‘ATIQ

0
46 views

tahukahanda.comKata ‘atîq (عَتِيْقٌ) merupakan kata benda yang berfungsi sebagai sifat bagi pelaku atau subjek (ism fâ‘il). Kata ‘atîq (عَتِيْقٌ) ini termasuk kata turunan dari ‘ataqa – ya‘tiqu – ‘itqan wa ‘atqan wa ‘ataqan wa ‘ataqatan wa ‘utuqan. Ism fâ‘il-nya ada dua macam, yaitu ‘atîq wa ‘âtiq (عَتِيْقٌ وَعَاتِقٌ). Bentuk yang pertama ‘atîq (عَتِيْقٌ) merupakan bentuk perubahan yang tidak beraturan (irregular = Inggris atau sima‘i = Arab). Jadi, bukan sebagai bentuk shigah al-mubâlagah (superlatif) yang mengan­dung arti “maha”. Bentuk ini pada umumnya digunakan oleh orang-orang Arab dalam percakapan mereka sehari-hari dan al-Quran pun memilih bentuk ini. Adapun bentuk yang kedua ‘âtiq (عَاتِقٌ) merupakan bentuk standar reguler.

Menurut Ibnu Zakaria dan al-Ashfahani kata ‘atîq (عَتِيْقٌ) mempunyai arti dasar (arti denotasi atau arti generik), yakni: 1) al-karam (اَلْكَرَمُ = mulia), baik karena kejadian (fisik) maupun karena akhlak atau perilakunya (mental); dan 2) al-qidam (اَلْقِدَمُ = terdahulu atau terkemuka), baik dari segi umur, tempat, maupun martabatnya. Adapun Ibnu Manzur di dalam Lisanul ‘Arab-nya menjelaskan bahwa di samping arti al-karam (اَلْكَرَمُ = mulia), ‘atîq (عَتِيْقٌ) merupakan antonim dari riqq (رِقٌّ = budak). Jadi, menu­rutnya, hurrul ‘atiq (حُرُُّ الْعَتِيْقِ) berarti “merdeka” atau “bebas”. Arti ini merupakan pengembangan dari arti denotasi menjadi arti konotasi. Arti konotasi lainnya adalah “antik” atau “tua”.

Di dalam berbagai hal, di antara arti denotasi dan konotasi tersebut terdapat keterkaitan yang erat. Yang tua dihormati atau dimuliakan, yang bernilai antik dihar­gai tinggi, yang terkemuka biasanya dihormati dan sesuatu yang dihormati adalah mulia dan terkemuka. Dan, secara faktual orang yang merdeka lebih dihormati dibanding hamba sahaya. Kata ‘atîq (عَتِيْقٌ) di dalam al-Quran digunakan untuk menun­juk arti “bebas”, “tua”, “mulia”, dan “dihormati”.

Di dalam al-Quran, kata al-‘atîq hanya disebut dua kali, yaitu dalam S. Al-Hajj (22): 29 dan 33. Keduanya dirangkaikan dengan kata al-bait (اَلْبَيْتُ) dalam fungsi sebagai keterangan, yang berarti “Ka’bah” (baitullah).

Ka’bah — sebagaimana dikutip oleh Ibnu Zakaria — disebut al-bait al-‘atîq (اَلْبَيْتُ الْعَتِيْقُ) karena ada beberapa kemungkinan, yaitu: 1) Menurut Al-Halil, Ka’bah merupakan rumah (bangunan) pertama yang diperuntukkan bagi manusia untuk beribadah. Ini dapat dilihat di dalam S. Ali ‘Imrân [3]: 96. Untuk itu, al-‘atîq (اَلْعَتِيْقُ) diartikan al-qadîm (اَلْقَدِيْمُ = sudah ada sejak lama) karena pembangunannya yang pertama dilakukan oleh Nabi Adam As. serta dipugar oleh Nabi Ibrahim As. dan Isma‘il As.; 2) Menurut pendapat lain, karena Ka’bah terbebas (selamat) dari tenggelam dalam peristiwa badai topan yang melandanya; 3) Karena Ka’bah terbebas dari serangan tentara bergajah yang dipimpim oleh Abrahah dari Ethiopia; 4) Karena Ka’bah bebas dari klaim seseorang atau pihak-pihak tertentu sebagai miliknya (Ka’bah semata-mata milik Allah); 5) Karena Allah Swt. telah membebaskannya dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab (al-jabâbirah); 6) Karena Allah akan membebaskan orang-orang yang thawaf di sekeliling Ka’bah dari dosa-dosanya. Semua pendapat tersebut dapat diterima.

Ada dua pandangan tentang maksud al-bait al-‘atîq (اَلْبَيْتُ الْعَتِيْقُ) dalam S. Al-Hajj [22]: 33, yaitu Ka’bah dan seluruh tanah haram.

Kedua ayat yang di dalamnya terdapat kata al-‘atîq (اَلْعَتِيْقُ) berbicara dalam konteks ibadah haji. Salah satu ritual dari manasik haji adalah thawaf di sekeliling al-bait al-‘atîq (Ka’bah).

Referensi.

Ensiklopedia Al-Qur’an kajian kosakata, h.36