Avatar, Kecepatan dan Keheningan

0
50 views

Belum kering lidah membincangkan film 2012 yang menghebohkan, wacana telah beralih kepada film Avatar karya James Cameron yang juga adalah pembesut film Titanic yang legendaris itu. Jika film 2012 berdasar pada ramalan akhir dunia pada tahun 2012, maka setting film Avatar adalah tahun 2154, jauh setelah kiamat terjadi menurut versi 2012. Ini  adalah hal yang melegakan karena ternyata kiamat belum terjadi di 2012; ini bukan termasuk kiamat pribadi-pribadi ketika maut menjemput. Hal yang disebut terakhir ini tidak pernah melegakan.

Lalu film 2012 pun berlalu bak embun diterpa sinar mentari pagi. Begitu mudah orang melupakan dan begitu cepat isu berganti. Bagitu cepat orang berpindah ke lain hati.

Konon kita hidup di zaman ketika kecepatan adalah hal yang maha penting. Setiap yang tercepat akan masuk dalam catatan sejarah dengan tinta emas. Gol tercepat, lari tercepat, mobil tercepat, motor tercepat, dan sebagainya. Di dunia seperti ini, per sekian detik adalah jarak waktu yang sangat berharga dan sangat menentukan. Itu bisa berarti hidup dan mati. Juga berarti kekuasaan.

Awalnya, yang penting adalah kebaruan. Setiap kebaruan berarti kemajuan dan dinamika. Namun kebaruan kini bukan lagi barang baru. Setiap saat kita bertemu sesuatu yang baru dan baru. Kita semua tahu, bungkus handphone belum lagi lecek, cicilannya belum lagi lunas, tapi handphone kita yang baru dan berasal dari seri terbaru itu tidak lagi baru karena telah dipasarkan seri-seri yang lebih baru lagi.

Kebaruan pun bukan lagi barang baru. Yang menjadi baru kemudian adalah pergantian terus-menerus itu sendiri, dan itupun telah mencapai titik jenuhnya. Di dalam kesadarannya yang paling dangkal, manusia sebenarnya telah capek dengan kebaruan terus-menerus yang tidak mungkin digapai karena seperti mengerjar bayang-bayang sendiri. Namun di sisi lain, tidak mengerjar kebaruan berati ketertinggalan dan kehinaan tersendiri. Lalu dinamika kebaruan pun kini beralih menjadi dinamika perbedaan. Lihatlah yang terjadi pada citra, fashion, mode, dan gaya. Yang terjadi adalah: “yang baru selalu berarti berbeda, walaupun berbeda tidak selalu berarti baru”.

Saya sering melihat motor yang diganti stripingnya atau ditempeli macam-macam stiker yang sebenarnya tidak menambah bagus dan indah dipandang motor tersebut. Bagi pemilikinya, mungkin indah dan bagus memang bukan tujuan karena tujuan utama adalah “berbeda”. Itu yang penting. Barangkali “berbeda” dalam hal ini adalah sebentuk kejenuhan terhadap kebaruan yang telah mulai membosankan.

Kecepatan, kebaruan, perbedaan, dan apapun yang telah menjadi “sungguh terlalu” ini lalu membuat manusia menjadi super sibuk. Sibuk dengan kecepatan, kebaruan dan perbedaan yang harus mereka taati jika tidak ingin tergilas roda zaman. Kondisi itu—karena saking cepatnya—tidak lagi memberikan ruang kosong, masa jeda, keheningan, permenungan dan kontemplasi. Kemudian yang hadir adalah kehampaan, kekosongan makna.

Seperti film Avatar yang bercerita tentang ibarat sebuah robot, yang dikendalikan melalui transformasi kinerja otak manusia, yang dialihkan ke raga avatar pilihannya. Dengan mengendalikan avatar, manusia bisa mengakali kelemahan fisiknya.

Dalam film tersebut salah satu tokoh utama bernama Grace Augustine, memperlihatkan bahwa dirinya lebih peduli terhadap Avatar yang ia miliki dalam Dunia Pandora ketimbang tubuhnya sendiri. Menurut Cameron hal ini juga berlaku pada dunia nyata.

“Dari sudut pandang karakter kami coba menunjukkan bahwa Grace lebih mempedulikan Avatar yang dimilikinya ketimbang tubuhnya sendiri. Hal tersebut adalah sesuatu yang buruk yang sering terjadi dalam kehidupan nyata, seperti dalam video game online,” tutur Cameron.

Kita mungkin lebih peduli avatar diri kita yang terus-menerus mengejar kecepatan, kebaruan, dan perbedaan demi untuk tidak “ketinggalan zaman”. Bagi para maniak game tentu tidak asing dengan hal ini; ketika mereka lupa makan dan minum demi kejayaan avatar mereka di dunia maya. Namun di sisi lain kita tidak pernah peduli apa sebenarnya yang diinginkan diri kita sendiri. Dan itu sulit jika kita tidak lagi mau berkontemplasi dan bermenung. Ya, betapapun fenomenalnya film Avatar dan James Cameron, semua itu akan sirna ditelan oleh kecepatan dan kebaruan.[]

Bahan Bacaan:

http://www.detikinet.com/read/2010/01/05/101654/1271757/654/james-cameron-manusia-lebih-peduli-pada-avatar-mereka, diakses pada 2 Januari 2010

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/12/27/Pentas/index.html, diakses pada 2 Januari 2010

Yasraf Amir Piliang, Sebuah Dunia Yang Dilipat, Bandung: Mizan, 1998