Averroisme dan Perkembangan Pemikiran Barat

0
22 views

Ibn Rusyd termasuk filosof yang sangat produktif. Ia banyak menghasilkan karya-karya dalam berbagai disiplin ilmu. Ibn Al-Abar menyimpulkan bahwa di bumi Spanyol belum pernah ada seorang ilmuan yang utama dan sempurna seperti Ibn Rusyd. Menurut Ernest Renan (1823-1892), karya Ibn Rusyd mencapai 78 judul, dengan rincian tiga puluh sembilan judul tentang filsafat, lima tentang ilmu kalam, delapan tentang fikih, empat tentang ilmu falak, matematika, dan astronomi, dua tentang nahwu dan sastra, serta dua puluh judul tentang kedokteran.

Periode penulisan Ibn Rusyd, menurut beberapa tokoh, dapat dibedakan dalam beberapa periode. Menurut Roger Arnaldez (seorang islamolog Francis), periode hingga tahun 1178 adalah masa dimana Ibn Rusyd menulis komentar-komentar atas Aristoteles dan filosof lainnya, dan masa sesudahnya hingga 1180 barulah ia menulis karya-karyanya yang orisinal. Sedangkan menurut Dominique Urvoy (salah Profesor teologi dari Francis yang banyak menulis tentang Ibn Rusyd), periode kepenulisan Ibn Rusyd dibagi dalam tiga tahap. Pertama, periode awal hingga tahun 1176, Ibn Rusyd menulis komentar-komentar pendek dan menengah dari karya Aristoteles. Kedua, antara tahun 1177 hingga 1190, Ibn Rusyd sudah menulis karya-karya orisinalnya. Ketiga, ketika Ibn Rusyd diangkat sebagai dokter istana hingga akhir hidupnya, ia menulis komentar-komentar panjang atas karya Aristoteles, dimana ia sesekali berbeda pendapat dan memberikan sanggahan serta perbandingan atas pendapat Aristoteles.

Namun sayang, banyak di antara karya-karya Ibn Rusyd yang raib, terutama ketika ia diasingkan setelah mendapat fitnah. Ibn Rusyd diasingkan ke suatu tempat bernama Lucena yang terletak sekitar 50 km di arah tenggara Cordova. Pengasingan Ibn Rusyd tidak terlepas dari persoalan politik dan ketidaksenangan sebagian pihak atas keberhasilan dan kedekatan Ibn Rusyd dengan khalifah al-Manshur yang berkuasa ketika itu. Kebencian terhadap Ibn Rusyd mendapatkan momentumnya ketika ia menulis dalam salah satu karyanya, dengan mengutip pandangan salah seorang filosof Yunani, bahwa “Bintang Venus adalah salah satu Dewa”. Pernyataan ini dituduhkan sebagai pernyataan pribadi Ibn Rusyd. Akibatnya, oleh para ulama dan fuqaha, ia diangap sebagai zindik dan kafir. Sebagian besar bukunya dibakar, terutama buku-buku filsafat, sementara ia sendiri diasingkan.

Ketika dibuang ke Lucena, Ibn Rusyd disambut oleh murid-muridnya, antara lain Maimunides dan Josef Benjehovan. Di tempat pembuangannya, Ibn Rusyd tetap melanjutkan aktivitas menulisnya dan banyak pula pemuda-pemuda Yahudi yang datang belajar kepadanya. Tidak lama setelah itu, karya-karya Ibn Rusyd dalam bahasa Latin dan Hebrew menyebar di Eropa. Di antara penerjemah-penerjemah Ibn Rusyd yang terkenal adalah Rahib Jiral Salfaster (dari Arab ke Latin) dan Musa ibn Maimun (seorang reformis Yahudi), Michael Scot, Yacob Abanawai, dan Herman.  Dari sinilah pengaruh Ibn Rusyd menjadi semakin kuat di Eropa.

