Arus Balik Hawa Nafsu

0
51 views

Mereka yang merasa empunya kota-kota besar, semisal Jakarta, akan terjangkit kepanikan tahunan bernama “arus balik”. Betapa tidak, diperkirakan setiap jiwa yang mudik rata-rata akan mengajak tiga jiwa lainnya ke kota.

Ibarat tsunami, air laut yang tumpah ke darat berlipat ganda jumlahnya dibandingkan dengan air yang surut ke laut beberapa saat sebelumnya. Lalu, problema khas urbanisasi semakin memanjang tak berujung. Bisa dimaklumi jika beberapa kepala daerah kota melarang orang “udik” ke kota, meskipun tanpa jelas mekanisme pelarangannya.

Bukan hanya para kepala daerah yang perlu menyikapi fenomena arus balik. Siapa sangka, ternyata orang-orang yang berpuasa (shaa’imuun) pada bulan Ramadhan pun perlu mengkhawatirkan fenomena “arus balik” ini. Jika Ramadhan adalah bulan penyucian diri, maka diasumsikan sebelum Ramadhan ada banyak dosa yang tercipta. Jika Ramadhan memasung hawa nafsu, maka pasca-Ramadhan adalah masa hawa menggeliat dan kembali bergelora.

Kita tentu masih ingat bagaimana hari-hari Ramadhan penuh dengan upaya penundukan hawa nafsu. Setiap waktu berbuka tiba, hawa nafsu berusaha mengaburkan batas antara kebutuhan dan keinginan. Hawa nafsu seperti ingin menghabiskan seluruh isi meja makan tanpa kecuali. Tapi ternyata kebutuhan tidak segagah itu. Ini secuil contoh arus balik hawa nafsu.

Pasca-Ramadhan adalah masa arus balik bagi hawa nafsu yang pada hari-hari Ramadhan telah berhasil dikemudikan di bawah kendali akal dan ruh.

Kita tidak bisa bertindak seperti para kepala daerah yang sekadar melarang pendatang baru masuk kota dan hanya melarang. Untuk urusan hawa nafsu, harus ada mekanisme pelarangan yang jelas karena hawa nafsu bisa datang kapan, di mana, bagaimana saja yang dia mau.

Tentang hawa nafsu, Bakharzi berkata (sebagaimana dikutip oleh Syekh Ragib al-Jerahi):

Nafsu bagaikan nyala api

baik keindahannya yang tampak

maupun kekuatan-merusaknya yang tersembunyi

Walau warnanya menarik hati, ia membakar diri

Karena itu, waspadai arus balik hawa nafsu!