As(h)li

0
488 views
Bukan Suku Asli

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Mengejar keaslian seperti mengekori bayang-bayang. Tidak pernah jauh, namun begitu sulit direngkuh. Mengapa demikian? Mungkin karena keaslian mengharuskan klaim ketakberubahan. Ketakberubahan yang dimaksud di sini adalah ketakberubahan di masa lalu dan ketakberubahan di masa datang. Dan bukankah itu mustahil?

Katakanlah seperti ini, kita menganggap keaslian itu ada karena kita mempunyai masa lalu yang sama dan tidak berubah hingga saat ini. Masa lalu itu seumpama nenek moyang yang berjenis ‘A’ yang tinggal di wilayah ‘A’ dan lalu ‘A’ itu berlangsung hingga detik ini. Mungkinkah? Tidak adakah kemungkinan si ‘A’ itu menjalin hubungan dengan si ‘B’ lalu melahirkan sintesa ‘AB’ atau ‘BA’ dan menetap di wilayah ‘B’ dan meninggalkan wilayah ‘A’?

Lalu katakanlah keaslian itu ada karena kita mempunyai masa datang yang sama dan tidak berubah sejak masa lalu. Masa depan itu seumpama generasi kesekian yang berjenis ‘A’ yang tinggal di wilayah ‘A’ dan demikianlah selalu terjaga hingga di masa datang. Mungkinkah? Adakah jaminan di masa datang si ‘A’ tidak menjalin hubungan dengan si ‘B’ lalu melahirkan sintesa ‘AB’ atau ‘BA’ dan meninggalkan wilayah ‘A’ dan menetap di wilayah ‘C’?

Gambaran masa lalu seperti di atas tidak sebagaimana terjadi dalam sejarah. Sejarah mencatat kita adalah makhluk yang menggemari dan selalu penasaran kepada perbedaan lalu mencicipinya. Masa lalu kita penuh saling silang sengkarut serta tumpukan perbedaan yang saling memaklumi lalu bersedia hidup bersama.

Jika masa lalu seperti itu, maka hampir bisa dipastikan masa depan pun demikian adanya. Masa depan bukan lagi tumpukan perbedaan semata tetapi lebih merupakan perpaduan satu sintesa dengan sintesa lainnya.

Lalu di manakah keaslian? Barangkali perubahan itulah keaslian kita. Masa lalu di luar kuasa kita. Masa depan di luar kendali kita. Bagaimana dengan masa kini? Banyak yang menganggap hanya masa kini lah yang ada dalam genggaman. Tapi tidak sedikit yang meragukannya. Bukankah yang kita sebut masa kini itu sesungguhnya tidak ada? Karena setiap kita berhasil berkata “masa kini”, maka di seperseribu detik kemudian “masa kini” itu sudah menjadi masa lalu.

Jika masa lalu di luar kuasa, masa depan di luar kendali, dan masa kini hanya ilusi, lalu di mana keaslian itu bertahta?

Perubahan itu berarti pergerakan dan seperti itulah bayang-bayang keaslian. Dia selalu bergerak, bahkan semakin cepat jika mengejarnya. Bayang-bayang tidak perlu direngkuh. Toh, dia tidak pernah jauh.[]

BAGI
Artikel SebelumnyaSumpah
Artikel BerikutnyaTakdir Ini