Menguatnya pengaruh Islam ke dunia intelektual Barat terutama terjadi pada akhir abad 11 hingga abad 12 M. Ketika itu, Barat masih berada pada masa Abad Pertengahan dengan sistem sosial yang masih sangat feodalistik. Sistem masyarakat feodal berkembang luas dan meliputi sebagian besar wilayah Eropa. Kendali sosial, politik, dan ekonomi dipegang oleh para tuan tanah dan bangsawan, sementara mereka yang tidak memiliki tanah menjadi budak dan dikontrol melalui kekuasaan yang menindas. Satu lagi kelompok yang juga ikut memegang kendali sosial adalah kalangan gereja. Dengan kelihaiannya, mereka bersekongkol dengan para tuan tanah dan bangsawan; apalagi dengan dalih sebagai pemegang otoritas moral dan agama, kalangan gereja leluasa memaksakan nilai kebenaran mereka dalam sistem masyarakat. Bentuk persekongkolan gereja dan para tuan tanah dinamakan dengan benifecium, yaitu raja-raja memberikan hak istimewa kepada pihak gereja, dan sebagai imbalannya, pihak gereja memberi “restu” bagi praktik feodalistik yang berlangsung.

Akibat langsung dari sistem ini adalah tertutupnya pintu-pintu intelektual dan menguatnya faham fideisme (keyakinan buta terhadap iman). Gereja, di bawah hirarki pemuka agama Kristen menjadi pemegang otoritas mutlak untuk menafsirkan doktrin-doktrin agama. Pemahaman apapun yang tidak sejalan dengan doktrin gereja dianggap menyimpang dan keluar dari ajaran Kristen. Pada masa inilah beberapa saintis yang berbeda pandangan dengan gereja harus mengakhiri hidupnya di tiang gantungan atau dihukum seumur hidup, sebagaimana yang dialami oleh Galileo. Tokoh-tokoh lain yang mengalami inkuisisi karena berbeda pendapat dengan gereja, antara lain, Roger Bacon yang dipenjara selama bertahun-tahun, Servetus yang dibakar hidup-hidup di Jenewa karena menentang Trinitas, Giordano Bruno yang menganut faham helosentris dihukum mati di Roma, dan beberapa saintis lainnya.

Kondisi ini lambat laun memicu penentangan dari masyarakat kelas bawah yang tertindas dengan didukung oleh kalangan intelektual yang berpikir bebas. Hingga pada abad ke-14 terjadi renaisance yang menandai perputaran jarum jam sejarah Barat. Renaisance yang disebut juga Abad Pencerahan telah mendorong kemajuan masyarakat Barat hingga seperti sekarang ini.

Kemajuan peradaban Barat yang diawali dengan proses renaisance, tidak terlepas dari sumbangan peradaban Arab Islam yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh filosof dan saintis Islam. Dalam hal ini, peran Spanyol-Islam tidak bisa dilupakan. Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, maupun perekonomian dan peradaban antar negara. Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol yang berada di bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara tetangganya Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains disamping bangunan fisik. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Spanyol merupakan “jembatan penyeberangan kebudayaan muslim ke Barat”.

Salah satu pusat kota yang banyak memainkan peran adalah Cordova (Kordoba). Kordoba adalah salah satu kota di Andalusia yang terletak di belahan barat Spanyol. Kota ini memanjang di tepi kanan sungai Lembah Besar. Kordoba merupakan kota tua Iberia dengan nama Iberi Baht, kemudian orang Arab menyebutnya Qurthubah atau Kordoba. Islam masuk ke kota Kordoba pada tahun 93 H atau 711 M. di bawah pimpinan Thariq bin Ziad yang datang memimpin pasukan Islam untuk menaklukkan Andalusia. Kordoba kemudian diduduki oleh penguasa-penguasa Andalusia selama hampir tiga abad hingga runtuhnya kekhalifahan di Andalusia. Abdurrahman Ad-Dakhil menjadikan kota Kordoba sebagai pusat ilmu pengetahuan, kebudayaan, kesenian dan kesusasteraan untuk seluruh Eropa. Ia mengundang ahli-ahli hukum Islam, sains, filsafat dan syair untuk berkunjung ke Kordoba. Pada masa kekuasaan Abdurrahman An-Nashir, kemudian masa kekuasaan putranya, Hakam, kota Kordoba berhasil mencapai tingkat kesejahteraan dan kekayaan yang belum pernah dicapai sebelumnya. Saat itu Kordoba sejajar dengan Bagdad, ibukota Dinasti Abbasiah; Konstantinopel, ibukota Bizantium; dan Kairo, ibukota Dinasti Fatimiah.

