gaib akan di pengaruhi dan di goda Setan dan Iblis yang merupakan musuh yang nyata bagi manusia bahkan akan terus memompa dan memanas-manasi manusia dengan memunculkan keinginan-keinginan buruk untuk menghalalkan segala cara, yang berawal dari memperturutkan hawa nafsu.

Mengapa Orang dengki? Sifat atau perbuatan dengki terjadi pada orang yang merasa tidak puas terhadap dirinya sendiri atau kurang percaya diri. Biasanya orang yang kurang percaya diri mudah tersinggung dan mudah merasakan bahwa orang lain kurang menghargainya. Maka keberhasilan orang lain seolah-olah jadi pemicu bagi meningkatnya perasaan kurang pada dirinya. Maka unuk membela diri, ia merasa perlu menyerang orang yang dianggap saingannya itu.

Islam melarang orang mukmin mendengki orang lain. Rasulullahbersabda: ”Jangan sekali-kali kamu berbuat dengki, sesungguhnya dengki itu memakan segala kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” (HR Abu Dawud).

Nabi Muhammad sadar bahwa sifat iri dengki dapat saja melekat pada manusia, karena itu orang beriman dianjurkan agar waspada terhadap sifat buruk yang mungkin tumbuh di hati manusia yang kurang mengamalkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kita juga dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dan juga memohon perlindungan terhadap perbuatan dengki orang yang dengki (lihat QS al-Falaq: 5). Wallaahu A’lam.

 

BAGI
Artikel SebelumnyaIslam dan Toleransi
Artikel BerikutnyaNikah