Arbain dan Shalat Berjamaah

0
14 views

liputan-kota.comSecara harfiyah arbain artinya empat puluh. Yang dimaksud adalah melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah sebanyak empat puluh waktu di masjid Nabawi, Madinah. Sebenarnya shalat empat puluh waktu di masjid Nabawi bahkan berziarah atau berkunjung ke Madinah tidak menjadi bagian dari rangkaian ibadah haji yang mesti dilaksanakan, namun bila kaum muslimin sudah tiba di Makkah rasanya tidak lengkap bila tidak berziarah ke Madinah, karena dalam pertumbuhan dan perkembangan Islam, Makkah dan Madinah merupakan dua kota penting yang tidak bisa dipisahkan. Karenanya, para jamaah haji, khususnya dari Indonesia mendapat kesempatan untuk berziarah ke Madinah selama delapan sampai sembilan hari sehingga bisa melaksanakan shalat berjamaah yang lima waktu sebanyak minimal empat puluh waktu.

Rasullah saw memang amat ditekankan oleh Malaikat Jibril as untuk melaksanakan shalat yang lima waktu secara berjamaah, beliau bersabda:

 

مَازَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِى بِالصَّلاَةِ فِى الْجَمَاعَةِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ لاَ يَقْبَلُ اللهُ تَعَالَى صَلاَةً إِلاَّ فِى الْجَمَاعَةِ

 

Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar aku melakukan shalat berjamaah sampai aku mengira Allah tidak akan menerima shalat kecuali dengan berjamaah. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah)

Karena setiap muslim amat ditekankan untuk melaksanakan shalat berjamaah, maka orang-orang munafik yang juga terpaksa harus menunjukkan keimanannya dihadapan orang-orang yang beriman dan salah satunya adalah melaksanakan shalat berjamaah, mereka merasa sangat berat untuk melaksanakan shalat berjamaah itu, karenanya harus kita waspadai dari diri kita jangan sampai ada rasa malas untuk shalat berjamaah di masjid, karena bila kita malas untuk melaksanakan shalat berjamaah, bisa jadi virus-virus kemunafikan telah merasuk ke dalam jiwa kita, Allah swt berfirman:

 

إِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ يُخَادِعُوْنَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوْا إِلَى الصَّلَوةِ قَامُوْا كُسَالَى يُرَاءُوْنَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلاَّ قَلِيْلاً

 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (QS An Nisa [4]:142).

Karena amat ditekankan, shalat berjamaah memiliki keutamaan yang jauh lebih baik daripada shalat sendirian, Rasulullah saw menjelaskan dalam haditsnya:

 

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

 

Shalat berjamaah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat (HR. Bukhari dan Muslim).

Disamping itu, semakin banyak orang yang melaksanakan shalat berjamaah semakin banyak pula pahalanya, karena hal itu lebih disukai oleh Allah swt yang tentu saja akan semakin banyak pahala yang diberikan-Nya, Rasulullah saw bersabda:

 

صَلاَةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ وَحْدَهُ وَصَلاَتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْن أَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَانَ أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ تَعَالَى

 

Shalat seseorang dengan orang lain adalah lebih baik daripada shalatnya sendirian, shalatnya dengan dua orang lebih baik dari shalatnya berdua dan mana yang lebih banyak itulah yang lebih disukai Allah Ta’ala (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).  

Dalam konteks shalat berjamaah yang disebut dengan arbain, shalat berjamaah di masjid Nabawi memang memberi nilai keutamaan yang sangat besar dan nilai keutamaan ini lebih besar lagi bila kita melaksanakannya di Masjidilharam, Rasulullah saw bersabda:

 

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيْمَا سِوَاهُ مِنَ الْمَسَاجِدِ إِلاَّ الْمَسْجِدِ الْحَرَامَ وَ صَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةٍ فِى مَسْجِدِى هَذَا بِمِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ

 

Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid-masjid lainnya, kecuali masjidilharam, dan shalat di masjidilharam itu lebih utama daripada shalat di masjidku ini dengan seratus ribu shalat (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Ini merupakan keutamaan yang membuat seharusnya kita termotivasi untuk rajin dan secara serius melaksanakan shalat berjamaah yang lima waktu di masjid Nabawi dan Masjidilharam, namun keutamaan tentang ini harus kita dudukkan sebagai keutamaan, karena sebesar dan setinggi-tingginya keutamaan tidaklah membuat kewajiban yang harus kita tunaikan menjadi gugur. Karenanya jangan sampai karena kita sudah banyak melaksanakan shalat berjamaah di masjid Nabawi dan Masjid Al Haram membuat kita merasa tidak perlu shalat lagi di kampung halaman kita hanya karena merasa sudah mendapatkan keutamaan yang berlipat seribu sampai seratus ribu kali shalat di Tanah Suci.

Oleh karena itu, nilai atau hikmah yang harus kita tunjukkan sesudah kita menunaikan haji dan umrah adalah rajin shalat berjamaah di masjid, khususnya bagi jamaah pria karena memang amat ditekankan untuk melaksanakannya, kita jangan hanya bisa bercerita betapa di Makkah dan Madinah bila azan sudah bergema dari masjid, semua orang segera bergegas menuju masjid, bahkan toko ditinggal begitu saja tanpa khawatir ada yang mencuri. Bila seseorang sudah berhaji tapi ternyata masih malas shalat berjamaah ke masjid, maka ia tidak bisa menunjukkan salah aspek kemabruran dari hajinya itu.