Berkembangnya Spanyol sebagai pusat ilmu pengetahuan menjadikan pemikiran Ibn Rusyd juga tersebar dan dikenal luas. Terutama karena ajarannya untuk mengembangkan kebebasan berpikir dan kritis. Seperti disebutkan sebelumnya, pemikiran Ibn Rusyd yang tertuang dalam karya-karya monumentalnya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Hebrew. Dari proses inilah transformasi intelektual berlangsung dengan sangat cepat melalui gerakan Averroisme, yaitu suatu gerakan yang berkembang sejak abad ke-13 yang berusaha mentransfer dan mengembangkan gagasan-gagasan Ibn Rusyd dalam setting sosial masyarakat Barat.

Selain menerjemahkan karya-karya Ibn Ruysd, para sarjana Yahudi juga menulis komentar-komentar terhadap karya-karya Ibn Rusyd. Ditambah dengan terjemahan-terjemahan dalam Bahasa Latin, karya-karya Ibn Rusyd benar-benar mengguncang sendi-sendi kehidupan sosio-religius masyarakat Barat. Sampai abad ke-17 pengaruhnya tetap dominan dan buku-bukunya menjadi rujukan utama di universitas-universitas Barat.

Averroisme pada mulanya merupakan bentuk penghinaan (pejoratif) terhadap pendukung Ibn Rusyd. Tidak seorang pun yang berani dengan tegas menyatakan dirinya sebagai pendukung Averroisme. Barulah setelah Johannes Jandun (1328) pertama kali menegaskan dirinya sebagai pengikut Averroisme dan diikuti oleh Urban dari bologna (134) dan Paul dari Venesia (1429), para pendukung Ibn Rusyd berani bicara terbuka dan terang-terangan. Tokoh-tokoh yang terkenal sebagai pelopor Averroisme adalah Siger de Brabant (1235-1282) diikuti oleh muridnya seperti Boethious deDecie, Berner van Nijvel, dan Antonius van Parma. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa Ibn Rusyd yang sangat tertarik dengan landasan pemikiran rasional yang dikembangkan Ibn Rusyd.

Ada beberapa faktor yang mendukung besarnya pengaruh Ibn Rusyd dalam pemikiran Barat. Pertama, setting sosial Ibn Rusyd sebagai orang “Barat”, dimana Spanyol dan Sicilia merupakan dua pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam sekaligus menjadi daerah transformasi peradaban Islam ke Barat. Kedua, basis pemikirannya dari Aristoteles mendapatkan tempat yang cukup besar di kalangan pemikir Barat, karena ia dianggap telah berjasa menggali kembali mutiara kearifan Yunani yang terpendam sekian lama pada masa-masa Abad Pertengahan. Ketiga, Ibn Rusyd adalah pemikir rasional dan berhasil mengembangkan gagasan rasional ke dunia Barat. Ia menempatkan posisi akal pada posisi yang sangat tinggi. Inilah yang kemudian berkembang dan sangat berpengaruh dalam pola pikir masyarakat Barat khususnya pada Akhir Abad Pertengahan.

Mungkin di antara perasaan sumringah dan bangga karena melihat betapa Islam melalui tokoh-tokoh pemikirnya, termasuk Ibn Rusyd, telah sangat berjasa dalam mengembangkan peradaban di Barat, tetapi juga kita patut tertegun dengan kenyataan bahwa di Islam sendiri gerak peradaban seakan berjalan di tempat. Setelah masa-masa kejayaan di Spanyol, Islam mengalami kemunduran yang luar biasa, termasuk di bidang filsafat. Patut disayangkan bahwa setelah sepeninggal Ibn Rusyd perkembangan filsafat di dunia Islam mengalami kemandegan, dan tidak lagi berkembang seperti masa sebelumnya.

Tentunya ini menjadi bahan pemikiran yang perlu direnungi secara mendalam. Apa masalahnya?[]

BAGI
Artikel SebelumnyaKaramah
Artikel BerikutnyaMenerima Kritik Anak